Pakai Komponen Lokal 90%, Mobil Pedesaan Akan Diproduksi Massal

Ulfa Arieza, Jurnalis · Jum'at 03 November 2017 19:55 WIB
https: img.okezone.com content 2017 11 03 320 1808087 pakai-komponen-lokal-90-mobil-pedesaan-akan-diproduksi-massal-IGEHUk10Yk.jpg Mobil Kiat Mahesa Nusantara. (Foto: Okezone)

KLATEN - Menteri Perindustrian (Menperin) Airlangga Hartarto mendorong agar mobil pedesaan dapat masuk ke pasar tahun depan. Mobil pedesaan yang saat ini masih dikembangkan adalah mobil pedesaan Kiat Mahesa Nusantara tipe 2B. Prosesnya, telah memasuki tahapan prototipe.

"Kita dorong 2B ini nanti disempurnakan lagi, diproduksi secara massal dan dibuat bisnis modelnya. Kendaraan pedesaan diusulkan dapat diproduksi secara massal sebelum Agustus 2018, untuk itu mulai dipersiapkan lini produksi dan fasilitas perakitan," ujar Menperin saat meninjau Bengkel Kiat Motor, di Klaten, Jumat (3/11/2017).

Pada kesempatan tersebut, Menperin mengungkapkan, progres pengembangan prototipe kendaraan pedesaan yang dilakukan Kemenperin, di antaranya telah dilakukan proses pengujian seperti pengujian teknis dan laik jalan di Kementerian Perhubungan, pengujian emisi di Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT), dan pengujian durability sampai 100 ribu km.

"Prototipe yang dihasilkan saat ini masih harus disempurnakan, baik dari desain bodi maupun performance. Dalam hal ini, Institut Otomotif Indonesia (IOI) bertugas menyempurnakan prototipe tersebut,” ujarnya.

Perlu diketahui, mobil pedesaan ini lahir dari tangan orang yang juga mempelopori munculnya mobil Esemka, yaitu Sukiyat. Serupa dengan Esemka, komposisi Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) Mahesa juga mayoritas. "TKDN sudah 90%, hanya 10% yang impor yaitu gearbox impor dari India," katanya.

Bentuk Mahesa adalah mobil pick up dengan ukuran yang lebih kecil. Saat ini, terdapat tiga prototipe mobil pedesaan Kiat Mahesa Nusantara, meliputi mobil double cabin, mobil pick up, dan mobil peralatan pertanian.

Nama Mahesa sendiri, merupakan singkatan dari Moda Angkutan Hemat Pedesaan. Mobil pedesaan buatannya ini bakal dibandrol dengan harga yang relatif terjangkau untuk para petani, masing-masing Rp50 juta, Rp60 juta, dan Rp70 juta.

Sukiyat mengharapkan, mobil buatannya ini dapat dipasarkan tahun depan. Dia mengungkapkan sudah banyak konsumen yang ingin membeli Mahesa, lantaran Mahesa telah teruji meningkatkan efisiensi aktivitas pertanian.

Untuk memproduksi Mahesa, Sukiyat akan mendirikan sebuah pabrik pembuatan dan perakitan seluas 18 hektar. Lokasi pabrik akan berada di Klaten dengan menempati lahan bengkel Kiat lama yang merupakan bekas pabrik karung. Serta lahan di daerah Delanggu Klaten yang merupakan bekas lahan pabrik gula. "Maret sampai Mei harus sudah berdiri pabriknya. Agustus 2018 harus sudah dipasarkan," kata dia.

Sukiyat melanjutkan, investasi pabrik Mahesa diperkirakan mencapai angka Rp1,5 triliun. Setelah berdiri, pabrik ini nantinya mampu menyerap 350 hingga 450 karyawan, yang tidak menutup kemunngkinan berasal dari siswa SMK. "Sudah banyak yang pesan. Tinggal nunggu Pak Menteri Perindustrian regulasi bagaimana," kata dia.

Sekadar informasi, generasi 2A untuk prototipe hasil pengembangan platform Kemenperin dan Generasi 2B untuk prototipe yang dikembangkan oleh IOI. Untuk implementasinya, Kemenperin akan menggandeng sentra-sentra IKM komponen otomotif yang ada di Tegal (50 IKM), Klaten (10 IKM), Purbalingga (138 IKM), Sidoarjo (134 IKM), Juwana (30 IKM), Pasuruan (49 IKM), Sukabumi (20 IKM) dan Bandung (15 KM). Selain itu, Kemenperin menggandeng 123 IKM yang tergabung dalam PIKKO.

Selanjutnya, 250 IKM karoseri yang ada di Jakarta, Jawa Barat, Banten, Jawa Tengah, DI Yogyakarta, Jawa Timur, Lampung dan Sumatera Utara serta 600 IKM alat dan mesin pertanian di Sumatera, Jawa, Kalimantan, Sulawesi, Nusa Tenggara Barat dan Nusa Tenggara Timur.

(mrt)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini