nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Tolak Impor, Menko Luhut Siapkan Pabrik Garam 'Raksasa' di Kupang dan Madura

Feby Novalius, Jurnalis · Rabu 18 Oktober 2017 18:55 WIB
https: img-z.okeinfo.net content 2017 10 18 320 1798004 tolak-impor-menko-luhut-siapkan-pabrik-garam-raksasa-di-kupang-dan-madura-JwPIpzV4Fw.jpg Ilustrasi: (Foto: Okezone)

JAKARTA - Menteri Koordinator bidang Kemaritiman Luhut Binsar Panjaitan menolak jika Indonesia harus kembali impor garam konsumsi ke depan. Pasalnya, dia sudah mengetahui cara supaya kebutuhan garam dalam negeri tidak lagi langka.

Beberapa waktu lalu, Indonesia dipusingkan dengan langkanya bumbu dapur yakni garam. Bahkan untuk mengatasi kelangkaan tersebut, pemerintah terpaksa mengimpor garam dari luar negeri.

Luhut mengatakan, pihaknya sudah melakukan koodinasi dengan Kementerian KLHK, Kementerian ATR, KKP dan BPPT untuk menyelesaikan masalah garam ini. Di mana diketahui adanya permainan importir garam yang menjadikan garam industri sebagai garam konsumsi.

"Kami sudah lihat komprehensif. Sudah rapat terpadu, kita tahu persis masalahnya. Kita selama ini lupa kalau ada Undang-Undang yang menyuruh kita menyiapkan infrastruktur. Jadi kita siapkan air tua, nah kalau kita kasih ke nelayan maka biaya produksinya bisa lebih murah," ujarnya, di Kantor Staf Presiden, Jakarta, Rabu (18/10/2017).

Baca Juga: Janji Menko Luhut: Dalam 3 Tahun Indonesia Stop Impor Garam

Dalam proses pembuatan infrastruktur, pemerintah akan membuat pusat produksi garam di Madura dan Kupang. Seperti di Madura ada lahan seluas 100 hektare (ha) dengan pengunaan teknologi BPPT, di mana dalam 4 hari sudah bisa panen garam.

"Ini akan membuat cost Rp300-Rp350 bisa kurang. Nah ini akan dibuat di Madura dan Kupang. Di Kupang itu hasilnya bisa lebih banyak, karena curah hujan lebih sedikit," tuturnya.

Baca Juga: Catat! Mendag Akui Punya Utang Revitalisasi 4.000 Pasar Tradisional

Dalam prosesnya semua hal terkait izin dan lahan sudah beres. Diharapkan dalam pekan ini pembangunan pusat garam bisa segera diselesaikan.

"Kita juga akan ajak swasta untuk masuk. Jadi PT Garam jangan menjadi importir saja. Tapi harus bisa pack harga itu Rp800-Rp900 untung buat petani," tandasnya.

(dni)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini