Menebak Inflasi November 2017, Apa Lebih Tinggi dari Bulan Sebelumnya?

Efira Tamara Thenu , Jurnalis · Senin 04 Desember 2017 06:14 WIB
https: img.okezone.com content 2017 12 03 320 1824431 menebak-inflasi-november-2017-apa-lebih-tinggi-dari-bulan-sebelumnya-Rv1wy98cjw.jpg (Foto: Okezone)

JAKARTA – Survei mingguan Bank Indonesia (BI) memproyeksikan inflasi minggu ketiga November 2017 berada pada kisaran 0,23%. Sedangkan inflasi tahun ini pemerintah menargetkan sebesar 4,5% plus minus 1%.

Sedangkan inflasi pada bulan Oktober 2017 tercatat sebesar 0,01%. Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (Aprindo) memproyeksikan laju inflasi di November tidak ada bedanya dengan bulan sebelumnya.

Sementara itu Wakil Ketua Umum Aprindo Tutum Rahanta mengatakan menyerahkan sepenuhnya kepada pemerintah untuk target inflasi tahun ini. "Untuk target tercapai kita tidak berani masuk ke ranah sana," jelasnya.

Inflasi tahun ini diramalkan akan sebesar 4,5% plus minus 1%. Menteri Agraria dan Tata Ruang atau Kepala Badan Pertanahan Nasional (ATR/BPN) Sofyan Djalil mengatakan pihaknya optimistis angka inflasi yang ditargetkan pemerintah tersebut bisa tercapai.

Baca juga:

Inflasi Terjaga, Kenapa Daya Beli Masyarakat Belum Membaik?

Timbulkan Ketidakpastian, Inflasi Tinggi Akan Hambat Investasi Produktif

Pemerintah sepanjang tahun ini berhasil menekan angka inflasi di bawah 4%. Hal ini tidak lepas dari harga pangan yang terkendali sepanjang tahun ini. Bahkan harga pangan tetap terkendali pada hari-hari besar seperti hari raya hingga puasa sekalipun.

Wakil Ketua Kamar Dagang dan Industri (Kadin) bidang Perdagangan Benny Sutrisno mengatakan, saat ini harga pangan masih relatif stabil. Secara keseluruhan laju inflasi di tahun ini juga dikatakan bisa sesuai dengan target pemerintah.

Kadin juga memproyeksikan laju inflasi November 2017 sama dengan bulan sebelumnya. “Menurut saya inflasi bulan ini masih rendah," ujarnya saat dihubungi Okezone.

Sedangkan Institute For Development of Economics and Finance (Indef) memprediksi inflasi pada bulan November akan lebih tinggi dibanding bulan sebelumnya. Indef memproyeksikan inflasi akan berada di angka 0.13% month to month (mtm). Angka ini diperkirakan melihat perkembangan harga kebutuhan pokok sedikit meningkat akibat gangguan cuaca yang menyebabkan menurunnya pasokan.

Kebutuhan pokok jelang libur Natal dan tahun baru juga memiliki pengaruh dalam inflasi pangan. Sementara dorongan dari administered price dibulan November lebih disebabkan oleh kenaikan harga BBM non subsidi karena harga minyak mentah dunia terus mengalami kenaikan.

Dia juga mengatakan inflasi bulan November dipengaruhi oleh kenaikan biaya transportasi menjelang libur panjang. Sedangkan sampai akhir tahun, inflasi diperkirakan sebesar 3,7%-3,9%. Adanya kecenderungan naiknya inflasi musiman di bulan Desember menjelang libur natal tahun baru piihaknya mengharapkan agar pemerintah terus menjaga stabilitas harga pangan.

Pemerintah juga perlu menimbang kembali rencana pemberlakuan batas bawah maskapai penerbangan kelas ekonomi karena akan mendorong inflasi transportasi. Sedangkan menyangkut rencana kenaikan tarif pada 9 ruas jalan tol sebaiknya ditunda sebagai antisipasi pengendalian inflasi.

Pelemahan rupiah yang memberi tekanan pada harga barang konsumsi yang di impor khususnya makanan dan pakaian jadi juga perlu dicermati.

(wdi)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini