Wah, Kepemilikan Asing di Surat Utang Negara Naik 5,15%

Agregasi Harian Neraca, Jurnalis · Senin 02 Oktober 2017 15:50 WIB
https: img.okezone.com content 2017 10 02 320 1787099 wah-kepemilikan-asing-di-surat-utang-negara-naik-5-15-vVqvvQSw4W.jpg Ilustrasi. (Foto: Shutterstock)

JAKARTA – Kepemilikan asing di surat berharga negara (SBN) sepanjang September 2017 terus meningkat. Hingga akhir pekan kemarin, kepemilikan asing di SBN naik 5,15% menjadi Rp826,27 triliun, sementara secara year to date tumbuh 24,09%.

Analis IBPA, Lili Indarli, mengatakan kepemilikan asing di SBN semakin besar ditunjukkan dari porsi asing yang sudah tembus 40,8%. Menurut Lili, derasnya aliran asing yang masuk ke pasar SBN tidak terlepas dari telah disandangnya peringkat investment grade saat ini dari tiga lembaga pemeringkat internasional.

Selain itu, Lili memperkirakan memang ada indikasi switch asing dari saham ke obligasi. Indikasi tersebut muncuk ditengah maraknya net sell asing di saham, sedangkan asing mencatatkan net buy di pasar obligasi.

Dalam waktu dekat, pasar obligasi sedang dibayangi penguatan dollar AS dan yield US Treasury mulai bergerak naik terpicu kebijakan pemangkasan pajak Donald Trump bagi perusahaan.

"Nada hawkish Yellen pun muncul terkait kenaikan Fed Funds Rate pada Desember mendatang dan mulai dikuranginya portofolio obligasi the Fed di bulan Oktober," kata Lili.

Namun, Lili memprediksikan, tren net buy asing berpotensi berlanjut di tengah stabilnya kondisi fundamental domestik. Asal tahu saja, pemerintah melalui Direktorat Jenderal Pengelolaan Pembiayaan Risiko (DJPPR) per 26 September sudah menerbitkan surat berharga negara (SBN) sebesar 82,93% dari rencana penerbitan SBN gross dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) Perubahan 2017 sebesar Rp712,9 triliun.

Direktur Jenderal Pengelolaan Pembiayaan Risiko, Robert Pakpahan pernah mengatakan, dengan demikian pemerintah memiliki sisa kebutuhan financing sekitar Rp120 triliun.”Kami masih ada sisa delapan lelang SBN konvensional dan syariah.

Dengan outlook defisit 2,67% dari PDB, sisa kebutuhan financing pemerintah masih sekitar Rp120 triliun penerbitan gross, Masih ada delapan lelang kami pikir masih cukup,”ujarnya.

Menurut Robert, delapan lelang tersebut terdiri dari empat lelang SUN dan empat kali lelang SBSN. Adapun, hari ini, pemerintah telah meluncurkan obligasi negara ritel dengan seri ORI014 yang diperkirakan bisa terjual Rp13,4 triliun. Catatan Robert, realisasi pendapatan negara sampai Agustus 2017 baru mencapai Rp972,9 triliun atau 56,1% dari target dalam APBNP yang sebesar 1.736,1 triliun.

Sementara, belanja negara sebesar Rp1.198,3 triliun atau 56,2% dari target Rp2.133,3 triliun. Dengan realisasi tersebut, maka defisit anggaran mencapai Rp224,4 triliun atau 1,65% dari Produk Domestik Bruto (PDB).

(mrt)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini