Image

Simak! LPS Lunasi Klaim 67 Bank yang Dilikuidasi

Ulfa Arieza, Jurnalis · Kamis 14 September 2017, 18:40 WIB
https: img.okeinfo.net content 2017 09 14 320 1776059 simak-lps-lunasi-klaim-67-bank-yang-dilikuidasi-0mi42fZVA8.jpg Ilustrasi: (Foto: Shutterstock)

JAKARTA - Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) mengungkapkan telah membayar klaim dari 67 bank yang telah dicabut izinnya atau dilikuidasi. Total ada 81 bank yang telah dilikudasi hingga akhir Agustus 2017. 

Baca juga: LPS Tahan Suku Bunga Penjaminan di 6,25%

Direktur Eksekutif Riset, Surveillance, dan Pemeriksaan LPS, Didik Madiyono, mengatakan, simpanan layak bayar dari nasabah tersebut totalnya mencapai Rp1,209 triliun. Namun, setelah melakukan perhitungan LPS hanya membayar Rp958,49 miliar. 

"Untuk simpanan layak bayar Rp1.209 triliun dalam 156.142 rekening, dengan rincian Bank Umum Rp186 miliar dan BPR Rp1.023 triliun," terangnya di Kantor LPS, Kamis (14/9/2017). 

Baca juga: Aset LPS Tembus Rp79,3 Triliun, Naik 8,68%

Dari total 81 bank yang dilikuidasi terdiri dari bank umum dan Bank Perkreditan Rakyat (BPR). Sebanyak 75 bank merupakan BPR, sedangkan sisanya adalah bank umum. Sedangkan dari total 81 bank, sebanyak 67 bank telah selesai proses likuidasinya,  terdiri dari satu bank umum, dan 66 BPR. 

Sebagai tambahan, Direktur Grup Litigasi LPS Arie Budiman mengatakan, sampai akhir 2016 jumlah BPR yang ditutup kemudian diambil alih LPS mencapai 20 bank. Angka tersebut tertinggi secara nasional, dibanding provinsi lainnya di Indonesia.

Baca juga: Naik 2,8%, Jumlah Rekening yang Dijamin LPS Capai 212,68 Juta

"18 BPR sudah selesai dilikuidasi, sisanya dua BPR masih dalam proses penyelesaian. Karena memang perlu waktu sampai empat tahun untuk menyelesaikan proses likuidasi," kata dia pada media workshop di Hotel Savoyy Homan Bidakara, Bandung.

Menurutnya, 2 BPR yang saat ini masih dalam proses penutupan berada di Bandung dan Karawang. Namun Arie enggan menyebut BPR apa yang saat ini dalam proses likuidasi. LPS memiliki waktu hingga empat tahun untuk menyelesaikan proses likuidasi BPR.

Penutupan BPR oleh otoritas terkait 80% disebabkan kurangnya prinsip kehati-hatian. Misalnya, pemberian kredit secara jor-joran tanpa mempertimbangkan kualitas calon debitur, kredit fiktif, gratifikasi, dan lainnya.

(kmj)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini