Image

Sarinah Akui Serbuan Toko Online Turunkan Pendapatan Perusahaan

Trio Hamdani, Jurnalis · Rabu 15 November 2017, 19:08 WIB
https: img-o.okeinfo.net content 2017 11 15 320 1814662 sarinah-akui-serbuan-toko-online-turunkan-pendapatan-perusahaan-T8GX75b22R.jpg Foto: Trio/Okezone

JAKARTA - PT Sarinah (Persero) mengaku bahwa menjamurnya perdagangan online (e-commerce) berdampak terhadap bisnis ritelnya sehingga menurunkan pendapatan pada kuartal I dan II-2017 sebesar 12%.

"Kalau kita enggak bisa lawan industri pasti ada imbasnya di Sarinah. Kita alami penurunan. Tetapi penurunannya tidak lebih tinggi daripada industri. Kalau industri 20%, kita penurunannya 12%," kata Director of Retail Business Sarinah Lies Permana Lestari di Kementerian BUMN, Jakarta, Rabu (15/11/2017).

Namun pihaknya berharap bahwa pada kuartal III dan IV akan terjadi perbaikan pendapatan meski diakuinya permasalahan yang dihadapi industri ritel saat ini tidak hanya di Indonesia. Bahkan di negara lain juga menghadapi situasi yang sama menantangnya.

Baca Juga: Survei BI: Penjualan Eceran Melambat, Pertumbuhan Ritel Ikut Melemah

"Karena kondisi ritel ini secara makro bukan hanya di Indonesia. Saya akhir Oktober dateng ke Conference Asia Pasific Ritel. Bahkan itu spekaker-nya dari SOGO, ownernya SOGO dari Jepang itu mereka mengaku secara industri juga turun dibandingkan tahun lalu sekitar 18% hampir 20%," jelasnya.

Hal tersebut serupa dengan yang ada di Indonesia, kata dia. Pasalnya berdasarkan data Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo), terjadi penurunan penjualan di sektor ritel yang rata-rata sebesar 20%. Tak hanya itu, pada Lebaran tahun ini pun juga terjadi penurunan.

Baca Juga: Kadin: Sektor Ritel Bukan Turun, tapi Alami Perlambatan Pertumbuhan

"Lebaran tahun lalu dibandingkan tahun ini 15% turunnya. Jadi menghadapi kondisi yang seperti itu, kita harus ada break through, inovasi yaitu sinergi memanfaatkan comeptitif advantage melalui sinergi BUMN," jelasnya.

Dia menambahkan bahwa merosotnya pendapat perusahaan ritel bukan sekadar faktor pergeseran pola belanja dari offline ke online. Kondisi tersebut juga diakuinya terpengaruh perlambatan konsumsi masyarakat yang berdasarkan data Badan Pusat Statistik, konsumsi masyarakat tumbuh melambat dari 4,95% pada kuartal II menjadi 4,93% di kuartal III.

(kmj)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini