Image

BUSINESS SHOT: Toko Ritel di RI Berguguran Itu Tren Dunia

Dani Jumadil Akhir, Jurnalis · Senin 13 November 2017, 08:18 WIB
https: img-o.okeinfo.net content 2017 11 13 320 1812955 business-shot-toko-ritel-di-ri-berguguran-itu-tren-dunia-OjMIx4C8LR.jpg Ilustrasi: (Foto: Okezone)

JAKARTA - Tidak bisa dipungkiri, sektor ritel di Indonesia bahkan di dunia sudah tak lagi berjaya. Buktinya, banyak toko ritel yang sudah tutup akibat tergerus perkembangan zaman begitu pesat.

Sebut saja, 7-Eleven yang harus menutup seluruh gerainya di Indonesia, lalu disusul Matahari yang menutup dua gerainya, kemudian Lotus hingga Debenhams. Tutupnya gerai-gerai ritel ini bukti sahih bahwa belanja online sudah menjadi gaya hidup masyarakat masa kini.

Bahkan, Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) Bambang Brodjonegoro menilai bertumbangnya sektor ritel saat ini menjadi tren dunia di mana dengan semakin majunya teknologi, perdagangan kini bergeser dari perdagangan fisik ke perdagangan elektronik atau e-commerce.

Hal tersebut disampaikan Bambang menanggapi isu melemahnya daya beli masyarakat dan tutupnya sejumlah gerai di Tanah Air, saat ditemui di Gedung Bappenas, Jakarta, Jumat 10 November 2017.

"Mungkin ada masalah dengan daya beli tapi kita juga tolong perhatikan di AS sektor ritelnya juga tumbang, banyak toko tutup karena e-commerce. Artinya ini tren dunia yang suatu saat akan masuk Indonesia dan mungkin gejalanya sudah mulai di Indonesia," ujar Bambang.

Bambang juga menuturkan, Badan Pusat Statistik (BPS) saat ini belum bisa menangkap transaksi online atau informal, padahal jumlahnya banyak. Dia akan meminta BPS ke depannya bisa mencatat denyut konsumsi, khususnya konsumsi dalam bentuk online, yang sebenarnya dari masyarakat.

"Sekarang kita mana tahu. Kalau ada datanya berarti BPS punya, ini kan orang hanya memperkirakan. Yang pakai Tokopedia, Lazada, dan sebagainya itu mungkin yang kelihatan, yang lewat Instagram, Facebook, memangnya ketangkap sama BPS atau otoritas," kata Bambang.

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat ekonomi Indonesia menurut pengeluaran pada triwulan III-2017 tumbuh mencapai 5,06% secara tahunan (year-on-year/yoy) yang peningkatannya didorong oleh semua komponen.

Seluruh komponen PDB pengeluaran tumbuh positif. Pertumbuhan yang tertinggi adalah ekspor yaitu 17,27%. Investasi yang ditunjukkan dengan Pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB) tumbuh 7,11%. Sedangkan konsumsi Rumah Tangga (RT) tumbuh 4,93% dan konsumsi pemerintah paliing rendah pertumbuhannya yaitu 3,46%.

Dalam Survei Bank Indonesia (BI) mencatat pertumbuhan penjualan ritel pada September 2017 yang melambat terjadi pada kelompok makanan dengan pertumbuhan sebesar 7,6% (yoy) atau melambat dibandingkan 7,9% (yoy) pada bulan sebelumnya.

Selain itu, isu penurunan daya beli juga dikaitkan dengan banyaknya penutupan toko ritel. Namun, hal tersebut dibantah oleh Ketua Umum Asosiasi Emiten Indonesia (AEI) Franciscus Welirang.

Pasalnya, kata orang yang akrab disapa Franky ini, data makro masih menunjukkan pertumbuhan, selain itu, ada pula pertumbuhan dari sektor industri manufaktur yang bahkan melebihi pertumbuhan ekonomi.

"Enggak-lah. Saya enggak percaya yang selalu dibicarakan bahwa pasar itu lesu. Kan kita bisa lihat, industri produksinya tumbuh, investasi tumbuh, kok pasar turun katanya," kata dia di Gedung Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Senin 6 November 2017.

Direktur PT Indofood Sukses Makmur Tbk (INDF) ini menganalisa, fenomena yang terjadi adalah target pertumbuhan yang melesat dari ekspektasi. Kendati demikian, lanjut Franky, hal ini merupakan kewajaran dalam dunia bisnis.

"Melambat tapi artinya bukan tidak tumbuh kan. Ya tetap tumbuh. Pertumbuhan melambat bisa saja, itu normal kok. Tahun ini melambat, tahun depan bisa lebih cepat. Tapi dibilangin bahwa daya beli itu turun. Enggak percaya saya," imbuhnya.

(dni)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini