Incar Industri Film dan Aplikasi, Swedia Kaji Kerjasama di Industri Kreatif

ant, Jurnalis · Rabu 22 November 2017 10:54 WIB
https: img.okezone.com content 2017 11 22 320 1818373 incar-industri-film-dan-aplikasi-swedia-kaji-kerjasama-di-industri-kreatif-fp6aJUSfNh.JPG Ilustrasi (Foto: Reuters)

JAKARTA - Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf) Indonesia berkunjung ke Swedia untuk menjajaki kerja sama bidang teknologi informasi dan kota pintar pada 19-21 November 2017.

"Swedia tertarik untuk bekerjasama di bidang film dan applikasi. Sedangkan musik dan fesyen lebih cepat diterapkan", ujar Wakil Kepala Bekraf Ricky Joseph Pesik, Rabu (22/11/2017).

 Baca juga: Bioskop Bertambah, Indonesia Bisa Jadi Pasar Utama Film Box Office

Ekonomi kreatif memiliki potensi yang besar terhadap perekonomian nasional. Menurut Ricky, ada tiga subsektor ekonomi kreatif yang memiliki daya tarik dan dapat memengaruhi berkembangnya sektor lain yakni film, animasi, dan musik.

Ricky mencontohkan, di dalam film terdapat beberapa properti yang digunakan seperti fesyen dan tempat wisata yang digunakan sebagai tempat pengambilan gambar.

"Ketika properti itu digunakan, maka membuat propreti dan tempat wisata yang ada di dalam itu menjadi terkenal sehingga berdampak pada sektor pariwisata," ujar dia.

 Baca juga: Dapat Hibah USD5,5 Juta, Kepala Bekraf Ingin Film Indonesia Go-Korea

Sementara Dirjen Perdagangan Luar Negeri Kementerian Luar Negeri RI Teppo Taurianen justru melihat potensi besar pada musik dangdut yang jika dikemas secara menarik dengan "branding" yang kuat akan mempunyai nilai tambah.

Bekraf sedang mengembangkan berbagai program yang memerlukan dukungan jejaring internasional kuat seperti animasi, barang-barang kerajinan dan tenun. Namun, upaya tersebut tidak akan berhasil bila para pelaku tidak menggali bidang usaha yang tersedia.

Secara keseluruhan, Bekraf membidangi 16 subsektor ekonomi kreatif antara lain fashion, film dan animasi, kuliner, kriya, seni rupa, seni pertunjukan, seni musik, arsitektur, desain komunikasi visual, desain produk, pengembang aplikasi dan games, televisi dan radio, serta fotografi. Seluruh subsektor ini diharapkan dapat menjadi andalan baru penggerak perekonomian nasional, baik dari sisi kontribusi terhadap produk domestik bruto, peningkatan ekspor, maupun penyerapan tenaga kerja.

 Baca juga: Investor China dan Korea Sudah Minati Industri Perfilman RI

Baik Swedia maupun Indonesia sepakat bahwa ekonomi kreatif diharapkan dapat berkembang menjadi "soft power".

Selain pertemuan antarpemerintah, para pengusaha kedua negara juga melakukan pertemuan bisnis.

Salah seorang wakil dari Business Sweden, Fredrik Uddenfeldt, menjelaskan bahwa Indonesia memiliki banyak wirausaha yang berbakat dalam memasuki bisnis teknologi informasi.

"Ini penting dilakukan Indonesia untuk meningkatkan posisinya di pasar global," kata Fredrik.

Duta Besar Indonesia untuk Swedia Bagas Hapsoro menilai kunjungan delegasi bidang teknologi informasi dan kota pintar sebagai langkah penting untuk mengimplementasikan Naskah Kesepakatan Letter of Intent antara pemerintah Swedia dan Indonesia di bidang ekonomi kreatif. Dokumen tersebut merupakan buah kesepakatan yang ditandatangani Kepala Bekraf dan Menteri Enterprises dan Inovasi Swedia di Bogor pada 22 Mei 2017.

"Jika sektor industri kreatif ekonomi Indonesia betul-betul digarap secara baik, bukan hal mustahil Indonesia bisa berjaya di skala internasional seperti yang terjadi pada Republik Korea dengan K-Pop-nya," kata Bagas.

Dalam kesempatan tersebut, pemerintah Indonesia secara langsung menyampaikan undangan resmi untuk Swedia berpartisipasai dalam "World Conference on Creative Economy" yang akan diadakan di Bali pada 3-4 Mei 2018.

Direktur Badan Swedia untuk Analisis Kebijakan Pertumbuhan Enrico Deiaco berencana menghadiri pertemuan yang diinisiasi oleh Bekraf tersebut.

Kota Pintar Sebanyak 11 pengusaha serta perwakilan dua pemerintah kota yakni Semarang dan Bandung ikut dalam rombongan delegasi Indonesia yang berkunjung ke Swedia.

Wali Kota Semarang Hendrar Prihadi dan Asisten Administrasi Umum/Plt. Kepala Dinas Penanaman Modal Kota Bandung Evi Syaefini Shaleha menyampaikan ketertarikan mereka dalam kerja sama kota pintar dengan Stockholm terutama untuk bidang pengangkutan dan distribusi barang, serta layanan kesehatan.

Keinginan tersebut disambut baik oleh Presiden Dewan Kota Stockholm Eva Louise Erlandsson dan Ketua Hubungan antara pemerintah Dewan kota Stockholm Anders Broberg.

Pihak Swedia dan Indonesia sepakat untuk bekerjasama dalam pengembangan pusat inovasi, kreatifitas, teknologi, serta riset.

Hal-hal yang mendapat perhatian dan menjadi topik diskusi adalah pelayanan pemerintah secara elektronik, pelayanan yang berkelanjutan di bidang transportasi, serta penggunaan energi baru dan terbarukan.

(rzy)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini