nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

BUSINESS SHOT: Bitcoin yang Menggiurkan tapi Terlarang

Dani Jumadil Akhir, Jurnalis · Minggu 17 Desember 2017 14:25 WIB
https: img.okeinfo.net content 2017 12 15 320 1830975 business-shot-bitcoin-yang-menggiurkan-tapi-terlarang-vsCPmHdJCN.jpg Ilustrasi: Shutterstock

JAKARTA - Fenomena mata uang virtual, bitcoin membuat regulator sektor keuangan di Indonesia khawatir. Sebab, cryptocurrency terbesar di dunia tersebut telah melonjak 17 kali lipat nilainya sepanjang tahun ini. Harga Bitcoin BTC = BTSP kembali mencetak rekor tertinggi mereka dan bergerak di atas USD16.600 atau sekira Rp224,1 juta jika mengacu kurs Rp13.500 per USD, setelah mendaki lebih dari 67% minggu ini.

Melonjaknya harga bitcoin ini membuat Menteri Keuangan Sri Mulyani hingga Gubernur Bank Indonesia (BI) Agus Martowardojo ikut was-was dengan keberadaan bitcoin di Indonesia. Mereka menegaskan, bitcoin bukanlah alat pembayaran yang sah dan tidak diakui di Indonesia.

Akan tetapi, masyarakat Indonesia justru berbondong-bondong melakukan investasi di bitcoin karena tingginya nilai mata uang virtual tersebut.

 Baca Juga: BI: Investasi Bitcoin Seperti Roller Coaster, Hari Ini Happy Besok Menangis

Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani Indrawati mengingatkan masyarakat agar tidak menjadikan mata uang digital seperti bitcoin sebagai investasi. Pasalnya Bitcoin sendiri telah dilarang oleh Bank Indonesia (BI) dan tidak bisa dijadikan sebagai alat melakukan transaksi di Indonesia.

Menurutnya, saat ini semakin banyak masyarakat yang menjadikan Bitcoin sebagai investasi. Oleh karenanya ia menghimbau untuk tidak melakukannya agar tidak merugikan masyarakat itu sendiri nantinya.

"Rakyat Indonesia yang nampaknya sering dimunculkan karena menunjukkan harganya makin tinggi, ini dilirik sebagai salah satu bentuk investasi," ungkapnya di JCC Senayan, Jakarta, Kamis 7 Desember 2017.

 Baca Juga: Bitcoin Naik 300% dalam 10 Bulan, BI: Hati-Hati dan Risiko Tanggung Sendiri

Gubernur Bank Indonesia Agus Martowardojo mengingatkan masyarakat agar tidak menganggap enteng risiko yang mungkin dimunculkan dari investasi menggunakan mata uang digital atau cryptocurrency Bitcoin.

"Jadi saya ingin mengatakan risiko itu adalah sesuatu yang jangan diambil enteng. Itu adalah sesuatu yang jangan kemudian disesali kalau seandainya ada masyarakat yang ingin lebih jauh mengetahui tentang Bitcoin," kata Agus, ditemui di Kompleks Bank Indonesia, Jakarta.

Kepala Departemen Kebijakan dan Pengawasan Sistem Pembayaran Bank Indonesia Eni V Panggabean mengatakan, larangan bukan hanya dikeluarkan oleh Indonesia tapi juga negara lain seperti Korea, New Zealand dan Australia hingga Amerika Serikat yang sudah melarang PJSP gunakan Bitcoin.

"Kami juga sudah keluarkan PBI. Artinya kami tidak akui untuk masuk bahkan kalau ada yang melewati penyelenggara jasa kami kenakan sanksi karena sudah dilarang. Di PBI fintech juga sudah kami jelaskan. Kemudian di UU yang paling menekankan fundamental kami tidak akui uang selain rupiah. Jadi kami tidak sendirian banyak negara yang melarang," ungkap Eni di Gedung BI, Jakarta, Kamis 14 Desember 2017.

Menurutnya, larangan dikeluarkan oleh BI berulang kali karena unsur perlindungan konsumen. Selain itu investasi bitcoin dianggap terlalu berbahaya karena naik turun harganya.

"Value-nya naik turun kayak roller coaster. Kalau hari ini happy besok bisa menangis. Ini tidak ada unsur perlindungan konsumen dan tidak ada otoritas yang mengatur," jelasnya.

Sementara itu, CEO Bitcoin Indonesia Oscar Darmawan mengatakan, investasi di Bitcoin tidak selalu mengalami kenaikan. Menurutnya, dalam investasi tidak ada aset yang terus menerus mengalami kenaikan.

“Semua komoditas yang berdasarkan demand supply pasti ada koreksi harga karena trader melakukan aksi taking profit saat harga bergerak naik," jelasnya kepada Okezone.

"Tapi ke mana harga bergerak bergantung kepada market, karena harga Bitcoin dan digital asset lainnya bergantung kepada demand supply di market,” tambah dia.

Menurutnya, kenaikan harga Bitcoin saat ini memang cukup tinggi. Meski begitu, dia masih belum melihat apakah koin digital tersebut mencapai keseimbangan harga.

“Karena ada ahli ekonomi yang bilang Bitcoin itu undervalue ada yang bilang overvalue. Tergantung mau dengar yang mana. Tapi kalau koreksi harga pasti ada ya ke depannya,” tuturnya.

Dia menambahkan, pihaknya tidak pernah menganggap keberadaan Bitcoin untuk digunakan sebagai alat pembayaran. “Bursa digital asset kami juga tidak pernah memandang Bitcoin sebagai alat bayar,” pungkasnya.

Tidak hanya itu, ketika ditanya mengenai masa depan Bitcoin di Indonesia hanya sebatas trading online atau dalam beberapa tahun ke depan akan ada kemungkinan Bitcoin menjadi alat transaksi, ia mengatakan hanya fokus pada bursa digital asset sampai hari ini. “Arah kita saat ini hanya fokus pada bursa digital asset,” jelasnya.

Sedangkan dari sisi likuiditas, ia mengatakan bahwa Bitcoin memiliki likuiditas yang sangat kecil dibanding dengan aset komoditas lain.

“Saya kira likuiditas Bitcoin masih sangat kecil ya dibandingkan asset komoditas lain seperti emas. Market cap emas itu USD7,8 trilliun. Sedangkan Bitcoin baru hanya USD284 billion,” tuturnya.

1 / 2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini