Revaluasi Aset Negara, Sri Mulyani: Kita Enggak Akan Lakukan Spekulasi Target

Giri Hartomo, Jurnalis · Selasa 29 Agustus 2017 14:40 WIB
https: img.okezone.com content 2017 08 29 20 1765353 revaluasi-aset-negara-sri-mulyani-kita-enggak-akan-lakukan-spekulasi-target-unfhIhZVbG.jpg Foto: Giri Hartomo/Okezone

JAKARTA - Pemerintah melalui Kementerian Keuangan tengah berupaya untuk memperbaiki neraca negara. Salah satu caranya adalah dengan melakukan Revaluasi atau penilaian kembali nilai aset-aset Barang Milik Negara (BMN).

Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mengatakan pihaknya tidak ingin berspekulasi mengenai potensi nilai yang akan terkumpul dari Revaluasi tersebut. Dirinya lebih memilih untuk mengetahui hasilnya ketika proses Revaluasi berakhir yakni pada tahun 2018 mendatang.

Baca juga: Revaluasi Aset Negara, Sri Mulyani: Saat Ini Sudah Mencapai Rp4.799 Triliun

"Kita enggak akan lakukan spekulasi mengenai berapa nilainya, nanti kita akan kita ketahui pada tahun 2018," ujarnya saat ditemui di Kantor Kementerian Keuangan, Jakarta, Selasa (29/8/2017).

Sri Mulyani melanjutkan, alasan mengapa dirinya enggan berspekulasi adalah karena dirinya memiliki metode dan teknik tersendiri dalam menilai. Oleh karenanya dirinya harus terlebih dahulu melakukan ujicoba tes melalui metode dan teknik tersebut baru bisa diketahui hasilnya.

Baca juga: Lakukan Revaluasi Aset, Kemenkeu: Agar Nilai Barang Milik Negara Lebih Update

"Karena akan ada teknik untuk menilainya, misalnya kaya tanah berdasarkan lokasi kemudia gedung ini sesudah dibersihkan dari amortisasi, deoresiasi dan juga tentang tanah yang digunakan untuk infrasturktur. Jadi nanti kita akan ketahui tahun 2018," jelasnya

Menurutnya Ani sapaan akrab Sri Mulyani, target bukanlah menjadi hak terpenting dalam proses Revaluasi ini. Dimana yang terpenting dari Revaluasi ini adalah bagaimana kredibilitas dan metodenya.

Baca juga: Aset Negara Capai Rp2.188 Triliun, Sri Mulyani Isyaratkan Hitung Ulang

"Jadi tidak ada proyeksi hari ini dan tidak ada target harus menjadi berapa yang paling penting adalah kredibilitas dan metodenya. Metodenya harus compareable dengan negara-negara lain yang telah melakukan revaluasi sehingga dia bisa di jamin dari sisi akurasinya," imbuhnya.

(rzk)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini