Image

Penting! Sadar Finansial agar Bahagia di Masa Tua

Koran SINDO, Jurnalis · Minggu 27 Agustus 2017, 11:25 WIB
https img z okeinfo net content 2017 08 27 320 1763954 penting sadar finansial agar bahagia di masa tua d7tLMpoyic jpg (Ilustrasi: Shutterstock)

JAKARTA – Memasuki masa pensiun bagi sebagian orang merupakan hal yang menakutkan. Survei Badan Pusat Statistik (BPS) menyatakan orang tua (usia pensiun) memiliki indeks kebahagiaan lebih rendah dari pada anak muda yang berusia 25-40 tahun.

Agar masa tua tetap bahagia, kiranya perlu persiapan, terutama dari segi finansial. Muhammad Usman, 65, terlihat sedang asyik menyiram bunga di halaman rumahnya yang cukup luas di kawasan Ragunan, JakartaSelatan. Pada halwaktu sudah menun juk kan pukul 07.25 WIB. Bagi pekerja kantoran, jam demi kian merupakan waktu untuk meninggalkan rumah menuju tempat kerja.

Ya, sejak beberapa tahun terakhir Usman telah memasuki usia pensiun. Dia mengaku telah jauh hari mempersiapkan dana pensiun secara mandiri pada instrumen investasi deposito di bank BUMN. Kendati jumlah yang diperoleh tidak sebanyak perolehan bulanan ketika masih aktif bekerja, jumlahnya cukup untuk menutupi kebutuhan sehari-hari dirinya dan istri.

“Kebetulan pembayaran listrik rumah dan PAM ditanggung anak. Jadi saya tetap bahagia dengan situasi ini,” papar dia.

M Yamin, 61, juga mengaku bahagia kendati di usia senjanya harus terus bekerja menjadi sopir di sebuah perusahaan roti Jakarta. Hal itu dilakukan untuk membayar berbagai tagihan, seperti listrik, air dan telepon serta berbagai kebutuhan sehari-hari. Sementara pemberian bulanan dari anak-anaknya ternyata belum cukup untuk me menuhinya.

Dengan situasi dan kondisi masing-masing, Usman dan Yamin mengaku bahagia. Tapi apa sebenarnya bahagia itu? Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), bahagia merupakan keadaan atau perasaan senang dan tenteram. Untuk mengukur rasa bahagia, BPS meng guna kan dimensi kepuasan hidup, dimensi perasaan, dan dimensi makna hidup.

Pada rilis Indeks Kebahagiaan BPS, menunjukkan indeks kebahagiaan ma nusian Indonesia cenderung menurun seiring ber tambah nya umur. Dalam hasil survei BPS tersebut dipaparkan bahwa anak-anak muda di bawah 24 tahun dinilai lebih bahagia daripada orang dewasa dan lanjut usia. Indeks Kebahagiaan orang di bawah 24 tahun mencapai 71,29 disusul yang berusia 25-40 tahun skornya 71,13, usia 41-64 tahun memiliki skor 70,69, dan mereka yang berusia di atas 65 tahun hanya 69,18.

“Paling mengkhawatirkan setelah umur 65 tahun. Dilihat dari personalnya, pendapatan atau tunjangan meng alami penurunan. Walaupun memang harus diakui setelah pensiun kehidupan sosial meningkat akibat rajin ibadah atau ketetangga. Tapi, secara umum, semakin berumur semakin kurang bahagia,” papar Kepala BPS Suharyanto di kantornya belum lama ini.

Perencana Keuangan Oneshildt Financial Planning Risza Bambang mengatakan, indeks kebahagiaan orang tua yang lebih rendah bila dibandingkan dengan anak muda di karenakan banyak dari mereka yang belum menyadari kehidupan setelah tidak bekerja lagi itumasih panjang, apalagi bila masih mempunyai tanggungan keluarga.

Banyak orang yang masa produktifnya bisa mencukupi kebutuhan hidupnya dengan baik, tetapi setelah pensiun tergantung kepada orang lain karena tidak me miliki penghasilan, tabungan, investasi maupun jaminan pensiun. Menurut Risza, idealnya, pada masa aktif bekerja sekitar usia 22 hingga 58 tahun, selain mencukupi kebutuhan hidup, seseorang juga perlu menyiapkan tabungan untuk masa setelah tidak aktif bekerja atau pensiun hingga meninggal dunia.

Apalagi biasanya, setelah pensiun, ada biaya yang cenderung meningkat seperti kesehatan.“Mungkin itulah alasan mengapa semakin tua usia, kebahagiaannya berkurang,” tutur dia. Oleh karena itu, lanjut dia, masyarakat Indonesia harus diberi kesadaran sejak muda untuk mempersiapkan berbagai risiko di hari tua. Sejak usia produktif perlu menghitung berapa sebenarnya pendapatan pensiun yang layak dan perkiraan kebutuhan biaya yang harus dikeluarkan setiap bulannya.

Reza menilai, sangat penting mengetahui besarnya uang simpanan yang harus di miliki pada saat merencanakan persiapan pensiun. Hal ini untuk membantu masyarakat berkomit menmenyisihkan besaran dana untuk tabungan dan investasi di masa pensiun.

Salah satu syarat prinsip untuk membangun kesejahteraan di hari tua andalah mempunyai komitmen dan kemampuan menyiapkan kebutuhan dana untuk masa pensiun Kecuali, menurut dia, Indonesia mau mencontoh apa yang telah dilakukan Singapura, yakni memberikan ke sem patan bekerja bagi lansia di bidang tertentu. “Kita bisa banyak melihat orang tua bekerja di foodcourt dan mal di Singapura.

Mereka bertugas mengelap meja dan menyapu,” ucap dia. Sementara itu Direktur Eksekutif Asosiasi Asuransi Jiwa Indonesia (AAJI) Togar Pasaribu mengatakan, sebagi an masyarakat Indonesia ba nyak yang belum menyadari pentingnya mempersiapkan diri menghadapi pensiun. “Kalau pun mereka sadar. Biasanya sudah mau pensiun sehingga preminya agak mahal,” tutur dia.

Menurut Togar, salah satu penyebabnya adalah budaya yang berkembang di masyarakat di mana setelah pensiun orang tua cenderung menggantungkan diri kepada anak-anak. Pada hal di era yang semakin kompetitif seperti sekarang ini, terkadang anak harus berada di situasi yang sangat riskan. Hal itu mengakibatkan berkurangnya kemampuan membantu orang tua.

Dia menceritakan, saat bertugas di Bali, dirinya kerap berjumpa dengan rombongan turis lansia. Ternyata hampir sebagian besar waktunya selama setahun dipergunakan untuk mengunjungi beberapa negara. Turis-turis tersebut menggunakan uang tabungannya untuk berjalan-jalan seraya menikmati hari tua. Ketua Umum Asosiasi Dana Pensiun Indonesia (ADPI) Suheri mengatakan, berdasarkan survei yang dilakukan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) pada awal 2013, tingkat pemahaman masyarakat Indonesia terhadap dana pensiun baru 2,8%, sedangkan tingkat kepesertaannya hanya 1,8%.

Peserta dana pensiun di Indonesia hanya membayar iuran untuk dana pensiun rata-rata sekitar 3% dari penghasilannya. Lebih kecil jika dibandingkan dengan Malaysia yang se besar 12%. Oleh karena itu kesejahteraan para pensiunan di Indonesia lebih rendah dari pada di Malaysia ataupun negara lain yang masyarakatnya sudah lebih sadar terhadap tabungan untuk pensiun.

Kepala Divisi Komunikasi BPJS Ketenagakerjaan Irvansyah Utoh Banja menambahkan, hasil survei BPS tersebut seharusnya menyadarkan masyarakat atas pentingnya merencanakan kesejahteraan pada hari tua. BPJS Ketenagakerjaan ini selalu melakukan sosialisasi dan edukasi kepada seluruh masyarakat pekerja, khususnya yang terkait dengan pentingnya mempersiapkan hari tua.

“Dengan meng – ikuti dua perlindungan dasa yang diselenggarakan BPJS Ke tenagakerjaan, yaitu Jaminan Hari Tua (JHT) dan Jaminan Pensiun (JP),” terang dia dalam pesan pendeknya. Lantas seperti apa kebijakan pemerintah terhadap warga lanjut usia? Deputi Bidang Koordinasi Penanggulangan Kemiskinan dan Perlindungan Sosial Kemenko PMK, Tb Achmad Choesni, mengatakan, pemerintah ingin agar warga lansia juga turut merasakan kehadiran negara seperti yang selama menjadi tekad pemerintah.

Lebih lanjut, Choesni mengungkapkan jumlah Lansia di Indonesia terus meningkat, dari 4,9% atau sekitar 11.878.236 jiwa di 2010 men jadi 10,8% atau sekitar 32.112.361 jiwa di 2035 nanti. Transisi kependudukan menunjukkan jumlah warga lansia akan mengalami puncaknya di Indonesia dalam waktu 25 tahun ke depan.

Saat ini Indonesia tercatat masuk ke dalam lima negara dengan jumlah penduduk terbesar dan ketiga terbesar dalam jumlah lansia di dunia. Meningkatnya jumlah lansia tentu tidak terlepas dari kesuksesan Program Keluarga Berencana (KB) yang sejak lama dicanangkan pemerintah, begitu juga dengan semakin meningkatnya usia harapan hidup.

Namun sebaliknya, tambah Choesni, Indonesia juga tengah menghadapi beberapa tantangan yang harus segera ditangani mengenai masalah lansia ini seperti masalah kesehatan lansia yang diperkirakan dapat menjadi beban tersendiri bagi ongkos perawatan dan pengobatan, kemajuan ekonomi yang harus mampu mengimbangi pertumbuhan jumlah lansia yang kian pesat, angka buta huruf yang masih tinggi di kalangan lansia dan masalah angkatan kerja lansia.

“Kebijakan yang dibuat Pemerintah Indonesia tidak hanya fokus pada masalah kelanjut usiaan, tetapi harus berdasar kan pada siklus kehidupan dengan tujuan agar setiap generasi yang ada dapat menyiapkan diri jauh hari sebelum mereka memasuki masa lanjut usia,” tutur Choesni.

(wdi)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini