nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Jadi Tuan Rumah Asosiasi Perusahaan Efek, 17 Negara Kumpul di Indonesia

Ulfa Arieza, Jurnalis · Jum'at 15 Desember 2017 19:05 WIB
https: img-k.okeinfo.net content 2017 12 15 278 1831013 jadi-tuan-rumah-asosiasi-perusahaan-efek-17-negara-kumpul-di-indonesia-FQTjnbVxNV.jpg Ilustrasi BEI. (Foto: ANT)

BALI - Pasar modal Indonesia kian diperhitungkan di kancah internasional. Bahkan, tahun depan Indonesia didaulat menjadi tuan rumah pertemuan tahunan asosiasi perusahaan efek Asia atau Annual General Meeting of Asia Securities Forum (ASF).

Komite Ketua Umum Asosiasi Perusahaan Efek Indonesia (APEI) Octavianus Budiyanto mengatakan bahwa kepercayaan ini membuktikan bahwa pasar modal Indonesia mampu bersaing dengan pasar modal di negara-negara dunia.

"Ini buat kami khususnya APEI sangat penting sekali karena kalau kita lihat pertumbuhan di pasar modal, indeksnya sangat luar biasa tapi banyak tantangan juga, yang harus kita hadapi ke depan," ujarnya di sela -sela pelatihan wartawan pasar modal, di Bali, Jumat (15/12/2017).

Octavianus melanjutkan, dalam pertemuan tahunan tersebut akan dibahas mengenai permasalahan pada perusahaan efek setiap negara. Mereka, kata dia, juga akan berbagi pengalaman dan strategi dalam mengembangkan basis investor serta mendorong perkembangan pasar modal tiap negara.

Baca Juga: Fintech Mulai Merajalela, APEI Khawatir Fungsi Broker Tersingkir

Saat ini, pihak ASF masih menyaring isu isu yang bakal diangkat sebagai topik. Octavianus menyatakan, ASF tahun depan yang rencananya akan digelar di pulau Bali itu ditargetkan akan menghasilkan Bali Komiten dalam bentuk Memorandum of Understanding (MoU) antara 17 negara.

Salah satu topik yang bakal dibahas adalah imbas perkembangan teknologi digital dalam bentuk financial technology (fintech) kepada perusahaan sekuritas. Octavianus mengaku cukup khawatir perkembangan fintech akan mengikis profesi pialang saham pada perusahaan sekuritas.

Pasalnya, dengan perkembangan teknologi digital maka setiap investor ritel mampu melakukan transaksi tanpa bantuan broker. "Kita mungkin sharing untuk teknologi, tentunya untuk settlement segala macam sehingga nanti pasarnya lebih efisien dan lebh produktif untuk melakukan transaksi," ujarnya.

Settlement yang dimaksudkan oleh Octavianus adalah penyelesaian transaksi perdagangan saham dari T+3 menjadi T+2. "Tentunya itu arahnya ke situ juga karena kita semua harus siap, bursa dan KSEI saya rasa punya rencana T+2 artinya itu perputaran uang makin besar," kata dia.

Baca Juga: Sederet Tantangan Ekonomi 2018 versi Bos BEI, dari Pilkada hingga Piala Dunia

Adapun negara anggota dari ASF diantaranya, Singapura, Iran, Vietnam, Mongolia, Thailand, Filipina, Malaysia, Korea Selatan, Malaysia, dan Turki. Apabila dibandingkan dengan negara anggota ASF, menurut Octavianus pasar modal Indonesia cukup unggul. Indonesia hanya kalah dengan Filipina dalam lima tahun terakhir dalam pertumbuhan indeks.

"Di luar itu harusnya Indonesia lebih unggul karena Indonesia mempunyai keunggulan untuk demografi yang sangat luas penduduknya sangat besar. Dengan literasi yang rutin saya yakin masyarakat yang melek dengan pasar modal lebih besar," tukas dia.

(mrt)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini