nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Saham Anak Usaha BUMN Rontok, Begini Penjelasan Pemerintah

Ulfa Arieza, Jurnalis · Jum'at 24 November 2017 12:52 WIB
https: img-o.okeinfo.net content 2017 11 24 278 1819792 saham-anak-usaha-bumn-rontok-begini-penjelasan-pemerintah-rJ062iXHMb.jpg (Foto: Ulfa Arieza/Okezone)

JAKARTA - Pemerintah mendorong anak perusahaan Badan Usaha Milik Negara (BUMN) untuk meraih pendanaan. Selain akan meningkatkan struktur permodalan perseroan, dengan menjadi perusahaan tercatat, anak usaha BUMN diyakini dapat menarik minat investor sehingga meningkatkan likuiditas di pasar modal.

Sayangnya, saham anak BUMN yang telah resmi tercatat di pasar modal justru tidak bergerak agresif serta cenderung melemah.

Menanggapi hal itu, Deputi Bidang Restrukturisasi dan Pengembangan Usaha Kementerian BUMN, Aloysius Kiik Ro mengatakan bahwa penurunan harga saham anak BUMN disebabkan mengikuti kondisi pasar. Apabila, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) meningkat, kondisi tersebut juga akan berimbas kepada saham anak BUMN, dan sebaliknya.

"Kita lihat compare to indeks juga, jangan hanya melihat dia. Artinya secara keseluruhan. Lalu compare dengan sektor infrastruktur juga. Kebetulan sektornya hampir sama semua kan. Kalau pricing relatif loh," terangnya di Gedung Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Jumat (25/11/2017).

Baca Juga: Walau Tipis, PP Properti Masih Catatkan Kenaikan Laba 1,9% Jadi Rp160,56 Miliar


Dalam kesempatan yang sama, Direktur Utama Bahana Sekuritas, Marciano H Herman menuturkan bahwa ada perbedaan persepsi antara investor dan emiten. Pihak emiten, kata dia, cenderung melihat investasi jangka panjang.

" Emiten itu selalu meminta valuasi yang jangka panjang, melihat kemungkinan- kemungkinan ada resiko, tapi nanti begitu proyeknya jadi mulai ada revenue itu langsung rilis valuenya," kata dia.

Marciano juga menampik bahwa pelemahan saham anak BUMN disebabkan oleh harga penawaran yang tinggi.

" Enggak, harga itu relatif, makanya dilihat ke indeks kalau indeknya drop atau naik, harga kan juga di bentuk oleh book building," jelas dia.

Baca Juga: Siap-Siap! PT PP Presisi Siap Lepas 35% Saham pada Oktober


Sebagi gambaran pergerakan saham dua anak BUMN yang telah resmi tercatat di pasar modal, adalah PT GMF Aeroasia (Persero) Tbk yang merupakan anak usaha dari PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk dan PT PP Presisi (Persero) Tbk yang merupakan anak dari PT PP (Persero) Tbk.

Pada debut perdana, saham GMF Aeroasia hanya naik tipis 2% ke level Rp408 per lembar dari harga penawaran Rp400. Selang dua hari setelah dicatatkan, saham GMFI tercatat melemah 15% ke level Rp 340.

Tidak jauh berbeda, saham PP Presisi ditawarkan pada harga Rp430 per saham. Pada pencatatan perdana, saham PPRE naik tipis 2 poin (0,47%) ke level 432. Namun, selang beberapa detik saham PPRE langsung turun 2 poin (0,47%) ke level 428.

Sebelumnya, Direktur Utama PT Bursa Efek Indonesia Tito Sulisito menyarankan agar perusahaan BUMN menghitung harga saham IPO dengan potongan 20% dari harga maksimum IPO, untuk anak perusahaan yang akan masuk ke pasar modal. Sehingga, memberikan investor ruang lebih lebar untuk meraih keuntungan yang tentunya juga akan menjadi daya tarik dari saham anak BUMN sendiri.

" Saya menyarankan IPO maksimum price potong 20% kasih keuntungan investor," ujar Tito belum lama ini.

Tito meyakinkan bahwa dengan memberikan potongan harga, anak BUMN tidak akan merugi. Mereka, lanjut Tito, dapat mengambil untung nantinya melalui Penawaran Umum dengan Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu (HMETD) atau right issue.

(wdi)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini