Image

KATA MEREKA: Daya Beli Masyarakat Melemah? Ga Juga Tuh

Trio Hamdani, Jurnalis · Minggu 12 November 2017, 08:06 WIB
https: img-z.okeinfo.net content 2017 11 11 320 1812503 kata-mereka-daya-beli-masyarakat-melemah-ga-juga-tuh-qAfQV0AHje.jpg Kata Mereka. (Foto: Okezone)

JAKARTA - Isu pelemahan daya beli membuat banyak pihak bingung. Ada yang menilai bahwa yang terjadi hanyalah melambatnya konsumsi masyarakat ada pula yang menyatakan ini sekadar perubahan pola konsumsi masyarakat.

Baik pemerintah, pengamat ekonomi hingga asosiasi terkait memiliki pandangan dengan versinya masing-masing. Pemerintah sendiri jelas tidak ingin anomali konsumsi masyarakat dianggap sebagai pelemahan daya beli.

Menteri Keuangan Sri Mulyani menepis dugaan pelemahan daya beli dengan data pertumbuhan pajak. Saat ini, dia menilai pajak pertambahan nilai (PPN) masih mengalami pertumbuhan yang positif. Selain itu semua sektor ekonomi juga mengalami penerimaan yang cukup baik.

"Ini menggambarkan adanya aktivitas ekonomi dalam pembayaran pajak tersebut. Ini yang membuat kami harus melakukan penelitian mengenai persepsi daya beli ini," jelasnya pada Selasa 31 Oktober 2017.

Ketua Asosiasi Pengusaha Ritel Modern Indonesia (Aprindo) Roy Mandey memberikan pernyataan yang memperkuat statement pemerintah. Dia mengatakan banyaknya ritel modern yang tutup belum tentu mencerminkan adanya penurunan daya beli. Menurutnya, banyak ritel yang tutup lebih disebabkan oleh perubahan gaya hidup.

"Ada perubahan gaya hidup tapi bukan dari offline ke online. Kita coba liat dari 90 juta pemakai internet, baru 8,5 juta yang belanja. Jadi online bukan yang menggerus offline," ujarnya pada Rabu 1 November 2017.

Lantas, apakah masyarakat mengakui bahwa daya beli mereka sedang melemah? atau memang pola belanja mereka berubah lantaran adanya pergerseran gaya hidup? berikut kata mereka:

1. Diki Aryanto (27) Karyawan Swasta

Saya setuju enggak setuju kalau daya beli dibilang melemah. Kalau buat masyarakat menengah ke bawah mungkin melemah tapi masyarakat memengah ke atas enggak mungkin melemah. Saya enggak merasa daya beli saya melemah. Masih normal sampai sekarang.

Iya mungkin masyarakat kebanyakan gunain uangnya buat menambah pengalaman mereka dengan datengin tempat-tempat yang bagus. Sekarang juga banyak tempat yang jual makanan minuman macem-macem yang disukain anak muda. Kalau saya lebih banyak uangnya ditabung. Udah jarang belanja. Jalan-jalan juga jarang. Lebih milih disimpen buat kebutuhan jangka panjang.

2. Vera Indriati (23) Karyawan Swasta

Pelemahan daya beli tidak bisa cuma diukur dari pusat perbelanjaan yang sepi atau penjualan ritel yang turun. Harus dilihat alasan orang tidak mengeluarkan uangnya sembarangan.

Kalau daya beli saya, yang saya alamin tidak terjadi pelemahan tapi belanja berkurang sedikit, udah tidak terlalu sering.

Bisa juga alasan daya beli dianggap lemah karena pusat perbelanjaan sepi sebenernya uang kita digunain untuk kebutuhan lain, buat liburan, buat nongkrong di tempat-tempat makan yang lagi ramai. Saya juga cenderung begitu, uang saya saya kumpulin buat liburan atau kuliner.

3. Naila (24) Karyawan Swasta

Buat sebagian orang bisa dibilang daya belinya lagi melemah. Tapi enggak bisa disamain semua. Ada juga masyarakat yang sengaja enggak belanja karena alasan lain bukan karena daya belinya lagi melemah. Jadi saya kurang setuju daya beli dianggap lagi melemah.

Kalau buat belanja, saya emang udah jarang banget. Kalau dulu bisa minimal 2 minggu sekali belanja di mal, sekarang sebulan sekali aja udah bagus. Kalau pun masih sering ke mal cuma buat lihat-lihat barang aja abis itu nyari tempat makan. Iya, alasannya itu, karena ke mal cuma lihat-lihat barang abis itu makan. Jadi ke mal buat makan bukan buat belanja. Makanya ritel banyak yang sepi, itu juga alasannya.

Iya, orang-orang sekarang Kalau ke mal yang dicari bukan baju atau produk lainnya, tapi makanannya. Di Instagram juga lebih banyak orang yang foto makanan daripada foto belanjaan pakaian atau barang lainnya. Orang-orang juga sekarang lebih suka jalan-jalan daripada belanja.

Kalau saya juga lebih banyak ngabisin gaji buat makan sama jalan-jalan. Beli baju cukup sebulan sekali. Tapi Kalau masih banyak yang bagus di rumah, enggak perlu beli.

4. Fajar Nasution (27) Karyawan Swasta

Saya kurang setuju kalau saat ini daya beli masyarakat lagi lemah. Saya pribadi tidak ngalamin daya beli lagi lemah walaupun pengeluaran lagi dibatasin untuk beli barang.

Iya saya setuju kalau masyarakat sekarang lebih membelanjakan uangnya untuk hal-hal yang bersifat pengalaman. Makanya sekarang tempat wisata ramai tapi mal-mal pada sepi.

Saya juga kalau punya uang lebih milihnya ke tempat wisata daripada belanja macem-macem.

5. Widieyanti (23) Karyawan Swasta

Saya tidak setuju kalau daya beli masyarakat dianggap melemah, apalagi cuma karena banyak pusat perbelanjaan yang sepi. Kalau penjualan ritel turun pun itu lebih karena pola konsumsi masyarakat berubah.

Saya pribadi tidak merasa daya beli melemah. Penghasilan saya tidak turun, pengeluaran saya tidak jauh berubah, tapi memang udah mengurangi belanja. Alasannya karena saya udah merasa tidak perlu sering-sering belanja seperti sepatu, pakaian, atau elektronik.

Iya ketimbang beli barang, sekarang masyarakat kelihatannya memang lebih memilih buat menggunakan uangnya untuk jalan-jalan, rekreasi, sama kulineran. Alasannya mungkin karena trennya memang lagi seperti itu.

Saya juga lebih memilih menggunakan uang saya untuk traveling daripada beli handphone baru. Karena udah jenuh dengan sesuatu yang bersifat material. Sekarang juga udah bukan jamannya pamer benda. Orang lebih banyak pamer pengalamannya jalan-jalan ke suatu tempat atau nyobain kuliner yang unik-unik.

(dni)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini