Share

Biaya Isi Ulang Uang Elektronik Maksimal Rp1.500, BNI Siap Ikuti Aturannya

Feby Novalius, Okezone · Jum'at 22 September 2017 12:11 WIB
https: img.okezone.com content 2017 09 22 320 1780769 biaya-isi-ulang-uang-elektronik-maksimal-rp1-500-bni-siap-ikuti-aturannya-yhIScgTkEs.jpg Ilustrasi: (Foto: Okezone)

JAKARTA - Bank Indonesia (BI) telah menerbitkan Peraturan Bank Indonesia Nomor 19/8/PBI/2017 tentang Gerbang Pembayaran Nasional (National Payment Getway). Aturan ini menetapkan mengenai biaya pengisian ulang (top up) uang elektronik atau sering disebut e-money.

Ada dua cara pengisian saldo uang elektronik yang ditetapkan aturannya. Pertama dengan cara off us atau lintas kanal pembayaran dikenakan Rp1.500 dan cara on us atau satu kanal, di mana pada pengisian ulang sebesar Rp200.000 tidak kena biaya (gratis) sedangkan transaksi di atas nilai tersebut dikenakan biaya maksimal Rp750.

Baca Juga: Perbanas Pertanyakan Wacana Pemungutan Biaya Isi Ulang Uang Elektronik

Menanggapi aturan ini, Direktur Utama PT Bank Negara Indonesia (Persero) Ahmad Baiquni mengatakan, perseroan akan mengikuti aturan yang sudah diterbitkan regulator.

"Regulator clear dibedakan antara top up on us dan top up off us. On us dibagi dua, top up di bawah Rp200.000 free. Di atas itu diperkenankan membebani biaya maksimum Rp750, tergantung masing-masing kebijakan bank," ujarnya, di Jakarta Convention Center (JCC), Jakarta, Jumat (22/9/2017).

Baca Juga: Bank BUMN Kompak Tolak Aturan Biaya Isi Ulang Uang Elektronik

Sementara untuk pengisian ulang menggunakan cara on us, Baiquni mengatakan, pihaknya akan melakukan negosiasi dengan merchant-merchant seperti apa pengenaan biayanya.

"Pungutan ini bukan untuk kami, tapi untuk merchant. Tentunya ini akan kami renegosiasikan," tandasnya.

Sebelumnya, Ketua Umum Himbara Maryono mengatakan, bahwa bank yang tergabung dalam Himbara antaranya Bank Tabungan Negara (BTN), Bank Rakyat Indonesia (BRI), Bank Negara Indonesia (BNI) serta Bank Mandiri, tak menutup kemungkinan untuk membebaskan biaya top up uang elektronik antar bank-bank tersebut.

"Ada kemungkinan tapi tetap menunggu kesepakatan," ujarnya.

(kmj)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini