Image

BUSINESS SHOT: Kerajaan Bisnis Ritel Jatuh, 1.200 Karyawan Kena PHK

Dani Jumadil Akhir, Jurnalis · Sabtu 04 November 2017, 14:36 WIB
https: img-o.okeinfo.net content 2017 11 03 320 1807883 business-shot-kerajaan-bisnis-ritel-jatuh-1-200-karyawan-kena-phk-cpgeNJuL68.jpg Ilustrasi: (Foto: Okezone)

JAKARTA - Tumbangnya beberapa industri ritel modern ternyata sudah memakan korban hingga 1.200 karyawan. Setidaknya, mereka harus ikhlas karena terkena pemutusan hubungan kerja (PHK).

Sebut saja mulai dari 7-Eleven, Ramayana, Matahari, Lotus yang sudah menutup gerainya. Sementara Debenhams juga akan menutup gerainya di akhir 2017. Penyumbang PHK terbesar berasal dari tutupnya gerai 7-Eleven, karena seluruh gerainya tutup alias tidak lagi beroperasi.

"Kita belum dapat data, tapi kalau kayak Sevel itukan kita hitung ada 167 toko, kali 5 orang lah itu sudah 800-an ditambah dengan format yang lain, mungkin sudah sekitar 1.200 orang, itu dari Sevel dan dengan yang lain-lain," kata Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (Aprindo) Roy Mandey saat ditemui di Hotel Ibis Harmoni, Jakarta, Rabu 1 November 2017.

Kendati demikian, pihaknya tidak bisa berbuat banyak terhadap PHK karyawan ritel yang tutup. Menurutnya, pemerintah harus turun tangan dalam memikirkan nasib karyawan yang terkena PHK tersebut.

"Kita belum tahu, kita serahkan kepada pemerintah, untuk bantu memikirkan lah, kan kita enggak bisa memikirkan lagi, enggak mampu membayar," jelasnya.

Karena Aprindo tidak memiliki kebijakan khusus soal PHK, di mana semua aturan PHK sudah jelas mengikuti Undang-Undang Ketenagakerjaan. Namun, Roy menyatakan kondisi ini seharusnya sudah menjadi alarm untuk pemerintah.

"Kami alert ke pemerintah bahwa bisnis ritel ini menyerap 4 juta tenaga kerja, bahkan kalau total hulu ke hilir bisa 14 juta tenaga kerja. Ini menempati porsi kedua dari jumlah tenaga kerja setelah agribisnis," tegasnya.

Dia pun meminta adanya insentif untuk pelaku bisnis ritel. Insentif yang dimaksud dengan memberi insentif biaya listrik yang bisa mengurangi beban pengeluaran ritel dan mencegah lebih banyak lagi toko ritel yang tutup di tengah persaingan belanja online.

Menurutnya, pemakaian listrik menyumbang 35%-40% terhadap pengeluaran ritel, sehingga adanya insentif biaya listrik akan memberikan keringanan pada peritel.

"Sangat membantu karena insentif ini memberi keringanan pada kewajiban pembayaran yang saat ini pendapatannya tidak sepada dengan biaya. Cost makin bertambah," kata Roy.

Sementara itu, menurut Kepala BKPM Thomas Lembong, sebenarnya industri ritel di seluruh dunia secara merata saat ini memang tengah dihadapkan pada suatu kondisi yang membuat mereka agak kelimpungan.

"Pertama memang saya pribadi percaya bahwa dunia ritel di seluruh dunia sedang proses turning upside down. Di Amerika Serikat (AS), Eropa dan lain-lain masih dalam transformasi yang sangat traumatis," kata dia saat ditemui di kantornya, Jakarta, Senin 30 Oktober 2017.

Bahkan dia menilai kalau ditutupnya pusat perbelanjaan di AS juga terjadi secara cukup masif. Artinya kondisi serupa tak hanya terjadi di Indonesia, melainkan juga di belahan dunia lainnya. Mengenai kondisi tersebut, khususnya yang terjadi di Indonesia, dia tak menampik ada kaitannya dengan perusahaan digital.

"Yang pertama adalah pergeseran offline ke online. Meskipun sektornya kecil tapi dampaknya bisa berkali-kali lipat, misalnya Gojek, Grab dan Uber," paparnya lebih lanjut.

(dni)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini