nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Era Digital, Kemenaker: Semua Industri Harus Segera Beradaptasi

Yohana Artha Uly, Jurnalis · Rabu 13 Desember 2017 18:50 WIB
https: img.okeinfo.net content 2017 12 13 320 1829895 era-digital-kemenaker-semua-industri-harus-segera-beradaptasi-v4hgLio1n1.jpg Foto: Yohana/Okezone

JAKARTA - Menteri Ketenagakerjaan (Menaker) Hanif Dakhiri mengatakan era digitalisasi tak dapat terhindarkan oleh sektor industri. Oleh sebab itu menurutnya industri apapun harus mampu beradaptasi dengan perubahan ini sedini mungkin, pasalnya bila tidak akan mengalami guncangan bisnis.

"Cepat atau lambat ini pasti akan terdampak. Sehingga industrinya harus segera berubah cepat, karena kalau enggak cepat akan menimbulkan guncangan industri yang baik berupa bisnis shock, ini apabila perusahaannya tidak kompetitif lalu akhirnya tutup," ujar Hanif di Kantor Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, Jakarta, (13/12/2017).

Baca Juga: Bangun Pusat Inovasi, Pelaku Industri Dijanjikan Insentif Pajak 300%

Ia menjelaskan mungkin perusahaan memang tak melakukan kesalahan, kendati demikian dengan tak beradaptasi dengan era ini maka dipastikan perusahaan pun akan mengalami collaps. Ia pun mencontohkan seperti perusahaan Nokia yang sempat merajai pasar handphone Indonesia akhirnya harus kalah dengan banjirnya perusahaan lain yang menawarkan teknologi lebih canggih.

"Kita pasti ingatlah Nokia. Nokia dulu kan juga petingginya bilang 'kami enggak melakukan kesalahan apa pun tiba-tiba kami tidak relevan gitu saja'. Oleh karena itu semua industri memang harus segera beradaptasi," jelasnya.

Baca Juga: Kemenperin Usul Insentif Bagi Industri Berorientasi Vokasi dan Inovasi

Lanjutnya, bila perusahaan mampu bertahan dari perubahan ini, maka yang diperlukan adalah melakukan efisiensi yang diakuinya akan berdampak juga pada pemutusan hubungan kerja. Oleh sebab itu, ia meminta setiap industri membuat skema perubahan proses bisnisnya agar bisa diantisipasi.

"Makanya kita dorong industri untuk membuat skema transformasi industri sehingga proses bisnis dan perubahan-perubahan yang ada di industri itu kemudian bisa diantisipasi secara keseluruhan," ujarnya.

Baca Juga: Menperin: Ada Perusahaan Amerika Siap Support Pendidikan Vokasi Indonesia

Skema ini nantinya, kata Hanif, harus mampu memberikan gambaran jelas yang dapat antisipasi arus pekerja yang tetap bertahan maupun pekerja yang terdampak efisiensi. "Ternyata konsekuensinya 100 karyawan mungkin 10 orang stay 90 orang out. Yang stay diapain yang out diapain. Maksud saya skemanya jadi jelas gitu," ucapnya.

Skema ini, lanjutnya, juga diterapkan oleh  Singapura ketika industri ritel mereka alami collaps. Karyawan-karyawan yang tetap bertahan diberikan pelatihan sehingga kemampuannya meningkat.

"Begitu ritelnya dihantam mereka punya skema seperti itu yang 10 di up skilling. Jadi jaga toko itu tidak hanya senyum selamat datang. Sekarang sudah diisi dengan up skilling yang terkait dengan produk konteksnya. Nah yang 90 orang mungkin dialihkan ke unit lain," ungkapnya.

(kmj)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini