Image

Bahaya! Deindustrialisasi Dini Bisa Sebabkan Pengangguran Makin Banyak

Trio Hamdani, Jurnalis · Jum'at 10 November 2017, 18:17 WIB
https: img-z.okeinfo.net content 2017 11 10 320 1812024 bahaya-deindustrialisasi-dini-bisa-sebabkan-pengangguran-makin-banyak-yjdUhPtiLS.jpg Ilustrasi Pabrik. (Foto: Reuters)

JAKARTA - Pemerintah diingatkan untuk mewaspadai deindustrialisasi dini karena dianggap berbahaya bagi pertumbuhan ekonomi negara. Apalagi, Indonesia sudah ada indikasi ke arah sana jika melihat pertumbuhan sektor jasa yang pesat.

"Sebenernya deindustrialisasi fenomena wajar aja dialami oleh semua negara, semuanya mengalami penurunan kontribusi sektor industri terhadap ekonominya, di mana jasanya kemudian menggantikan posisi leading sektornya," kata Peneliti dari Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Ahmad Heri Firdaus dalam konferensi pers di Jakarta, Jumat (10/11/2017).

Namun, jika deindustrialisasi terjadi terlalu cepat ketika kondisi Indonesia belum mendukung maka akan berakibat tidak baik. Pasalnya, jika industri tersebut belum optimal, maka posisinya akan tergeser oleh sektor jasa.

"Deindustrialisasi terjadi ketika nilai tambah belum optimal, ketika penyerapan tenaga kerja di sektor industri belum optimal, kemudian ketika ekspor kita belum disokong oleh sektor manufaktur yang hi-tech," tambah dia.

Baca Juga: Wih, Pengusaha Tantang Buruh Bikin Usaha Sendiri dengan Gaji Tinggi

Heri menilai, jika transformasi struktural ekonomi Indonesia tidak berjalan secara lembut dalam menuju deindustrialisasi. Untuk mengatasi itu, diperlukan industri berbasis teknologi tinggi (hi-tech) agar kontribusi sektor industri terhadap PDB tidak terus melemah.

"Solusi yang dibutuhkan bagi sebuah negara yang ingin keluar dari middle income ke high income, jadi negara yang ingin keluar dari middle income ke high income harus bangun industri yang berteknologi tinggi yang sudah dibuktikan Jepang dan Korea Selatan," jelasnya.

Dengan diterapkannya teknologi tinggi pada sektor industri, juga akan menopang perekonomian ekspor hingga ke penyerapan tenaga kerja. Menurutnya, jika industri Indonesia kontribusinya terus turun terhadap PDB maka kemampuan dalam serap tenaga kerja semakin rendah.

"Tinggal 19,93% kalau kata BPS. Makanya ekonomi tumbuh terus tapi serap tenaga kerjanya makin kecil. Jadi industri yang punya kemampuan serap tenaga kerja semakin kecil," tambah dia.

Baca Juga: Waduh, Otomatisasi dan Robotisasi Ancam Eksistensi Tenaga Kerja Manusia
 

Adapun sektor-sektor ekonomi yang sebenarnya mampu menyerap banyak tenaga kerja seperti industri, pertanian, perdagangan, jelas dia malah tumbuh lebih rendah daripada pertumbuhan sektor konvensional. Maka dia memastikan pertumbuhan yang tercipta saat ini kurang memberikan dampak untuk menyerap tenaga kerja.

"Kalau pertumbuhan ekonomi berkualitas, artinya pertumbuhan yang mampu kurangi pengangguran, ketimpangan, kemsikinan. Nah sekarang kita belum. Kemiskinan, pengangguran, ketimpangan berkurang tapi tidak terlalu imperhensif. Sulit sekali mengurangi pengangguran di bawah 10%," tandasnya.

(mrt)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini