Image

Kondisi Ekonomi Stabil, Indonesia Jadi Sasaran Investasi

Rizkie Fauzian, Jurnalis · Rabu 15 November 2017, 21:10 WIB
https: img.okeinfo.net content 2017 11 15 320 1814746 kondisi-ekonomi-stabil-indonesia-jadi-sasaran-investasi-2C876UzrFV.jpg Ilustrasi: Shutterstock

JAKARTA – Negara-negara berkembang kini telah menjadi bidikan investasi. Pasalnya, kondisi ekonomi global yang belum pulih dan diliputi ketidakpastian, membuat investor beralih ke kelompok negara yang dinilai paling aktif dalam melakukan perbaikan ekonomi.

Negara Indonesia menjadi salah satu negara yang dianggap menjanjikan bagi investor untuk berinvestasi. Hal tersebut dibuktikan dengan pujian yang diberikan oleh Kepala Negara lainnya kepada Indonesia.

Misalnya Presiden AS Donald Trump dan Perdana Menteri Jepang Shinzo Abe yang baru-baru ini memuji Indonesia di ajang Konferensi Tingkat Tinggi Kerja Sama Ekonomi Asia Pasifik (KTT APEC) di Da Nang, Vietnam.

Trump menyebut bahwa Indonesia telah berhasil membangun institusi domestik dan demokratis untuk mengelola wilayah luas yang terdiri dari 13.000 pulau. Hal sama diungkapkan Shinzo Abe, dia memuji iklim berbisnis Indonesia yang saat ini telah mencapai peningkatan yang pesat.

Menurut pengamat ekonomi dari Universitas Muhammadiyah Yogyakarta dan Peneliti senior di Lembaga Riset Inspect Ahmad Ma'ruf, dalam periode kepemimpinan Presiden Jokowi dari indikator makro seperti pertumbuhan ekonomi secara umum positif, bahkan bisa tumbuh di atas 5%

Selain itu, dari sisi ekspor dan impor tahun ini yang tercatat surplus, artinya ekspor lebih besar dari impor.

"Dari sisi stabilitas ekonomi dengan indikator inflasi angkanya mengalami penurunan tipis, artinya membaik namun, masih sekitar 3,5%-4% masih perlu upaya perbaikan sehingga daya beli masyarakat membaik," ungkapnya di Jakarta, Rabu (15/11/2017).

Baca juga: Setelah Donald Trump, Giliran Shinzo Abe Puji Iklim Investasi RI Makin Kondusif

Di sisi lain yaitu kesejahteraan sosial yang terlihat dari indeks, ukuran ketimpangan tentunya perlu ada perbaikan karena selalu turun dari tahun sebelumnya.

"Dulu 0,42 sekarang sudah 0,39, artinya ada perbaikan tapi masih harus upaya keras agar bisa turun lebih kecil semakin mendekati nol. Artinya ada perbaikan ketimpangan, posisi sekarang masih belum memuaskan dan rentan jadi isu politik, karena Ketimpangan sangat sensitif dalam ekonomi politik," tambahnya.

Dari sisi fiskal , meski rasio hutang masih di ambang aman karena kurang dari 30% PDB, tapi nilai hutang Ini harus dicermati. Menurutnya, lebih baik ada penghematan belanja khususnya pada belanja yang sifatnya rutin, termasuk upaya mengurangi kebocoran karena korupsi ataupun salah pengelolaan.

"Untungnya belanja publik yang bersifat belanja modal pada periode Jokowi tidak terlihat yang mangkrak. Ini butuh ekstra pengawalan atas belanja-belanja seperti infrastruktur karena ada risiko bocor, inefficiency, bahkan disfungsi karena salah perencanaan. Jangan sampai kasus-kasus hambalang dll terulang secara global.

Terakhir, dari segi ekonomi makro secara obyektif ada perbaikan meski belum memuaskan khususnya pada aspek risiko hutang dan aspek ketimpangan perlu diperbaiki.

(rzk)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini