nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Fokus Bebaskan Lahan, China Pede Kereta Cepat Jakarta-Bandung Sesuai Jadwal

ant, Jurnalis · Sabtu 23 September 2017 19:45 WIB
https: img-z.okeinfo.net content 2017 09 23 320 1781665 fokus-bebaskan-lahan-china-pede-kereta-cepat-jakarta-bandung-sesuai-jadwal-CEcOUCATl9.jpg Ilustrasi Kereta Cepat. (Foto: ANT)

BEIJING - China Railway Group Limited (CREC) yakin pembangunan proyek infrastruktur kereta api cepat Jakarta-Bandung akan selesai sesuai jadwal pada akhir 2019, meskipun hingga kini masih berada pada tahap pembebasan lahan.

"Proyeknya terus berjalan sesuai jadwal dan sesuai harapan pemerintah kedua negara. Tahun ini kami memang fokus pada pembebasan lahan sebagai tahap persiapan konstruksi," kata Direktur Departemen Bisnis Asia CREC Li Jianping saat menerima kunjungan wartawan dari negara-negara ASEAN di Beijing.

Baca Juga: Menhub Bakal Bahas Proyek Kereta Cepat Jakarta-Surabaya dengan 51 Negara

Sebelumnya, Wakil Presiden Jusuf Kalla mendorong badan usaha milik negara di Indonesia dan China yang tergabung dalam konsorsium PT Kereta Api Cepat Indonesia China (KCIC) agar segera menuntaskan hambatan pembebasan lahan agar pembangunan proyek senilai USD6,07 miliar itu dapat segera dilaksanakan.

"Pembebasan lahan itu masalah pokok, tinggal masalah berapa kilometer sehingga itu bisa dimulai," tutur Wapres akhir Agustus lalu.

Sementara menurut Jianping, pemerintah Indonesia pun telah berperan lebih aktif untuk menyelesaikan isu yang kerap menjadi hambatan pembangunan infrastruktur di Tanah Air itu.

"Semua berjalan lancar, kami sudah melakukan banyak negosiasi dengan beragam detail yang didiskusikan baik pada level pemerintah maupun investor," kata dia.

Baca Juga: Tok! Lokasi Trase Stasiun Kereta Cepat Sudah Ditetapkan

Selain proyek kereta api cepat Jakarta-Bandung, CREC juga sedang menjajaki dua proyek pembangunan infrastuktur kereta api untuk menghubungkan area tambang batu bara dan pelabuhan.

Kerja sama bisnis untuk dua proyek yang berada di Kalimantan Tengah dan Sumatera Selatan itu masih menginjak tahap negosiasi meskipun inisiatifnya telah dimulai sekitar enam hingga delapan tahun lalu.

"Kendalanya terletak pada data volume reserve perusahaan tambang yang belum siap diperiksa oleh auditor. Kami perlu memastikan hal tersebut sebelum melanjutkan ke proses penentuan model bisnis," kata Jianping.

(mrt)

Loading...

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini