TREN BISNIS: Indonesia Harus Tingkatkan Aset Keuangan Syariah hingga Ekspor Ikan Hias

Efira Tamara Thenu , Jurnalis · Selasa 28 November 2017 06:45 WIB
https: img.okezone.com content 2017 11 27 320 1821482 tren-bisnis-indonesia-harus-tingkatkan-aset-keuangan-syariah-hingga-ekspor-ikan-hias-FTWcwAhWUh.jpg Ilustrasi: Shutterstock

JAKARTA – Terkait penutupan Bandara I Gusti Ngurah Rai, Bali, Kementerian Perhubungan minta kepada semua penyelenggara penerbangan baik maskapai penerbangan maupun pengelola bandara harus bekerja sama memberikan pelayanan kepada penumpang.

Dari keseluruhan aset keuangan Indonesia, aset keuangan syariah masih di bawah 10% yaitu 8,09% atau USD79,75 miliar pada September 2017. Advisor Senior Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Edi Setiadi mengatakan, industri keuangan syariah Indonesia masih menghadapi berbagai tantangan.

Sementara itu, Indonesia masih kalah dengan Singapura terkait ekspor ikan hias. Indonesia memang terus bersaing dengan Siangpura, Jepang, Ceko, Thailand dan Malaysia dalam 10 tahun terakhir dalam menguasai pasar ikan hias dunia.

Ketiga berita tersebut menjadi berita yang banyak menarik minat para pembaca di kanal Okezone Finance. Untuk itu, berita-berita tersebut kembali disajikan secara lengkap.

Maskapai dan Bandara Terdampak Gunung Agung, Kemenhub Minta Kenyamanan Penumpang Tetap Diperhatikan

Kementerian Perhubungan minta kepada semua penyelenggara penerbangan baik maskapai penerbangan maupun pengelola bandara harus bekerja sama memberikan pelayanan kepada penumpang, terkait penutupan Bandara I Gusti Ngurah Rai, Bali.

"Penumpang yang ingin meneruskan perjalanan dengan moda lain maupun penumpang yang ingin bertahan di bandara harus diperhatikan kenyamanannya dan diberikan pelayanan yang baik sesuai aturan yang berlaku," Sekretaris Ditjen Perhubungan Udara Kementerian Perhubungan (Kemenhub) Pramintohadi Sukarno dalam keterangan tertulis yang diterima di Jakarta, Senin (27/11/2017).

Menindaklanjuti perkembangan dampak erupsi Gunung Agung telah dilakukan rapat koordinasi yang dihadiri semua pemangku kepentingan Bandara I Gusti Ngurah Rai pada pukul 06.00 WITA, Senin (27/11/2017) di ruang rapat EOC bandara, dipimpin Kepala Kantor Otoritas Bandara Wilayah IV.

Sebelum rapat dimulai dilakukan observasi ke sisi udara Bandara I Gusti Ngurah Rai untuk memastikan hasil paper test. Dalam rapat koordinasi, disampaikan oleh BMKG terkait data dari VAAC Darwin beserta prediksinya yang secara ploting area telah menutupi ruang udara sekitar bandara. Arah sebaran debu vulkanik ke arah selatan dan tenggara.

Berdasar data paper test yang disampaikan pihak operator Air Asia terdeteksi bahwa sebaran abu vulkanik telah sampai area Bandara I Gusti Ngurah Rai (VA Positive). Dari penjelasan pihak Airnav Indonesia Cabang Denpasar bahwa ploting area jalur pemanduan lalu lintas pesawat udara telah tertutup oleh sebaran VA.

Dari hasil rapat koordinasi tersebut, Ditjen Perhubungan Udara Kementerian Perhubungan memutuskan penutupan Bandara I Gusti Ngurah Rai mulai pukul 07.00 WITA sejak Senin (27/11) sampai dengan 18 jam kedepan dengan evaluasi per 6 jam oleh airport community.

"Berdasar laporan terakhir yang kami dapat dari Direktorat Navigasi Penerbangan, Bandara I Gusti Ngurah Rai sudah terdampak dan berada dalam area vulcano ash dari Gunung Agung. Untuk itu Ditjen Perhubungan Udara memutuskan untuk menutup Bandara Ngurah Rai dengan alasan keselamatan penerbangan," kata Sukarno.

Terkait penutupan bandara tersebut, segenap penyelenggara penerbangan di Bandara Ngurah Rai harus mematuhinya dan tidak melakukan penerbangan hingga mendapat izin keselamatan dari otoritas yang berwenang. Selain itu, semua penyelenggara penerbangan baik itu maskapai penerbangan maupun pengelola bandara harus bekerjasama bahu-membahu untuk tetap memberikan pelayanan kepada penumpang.

7 Penerbangan Terdapat 7 penerbangan yang mengalihkan pendaratan yaitu Garuda Indonesia GIA5150 dari Zhengzou ke Denpasar dialihkan ke Surabaya, Garuda Indonwsia GA 897 Guangzhou-Denpasar dialihkan ke Surabaya, Garuda Indonesia GA 859 Shanghai-Denpasar dialihkan ke Jakarta, China Eastern MU 5029 Shanghai-Denpasar dialihkan ke Jakarta, China Eastern MU 781 Beijing-Denpasar dialihkan ke Singapura. Citilink CTV 856 Jakarta-Denpasar dialihkan ke Surabaya, dan Lion Air JT927 Makassar-Denpasar dialihkan ke Surabaya.

Sementara itu berdasarkan laporani Bandara Lombok Praya, tidak terdeteksi adanya abu vulkanik di seputar bandara. Untuk itu Bandara Internasional Lombok dinyatakan dibuka kembali dan beroperasi normal mulai Senin 27 November 2017 pukul 06.00 WITA (22.00 UTC).

Ditjen Perhubungan Udara akan selalu memberikan dan menyebarkan informasi aktual kepada masyarakat melalui semua saluran informasi Ditjen Perhubungan Udara Kementerian Perhubungan. Masyarakat juga bisa mencari dan memberikan informasi terkait dampak letusan Gunung Agung di daerahnya di media sosial Ditjen Hubud @djpu151 dan website BMKG.

Tertinggal Jauh, Aset Keuangan Syariah Indonesia Masih di Bawah 10%

Aset keuangan syariah pada September 2017 masih di bawah 10% dari keseluruhan aset keuangan Indonesia, yaitu sebesar 8,09% atau USD79,75 miliar.

Angka tersebut jauh tertinggal dengan kondisi keuangan syariah dunia karena tahun 2015 mencapai USD2 triliun dan tahun 2021 ditargetkan mencapai USD3,5 triliun. Advisor Senior Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Edi Setiadi mengatakan, industri keuangan syariah Indonesia masih menghadapi berbagai tantangan. Dia pun mencontohkan, jika ibarat kondisi jalan raya di Jakarta, transportasi umum, kendaraan atau bus yang tersedia sudah banyak dan mencukupi, tapi yang mau naik belum banyak.

”Akhirnya bus saling berebut penumpang yang jumlahnya masih terbatas sehingga penumpang kualitasnya kurang baik juga ada yang terangkut. Itu membuat lembaga keuangan syariah menjadi rentan terhadap external shocks ,” kata Edi di Jakarta akhir pekan. Untuk memperbaiki kondisi ini, katanya, maka jumlah penumpang yang berkualitas harus ditambah dengan memperbesar customer based dari lembaga keuangan syariah untuk menciptakan demand lebih besar lagi. Menurut dia, hal tersebut perlu menjadi perhatian seluruh pelaku sektor jasa keuangan syariah, mengingat adanya peningkatan jumlah penduduk middle class income Indonesia, terutama didominasi penduduk Muslim.

”Hal ini dipercaya akan menciptakan permintaan potensial terhadap produk dan jasa keuangan syariah pada sektor halal. Terlebih lagi jaminan produk halal merupakan tanggung jawab pemerintah,” ujar Edi. Oleh karena itu, diperlukan terobosan dan inovasi baru dalam menjaring minat masyarakat untuk mengakses industri jasa keuangan syariah secara lebih luas. Salah satu upaya yang bisa dilakukan adalah membangun model bisnis yang mengolaborasikan potensi sektor keuangan, sektor riil, serta sektor religius/sosial secara timbal balik dan saling mendukung. Edi mengungkapkan, membangun sinergi menjadi penting untuk keuangan dan ekonomi syariah agar bisa tumbuh bersama-sama dan lebih cepat lagi.

”Kolaborasi ketiga sektor ini telah diinisiasi OJK dengan model bisnis LKM Syariah yang telah diresmikan oleh Presiden Joko Widodo di Cirebon pada Oktober lalu,” kata dia.

Oleh karena itu, diperlukan integrasi antara sektor riil, keuangan, dan religius serta sosial sehingga ketiga sektor tersebut bisa tumbuh bersama-sama. Melalui program LKM Syariah ini, OJK berharap bisa menjadi basis pengembangan perekonomian syariah jangka menengah panjang yang berkesinambungan serta dapat meningkatkan taraf hidup masyarakat.

Kepala Departemen Perbankan Syariah Ahmad Soekro Tratmono menambahkan, untuk mengembangkan keuangan syariah di Indonesia yang perlu dilakukan, yaitu pertama, OJK akan menjaga stabilitas sistem keuangan, termasuk mengatur serta mengawasi implementasi prinsip-prinsip syariah pada lembaga keuangan syariah sebagai landasan bagi pembangunan yang berkelanjutan. Kedua , mendorong sektor jasa keuangan (SJK) syariah berkontribusi lebih besar dalam mendukung percepatan ekonomi nasional, khususnya dalam pembiayaan sektor prioritas pemerintah (infrastruktur, ketahanan pangan, dan maritim).

”Ketiga, mendukung upaya peningkatan pemerataan kesejahteraan masyarakat serta mengatasi ketimpangan dalam pembangunan nasional,” kata dia. Menurut dia, meski pertumbuhan keuangan syariah Indonesia tercatat tinggi, tapi belum didukung dengan tingkat literasi dan keuangan syariah yang memadai.

Soal Ekspor Ikan Hias, Indonesia Masih Kalah dari Singapura

Sebagai salah satu negara kepulauan, Indonesia memiliki potensi ekspor ikan hias yang cukup besar. Namun realitanya, Indonesia masih kalah dengan negara Singapura.

Dalam kurun waktu 10 tahun terakhir, Indonesia terus bersaing dengan Siangpura, Jepang, Ceko, Thailand dan Malaysia untuk menguasai pasar ikan hias dunia.

"Dengan Jepang bersaing okelah, tapi kalau dengan Singapura itu aneh. Dia bukan archipelago (negara kepulauan), dia cuma kota. Negara yang tak punya laut luas, punya hak karena pakai otak, kalau orang luar cari ikan hias teleponnya ke Singapura, nanti dibilang ada padahal belum ada ikannya, nanti dicari dulu sama dia (Singapura)," ujar Deputi Bidang Sumber Daya Alam dan Jasa Kemenko Bidang Kemaritiman Agung Kuswandono di Kantor Kemenko Kemaritiman, Senin (27/11/2017).

Agung menyatakan Singapura memiliki teknologi transportasi yang jauh lebih baik dari Indonesia sehingga mampu menjaga kualitas ekspor dengan baik. Hal ini yang membuat Singapura menjadi wilayah hub bagi ekspor ikan hias di dunia.

"Jadi nilai jual dalam negeri diambil dari nelayan sampai ke Singapura bisa meningkat 40 kali lipat, tapi yang menikmati orang-orang luar negeri. Ini kenapa kita berpikir, ini harus ditarik ke Indonesia dan berdasarkan pembicaraan dengan pelaku-pelaku usaha, kita sanggup untuk menjadi negara produsen ikan hias terbesar di dunia," ungkapnya.

Oleh sebab itu, untuk mewujudkannya, ujar Agung pihaknya, Kemenko Kemaritiman bekerjasama dengan Kementerian Kelautan dan Perikanan serta asosiasi ikan hias Indonesia, Nusantara Aquatic untuk mengadakan Simposium Nasional mengenai ikan hias.

"Kita akan bicarakan keberlanjutan (ketersediaan) ikan hias sendiri, bagaimana transportasi dari tempat awal sampai tujuan ikan dapat tetap hidup, kualitas terjaga, ini butuh teknologi, transportasinya kan pakai pesawat terbang, jadi harus ada pembicaraan dengan maskapai penerbangan," jelasnya.

Selain itu, menurutnya dengan adanya simposium maka tata kelola industri ikan hias bisa terjaga sehingga bukan hanya tak kalah dengan negara-negara tetangga tetapi juga menjaga hak paten ikan-ikan yang memang kekayaan alam Indonesia.

"Ini harus di tata, nanti mereka (negara lain) membudidayakan, berkembang biak dan hidup di sana, nanti mereka bisa bawa ke forum internasional dan klaim itu ikan mereka. Nah ini jangan sampai terjadi. Sejauh ini memang belum ada jenis ikan yang diklaim negara lain," pungkasnya.

1
3

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini