E-Commerce Merajalela, Bagaimana Masa Depan Pusat Perbelanjaan?

ant, Jurnalis · Rabu 11 Oktober 2017 13:56 WIB
https: img.okezone.com content 2017 10 11 470 1793247 e-commerce-merajalela-bagaimana-masa-depan-pusat-perbelanjaan-etwK8PUBNS.jpg Ilustrasi (Foto: Reuters)

JAKARTA - Konsultan properti Jones Lang LaSalle (JLL) menyatakan kinerja mal atau pusat perbelanjaan kelas atas meningkat tetapi hal yang berbeda terjadi pada kinerja mal kelas bawah yang dinilai relatif semakin tidak menarik bagi warga ibukota.

Destinasi mal primer mengalami okupansi tinggi dan "foot traffic" (jumlah pengunjung) yang menguat, kata Head of Research JLL Indonesia James Taylor di Jakarta, Rabu.

Menurut dia, mal premium relatif lebih memiliki gerai penjualan makan dan minuman yang lebih atraktif, begitu pula dengan gerai usaha jenis fesyen dan bidang hiburan, serta memiliki tingkat okupansi yang lebih tinggi.

Sedangkan untuk mal kelas bawah, lanjutnya, pada saat ini relatif mengalami kunjungan terbatas dan beberapa gerai tutup karena berubahnya preferensi konsumen, tingkat daya beli konsumen yang melemah, dan meningkatnya belanja online atau dalam jaringan.

Sebelumnya, konsultan properti Colliers International menyatakan transaksi yang dilakukan melalui perdagangan elektronik (e-commerce) berdampak kecil kepada kinerja mal karena hal tersebut lebih dipengaruhi kondisi daya beli masyarakat.

"Sebenarnya 'online shopping' tidak berpengaruh besar kepada kinerja pusat perbelanjaan," kata Senior Associate Director Research Colliers International Ferry Salanto di Jakarta, Selasa (3/10/2017).

Menurut dia, hanya sejumlah merek atau waralaba komoditas tertentu saja yang penjualannya memiliki ketergantungan dengan proses "e-commerce" atau transaksi melalui internet.

Ferry mengingatkan berdasarkan suatu kajian, bahwa hanya sekitar 1 persen dari pembelian yang dilakukan saat ini yang menggunakan proses melalui transaksi "e-commerce".

Ia juga berpendapat bahwa berbagai pusat perbelanjaan yang ada di wilayah ibukota pada saat ini merupakan salah satu sasaran hiburan warga yang tidak bisa tergantikan.

Sebelumnya, Kepala Badan Kebijakan Fiskal Kementerian Keuangan Suahasil Nazara memastikan penerapan kebijakan perpajakan untuk perdagangan secara elektronik (e-commerce) bertujuan untuk menciptakan kesetaraan.

"Pada prinsipnya mau e-commerce atau konvensional tetap harus taat pajak, karena itu kita pada prinsipnya menciptakan 'level of playing field', apapun jenis transaksinya," kata Suahasil saat ditemui di Gedung DPR RI Jakarta, Selasa (5/9/2017).

Suahasil menjelaskan kesetaraan pungutan pajak perdagangan secara daring dan konvensional ini sedang dirumuskan oleh pemerintah, terutama dalam hal tata cara perpajakan, agar kedua jenis transaksi ekonomi ini tetap bisa berkembang sesuai potensinya.

(rzy)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini