nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Kembangkan IKEA hingga Giant, Hero Rogoh Rp302 Miliar di Semester I-2017

Trio Hamdani, Jurnalis · Jum'at 15 September 2017 18:15 WIB
https: img-o.okeinfo.net content 2017 09 15 278 1776817 kembangkan-ikea-hingga-giant-hero-rogoh-rp302-miliar-di-semester-i-2017-3WUHFpG4Vf.jpg Foto: Trio/Okezone

JAKARTA - PT Hero Supermarket Tbk (HERO) pada semester I-2017 menginvestasikan dana sebesar Rp302 miliar untuk mengembangkan toko dari sejumlah brand miliknya. Antara lain Hero Supermarket, Guardian, Giant, dan IKEA.

"Kita terus ekspansi buka toko baru. Tahun ini investasi toko baru Rp302 miliar," kata Presiden Direktur HERO, Stephane Deutsch dalam paparan publik di Jakarta, Jumat (14/9/2017).

Baca Juga: Hero: Kami Tidak Ada Rencana Tutup Toko Besar-besaran Tahun Ini

Dana yang diinvestasikan perseroan untuk mengembangkan toko-toko baru miliknya itu lebih besar ketimbang semester yang sama pada tahun lalu yang sebesar Rp212 miliar menjadi Rp302 miliar. "Di mana 41% untuk relokasi toko, 27% untuk toko-toko baru, 12% untuk peremajaan toko yang ada," jelasnya.

Perseroan juga tengah membuka toko dengan brand baru. Kata dia toko tersebut dinamakan Giant Mart. Sebelumnya diperkirakan bahwa Giant Mart merupakan toko ritel serupa dengan Alfamart dan Indomaret. Namun pihaknya menegaskan bukan seperti itu.

"Kami sebagai perusahaan miliki berbagai macam format. Ini adalah salah satu bentuk untuk coba format-format baru. Benar kami telah buka brand baru Giant Mart dan sebagai informasi ini bukan minimart, ini konsep baru," ujarnya.

Dia memaparkan secara rinci terkait pengembangan toko-toko yang menelan investasi mencapai ratusan miliar itu. Antaranya, dua hypermarket Giant Ekstra, di Manado dan Malang, serta Hero Supermarket di Bandung dengan konsep baru.

Baca Juga: Tak Bagi Dividen, Hero Supermarket Rombak Jajaran Direksi

Untuk brand Guardian, pihaknya telah membuka 14 toko baru termasuk toko di Bandara Internasional Ngurah Rai, Denpasar Bali. Sementara IKEA tengah memperluas cakupan fungsionalitas penjualan online dengan membuka IKEA Distribution Point di Bogor dan IKEA Online Point di Bintaro.

HERO mengaku menantangnya pasar ritel di Indonesia membuat penurunan penjualan makanan (food). Penurunan itu dikarenakan terjadi perubahan perilaku konsumen terhadap produk makanan (food).

"Di Hero ada food dan nonfood. Untuk food, lebih berat. Namun karena untuk food kita ada store operationalization. Itu berpengaruh. Untuk bisnis food ada perubahan behavior konsumen," kata Stephane.

Guna mengantisipasi menurunnya penjualan di sektor makanan, kata dia perseroan berupaya melakukan inovasi dan efisiensi agar keuangan perseroan tetap terjaga kesehatannya.

"Untuk itu kami berikan format (pada toko) yang lebih pas bagi konsumen. Kami hati-hati dalam promosi. Dari sisi operasional sejak beberapa tahun terakhir kami ada energy saving program sehingga operasional menurun," lanjutnya.

Baca Juga: Jajaran Direksi HERO Dirombak, Tak Berkaitan dengan Ketiadaan Dividen

Adapun, pada semester I-2017 HERO mencatatkan penurunan penjualan 3,8% dari Rp7,2 triliun menjadi Rp6,9 triliun. Untuk penurunan produk makanan sebesar 6,2%. Sementara untuk penjualan produk nonfood mengalami kenaikan 12,2%. Meski penjualan produk food menurun, tapi dia masih mendominasi.

"Sampai akhir Juni penjualan produk food itu porsinya 85% dari total keseluruhan," paparnya.

Guna menyehatkan kondisi keuangan, perseroan juga menekankan efisiensi.  Beban pokok penjualan turun dari Rp5,4 triliun menjadi Rp5,1 triliun. Kemudian untuk biaya keuangan juga turun 77,38% dari Rp8,7 miliar menjadi Rp1,9 miliar.

Imbasnya, semester I-2017 HERO mencatatkan perolehan laba bersih sebesar Rp71,38 miliar, meningkat sebesar 258,6% dibandingkan perolehan laba bersih pada semester I-2016 yang sebesar Rp19,9 miliar.

(kmj)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini