nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Bantuan Sosial Via Bank, Dorong Kenaikan Indeks Keuangan Inklusif

Giri Hartomo, Jurnalis · Kamis 24 Agustus 2017 17:43 WIB
https: img-z.okeinfo.net content 2017 08 24 320 1762413 bantuan-sosial-via-bank-dorong-kenaikan-indeks-keuangan-inklusif-Cfi9CVpFf6.jpg Foto: Giri Hartomo/Okezone

JAKARTA - Pemerintah melalui Kementerian Sosial telah memutuskan agar penyaluran bantuan sosial (Bansos) bisa melalui account bank. Pasalnya dengan teknologi dan metode itu, diprediksi bisa menghasilkan banyak manfaat baik dari sisi pemerintah maupun masyarakat penerimaannya.

Sekertaris Jenderal Kementerian Sosial Harry Z Soeratin mengatakan bantuan sosial non-tunai melalui akun bang bisa mendorong percepatan kenaikan indeks keuangan inklusif. Karena selama ini masyarakat berpenghasilan rendah yang selama ini belum terakses perbankan

Baca juga: Salurkan Bansos via Bank, Faktor Keamanan Jadi Alasan Utama

"Bantuan sosial non tunai secara efektif mendorong percepatan kenaikan indeks keuangan inklusi, untuk mendukung strategi nasional yang telah dicanangkan bapak presiden tahun lalu yaitu tercapainya indeks keuangan inklusif hingga 75% di tahun 2019, dari 36% saat ini," ujarnya saat ditemui di Hotel Pullman Jakarta, Kamis (24/8/2017).

Baca juga: Gunakan Teknologi, Penyaluran Bansos Bakal Lebih Cepat!

"Dengan mekanisme penyaluran non tunai, melalui perbankan secara otomatis mereka akan mendapatkan rekening bank dan terhubung dengan layanan bank Jika di antara penerima bantuan sosial ini ingin membuka usaha kecil di desanya misalnya, mereka dapat meminta kredit/pinjaman mikro dari bank dan tidak perlu meminjam uang dari lintah darat yang mengenakan bunga tinggi," imbuhnya.

Baca juga: Canggih! Penyaluran Bansos Dilakukan Melalui Account Bank

Menurut Harry, akses keuangan Indonesia saat ini masih sangat jauh lebih rendah dari sejumlah negara tetangga lainnya. Akses keuangan di Malaysia saat ini sudah mencapai 81% , Thailand 78%, dan India 53%.

"Akses keuangan kita saat ini jauh lebih rendah dari sejumlah negara tetangga kita, Malaysia 81%, Thailand 78%, India 53%," jelasnya.

(rzk)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini