Image

Waduh, Harga Kakao Gelondongan di Petani Ternyata Hanya Rp18.000/Kg

ant, Jurnalis · Kamis 12 Oktober 2017, 15:17 WIB
https: img-k.okeinfo.net content 2017 10 12 320 1794068 waduh-harga-kakao-gelondongan-di-petani-ternyata-hanya-rp18-000-kg-nn04EjveYP.jpg Ilustrasi (Foto: Reuters)

KENDARI - Harga kakao gelondongan di tingkat petani di Sulawesi Tenggara mencapai Rp18.000 per kilogram atau alami kenaikan dibanding sebelumnya yang berada kisaran Rp17.500 hingga Rp17.800 per kilogram.

Keterangan dihimpun dari petugas Pelayanan Informasi dan Analisa Pasar Dinas Perkebunan dan Hortikulturan Sultra, Adnan Jaya, Kamis, capaian harga kakao gelondongan di tingkat petani itu merupakan harga rata-rata yang dihimpun pada sejumlah pasar di sejumlah kabupaten di Sultra.

"Jadi harga kakao gelondongan itu dengan dengan kualitas kadar air plus minus tujuh persen. Sementara yang kadar air 10 persen ke atas seharga RTp17.500 per kilogram," ucap Adnan Jaya.

Ia mengatakan, berbeda dengan harga kakao ditingkat pengumpul dan pedagang antar daerah yang tentu sedikit lebih tinggi pembeliannya karena adanya selisih perhitungan susut, dan kualitas kadar air serta angkutan.

"Untuk saat ini, harga penjualan ditingkat pedagang pengumpul dan antar daerah seharga antara Rp20.000 hingga Rp22.000 per kilogram dengan kadar air tujuh persen. Sedangkankan kadar air di atas 10 persen dipasarkan Rp19.500 hingga Rp21.500 per kilogram," ungkapnya.

Ia juga menambahkan bahwa harga komoditas perkebunan yang tidak hanya pada kakao yang biasanya mengalami fluktuasi, juga terjadi pada jenis komoditas unggulan lainnya seperti jambu mete, cengkeh, lada dan kelapa, sebab setiap kabupaten biasanya berbeda penjualannya.

Ia mencontohkan, harga kakao di wilayan kepulauan yang meliputi Buton dan Muna biasnya lebih tinggi ketimbang dengan produk perkebunan yang dihasilakn petani di wilayah daratan yang meliputi Konawe, Konawe Selatan, Bombana Kolaka, Kolaka Timur dan Utara yang sedikit lebih rendah.

Alasannya karena di wilayah daratan, proses pembeliannya lebih mudah terjangkau dan pembeli bisa langsung ketingkat petani produsen, sementara di wilayah kepulauan, ada jasa transportasi yang biasanya selisih pembelian sehingga harganya justru lebih tinggi.

(rzy)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini