Image

TREN BISNIS: Pertumbuhan Perdagangan Global Tumbuh Moderat di Saat Mobil Listrik Dikembangkan

Efira Tamara Thenu , Jurnalis · Rabu 15 November 2017, 06:16 WIB
https: img.okeinfo.net content 2017 11 14 320 1814099 tren-bisnis-pertumbuhan-perdagangan-global-tumbuh-moderat-di-saat-mobil-listrik-dikembangkan-jZuOz8620e.jpg Ilustrasi (Foto: Okezone)

JAKARTA – Organisasi perdagangan dunia, World Trade Organization (WTO), mengatakan Indikator Prospek Perdagangan Dunia (World Trade Outlook Indicator) pertumbuhan perdagangan barang dagangan global kemungkinan akan moderat. Hal ini terjadi pada kuartal keempat 2017.

Mobil listrik kini tengah dikembangkan oleh pemerintah karena ramah lingkungan. Insentif pun tengah dipersiapkan sehingga harga mobil listrik dapat terjangkau.

Studi yang dipresentasikan Konferensi Para Pihak (COP 23) menyebutkan kadar keasaman permukaan samudera naik hingga 26% dibandingkan ketika belum terjadi revolusi industri. Pemerintah Indonesia kemudian menyerukan efek perubahan iklim bagi laut dalam COP 23 anggota Kerangka Kerja Perubahan Iklim Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNFCCC).

Ketiga berita tersebut menjadi berita yang banyak menarik minat para pembaca di kanal bisnis Okezone.com. Untuk itu, berita-berita tersebut kembali disajikan secara lengkap.

WTO: Prospek Perdagangan Dunia Melambat di September

JENEWA - Organisasi Perdagangan Dunia (WTO) mengatakan, Indikator Prospek Perdagangan Dunia (World Trade Outlook Indicator) terbaru menunjukkan bahwa pertumbuhan perdagangan barang dagangan global kemungkinan akan moderat pada kuartal keempat 2017.

"Angka indeks terbaru sebesar 102,2 sedikit lebih rendah dari yang dikeluarkan pada Agustus, yang menunjukkan pemulihan perdagangan yang berkelanjutan di kuartal kedua dan ketiga," kata WTO dalam sebuah pernyataannya.

Angka indeks 100 mengindikasikan pertumbuhan sejalan dengan tren jangka menengah, pembacaan lebih besar dari 100 menunjukkan pertumbuhan di atas tren, sementara yang di bawah 100 menunjukkan kebalikannya.

Pesanan-pesanan ekspor global tetap berada di atas tren namun baru-baru ini berbalik turun, menunjukkan bahwa pertumbuhan perdagangan akan moderat namun tetap cukup kuat dalam beberapa bulan mendatang, kata WTO.

Indeks untuk pengiriman udara dan pengapalan kontainer internasional telah kehilangan momentum kenaikan, yang mengarah pada perlambatan pertumbuhan perdagangan, sementara produksi dan penjualan mobil menunjukkan tanda-tanda telah mencapai titik terendah, yang dapat mengindikasikan penguatan kepercayaan konsumen, tambahnya.

WTO mengatakan indikator prospek tidak dimaksudkan sebagai perkiraan jangka pendek, meskipun memberikan indikasi pertumbuhan perdagangan dalam waktu dekat. Kontribusi utamanya adalah mengidentifikasi titik balik dan momentum pengukur dalam pertumbuhan perdagangan global.

Menurut WTO, indikator tersebut melengkapi statistik dan prakiraan perdagangan dari WTO serta organisasi-organisasi internasional lainnya.

Insentif Mobil Listrik Disiapkan, Mulai dari Bea Masuk hingga Pajak

TANGERANG - Pemerintah berkomitmen mendorong pengembangan mobil listrik yang notabene sangat ramah lingkungan. Saat ini pemerintah sedang menggodok besaran insentif yang akan diberikan pada mobil listrik sehingga harganya bisa terjangkau.

“Mobil EV (electric vehicle) seperti ini (Nissan Note E-Power) yang emisinya jauh lebih rendah, pemerintah tentu mendorong (pengembangannya),” kata Menteri Perindustrian (Menperin) Airlangga Hartarto seusai menjajal Nissan Note e-Power bertenaga listrik dalam acara uji teknologi kendaraan listrik Nissan di ICE-BSD City, Tangerang Selatan, Banten.

Airlangga juga mengatakan, Nissan Note E-Power sangat cocok dipasarkan di Indonesia guna menjembatani peralihan dari mobil bermesin pembakaran konvensional ke era mobil listrik. “Kehadiran e-Power ini menjadi alternatif karena tanpa infrastruktur pengisian daya, kendaraan ini bisa diperkenalkan ke publik,” kata Airlangga.

Ditanya soal performa mobil, Airlangga yang berada satu mobil dengan Presiden Direktur Nissan Motor Indonesia (NMI) Eiichi Kioto mengungkapkan, akselerasi Nissan Note e-Power bagus. “Tenaga dan akselerasi bagus. Suaranya tak terdengar jika memakai mode listrik,” tutur Menperin.

Begitu juga sistem pengeremannya tidak kalah bagus. Menperin mengaku sempat menjajal Note e-Power sampai kecepatan 80 km/jam. Airlangga menyoroti teknologi Note e-Power yang bagus karena bisa sewaktu-waktu melakukan pengisian dan menggunakan baterai. “Teknologinya bagus,” ujarnya.

Lebih jauh Menperin mengaku pemerintah sudah menyiapkan regulasi soal mobil listrik. Terkait dukungan insentif yang akan diberikan, pemerintah akan mengurangi biaya Pajak Penjualan Atas Barang Mewah (PPnBM) dan bea masuk. “Tinggal didorong lagi,” katanya.

Soal alih teknologi juga sudah dilakukan, bahkan beberapa pabrikan sudah siap alih teknologi kendaraan ini. Menperin sempat menyinggung soal fasilitas fiskal yang akan diberikan pemerintah.

“Fasilitas (insentif) fiskal diharapkan dengan Kementerian Keuangan bisa segera diselesaikan sebelum akhir tahun ini,” katanya. Namun yang jelas, pemerintah terus mendorong kendaraan listrik bisa menyumbang minimal 20% atau 400.000 unit dari total populasi kendaraan bermotor di Indonesia.

“Kami mengucapkan terima kasih dan selamat kepada Nissan Motor yang melakukan uji coba di Indonesia. Pengembangan EV ini diharapkan bisa mengurangi emisi gas rumah kaca dan mengurangi kebutuhan impor BBM,” kata Airlangga.

Presiden Direktur Nissan Motor Indonesia Eiichi Koito mengatakan, pihaknya sudah mulai memperkenalkan kendaraan bertenaga listrik di Indonesia sebagai solusi dan standar baru dalam mengembangkan pasar kendaraan bebas emisi di Tanah Air.

“Sistem penggerak motor listrik e-Power dari Nissan merupakan solusi inovatif untuk mulai memperkenalkan kendaraan bertenaga listrik di Indonesia,” kata Eiichi Koito. Menurut dia, Nissan menciptakan standar baru dalam pasar kendaraan zero emission melalui kehadiran Nissan Leaf.

Dia menambahkan, teknologi e-Power akan menjadi jembatan ideal dalam perubahan penggunaan mobil berbahan bakar bensin dan solar ke arah kendaraan listrik seutuhnya. “Ini mendukung rencana Pemerintah Indonesia terkait elektrifikasi,” kata dia.

E-Power pertama kali diperkenalkan pada November 2016 saat Nissan Note e-Power diluncurkan di Jepang. Pada publik Indonesia, e-Power ini diperkenalkan pertama kali pada ajang GAIKINDO Indonesia International Auto Show (GIIAS) lalu.

Sistem penggerak elektrik kendaraan ini diadaptasikan dari teknologi Nissan Leaf yang menjadi kendaraan listrik terlaris di dunia. Serupa dengan Leaf, sistem penggerak roda pada Nissan e-Power menggunakan motor elektrik dengan tenaga dari baterai lithium-ion on board.

Namun, tidak seperti kendaraan listrik biasa, teknologi Nissan e-Power tidak membutuhkan pengisian daya eksternal, melainkan menggunakan mesin bensin berukuran kecil untuk mengisi daya baterai saat mobil sedang dikendarai.

Kemenko Maritim: Masalah Laut Harus Jadi Bagian dari Paris Agreement

JAKARTA - Pemerintah Indonesia menyerukan permasalahan efek perubahan iklim bagi laut agar menjadi salah satu prioritas pembahasan internasional dalam Konferensi Para Pihak (COP 23) anggota Kerangka Kerja Perubahan Iklim Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNFCCC).

Deputi Bidang Koordinasi Kedaulatan Maritim Kemenko Bidang Kemaritiman Arif Havas Oegroseno menjadi salah satu pembicara kunci dalam sesi "Ocean Actions Day", menyampaikan bahwa negosiasi Kesepakatan Paris (Paris Agreement) tidak menyertakan pakar kelautan, dan hukum laut.

Dia berpendapat hanya ada satu kata samudera dalam kesepakatan itu. Dengan minimnya penyebutan kata "samudera" dalam kesepakatan internasional berbasis hukum untuk mengurangi emisi gas rumah kaca pasca 2020 itu, Havas khawatir apabila upaya mitigasi terhadap perubahan iklim di samudera menjadi kurang optimal.

"Kami minta ada sebuah upaya internasional agar masalah laut menjadi bagian dari Paris Agreement. Hal ini bisa dilakukan dengan melakukan revisi 'Paris Agreement' atau dengan mekanisme lain yang dapat disepakati bersama," tuturnya.

Padahal, menurut sebuah studi yang dipresentasikan dalam COP 23, kini kadar keasaman permukaan samudera naik hingga 26% bila dibandingkan dengan masa sebelum revolusi industri. Hal ini sangat membahayakan ekosistem laut, termasuk mengurangi jumlah stok ikan di laut.

Selain itu, mantan Dubes RI untuk Belgia itu juga menyampaikan bahwa upaya menghadapi perubahan iklim adalah upaya yang mahal. "Kita perlu pendanaan khusus sehingga harus melibatkan pihak swasta," jelasnya.

Havas menyampaikan perlunya negara-negara yang menghadapi ancaman yang sama untuk membentuk kerja sama dan aliansi bersama. "Di sesi paralel itu daya sampaikan gagasan pembentukan forum negara kepulauan dan negara pulau untuk bekerja sama melakukan berbagai langkah adaptasi dan mitigasi terhadap perubahan iklim," katanya.

"Ocean Actions Day" dihadiri oleh Komisioner Lingkungan Hidup, Maritim dan Perikanan Uni Eropa Karmenu Vella, Menteri Energi Jerman Joschen Flashbart, Menteri Perikanan Fiji Inia Seruiratu, Wakil Presiden World Bank untuk Pembangunan Berkelanjutan Laura Tuck, Ketua tim negosiator COP 23 dari Fiji dan Chile. Akademisi dari AS, Eropa dan Asia turut pula hadir dalam sesi tersebut.

Usai menjadi pembicara, Deputi Bidang Kedaulatan Maritim Arif Havas Oegroseno juga bertemu dengan Presiden Republik Palau Tommy Remengesau. "Kami membahas secara informal berbagai kerjasama di bidang kelautan dan juga masalah perbatasan antar negara," katanya.

(rzy)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini