Image

Jadi Bos Inalum, Budi Gunadi Tidak Ingin Ekspor tapi Bangun Pabrik Hilirisasi

Feby Novalius, Jurnalis · Jum'at 13 Oktober 2017, 12:58 WIB
https: img-z.okeinfo.net content 2017 10 13 320 1794642 jadi-bos-inalum-budi-gunadi-tidak-ingin-ekspor-tapi-bangun-pabrik-hilirisasi-O85MLBcf0Z.jpg Foto: Feby/Okezone

JAKARTA - Menjabat sebagai Direktur Utama PT Indonesia Asahan Alumunium (Persero) atau Inalum, Budi Gunadi Sadikin membuat gebrakan fokus pada hilirisasi produk dan kandungan lokal. Strateginya ini diyakini memberikan dampak besar terhadap pertumbuhan perekonomian Indonesia.

Mantan Direktur Utama Bank Mandiri ini mengatakan, jujur ketika Indonesia berniat membangun hilirisasi maka akan banyak orang yang menentang dengan alasan tidak efisien dan sebagainya.

Sebagai contoh, hilirisasi minyak di Indonesia banyak dikuasai Singapura.  Sehingga dalam menentukan harga minyak, Indonesia berpatokan pada harga minyak Singapura.

Baca juga: Budi Gunadi Sadikin Jadi Dirut Baru Inalum, Menteri Rini: Jadikan Holding Tambang yang Besar!

"Hilirisasi pasti akan ditentang karena Indonesia enggak bisa. Tapi saya bilang tidak. Ini penting hilirisasi, kalau bisa maka dampaknya besar," ujarnya, di Kantor Inalum, Energy Building, Jakarta, Jumat (13/10/2017).

Dia menerangkan, ketika suatu perusahaan membuat pabrik hilirisasi maka revenue bisnis bisa bertambah. Misalnya ekspor bauksit mentah revenue yang didapat sebesar USD100 miliar, begitu diolah revenue bisa naik 7 kali lipat, jika kembali dikembangkan maka dari revenue yang naik 7 kali lipat bisa kembali naik 3 kali lipat.

Atas hitungan dasar itu, Budi Gunadi mengatakan ke pemerintah jika ingin menaikan pertumbuhan ekonomi dari 5% ke 6% caranya membuat hilirisasi.

Baca juga: Jadi Dirut, Budi Gunadi Sadikin Disiapkan Bawa Inalum ke Holding Tambang!

"Aku bilang ke Presiden Jokowi boleh enggak Inalum bantu itu.  Bedanya kami bukan bantu persennya, kami bantu kalinya. Karena kalau satu kali itu 100%. Kontribusi mineral saja 5% dan itu pun tergantung pada industri minerba, fluktuasi harga batu bara dan sebagainya. Kalau berhenti ekspor ore, semua diolah jadi aluminan, nikel di Indonesia, kontribusi minerba yang 5% itu bisa naik tujuh kali lipat menjadi 37,5%," imbuhnya.

Budi pun dengan tegas menolak untuk ekspor bauksit. Dia lebih memilih membuat hilirisasi untuk bauksit supaya negara tidak kehilangan potensi revenue sebanyak 7 kali lipat tadi.

"Dengan hilirisasi kita enggak perlu khawatir harga komoditas turun. Hilirisasi saya belajar dari Boy Tohir, saya tanya  ngapain bangun pabrik pembangkit di Batang. Dia bilang kalau harga batubara turun saya bisa alihkan ke pembangkit listrik saya. Kalau saya punya pabrik batubara revenue Rp1 triliun,  listrik Rp1 triliun, batu bara anjlok maka bisa dikasih ke pembangkit yang revenue bisa lebih besar," tandasnya.

(kmj)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini