Dana Segar dari Luar Negeri untuk Industri Film

Koran SINDO, Jurnalis · Senin 18 Desember 2017 12:12 WIB
https: img.okezone.com content 2017 12 18 320 1832031 dana-segar-dari-luar-negeri-untuk-industri-film-5VRmwpMlg9.jpg Foto: Koran SINDO

JAKARTA - Kerja sama sineas lokal dan asing, terutama dengan konsep pendanaan bersama (co-financing), diprediksi akan semakin menjamur. Sementara investor di bidang ekshibisi (bioskop) mengincar “kota kedua”.

Sejak Daftar Negatif Investasi (DNI) resmi direvisi Presiden Joko Widodo pada 12 Mei 2016, pintu bagi investor asing menanam uangnya di industri perfilman Indonesia dibuka lebar. Pihak asing bisa ikut berinvestasi penuh dalam subsektor perfilman, yaitu produksi, distribusi, dan ekshibisi (pertunjukan film/bioskop).

Dengan jumlah penduduk lebih dari 250 juta jiwa dan terbuka pada dunia luar, Indonesia jelas merupakan pasar empuk bagi investor luar negeri. Meski perfilman belum memberikan kontribusi maksimal bagi perekonomian nasional (produk domestik bruto/PDB masih kurang dari 1%), Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf) mencatat bahwa pada 2015-2016, industri perfilman tumbuh 10,28%.

Baca Juga:  Bioskop Bertambah, Indonesia Bisa Jadi Pasar Utama Film Box Office


Tahun ini pertumbuhannya juga menggembirakan. Pertanda paling jelas adalah dengan cukup banyaknya minat investor asing dalam subsektor produksi film. Contoh paling jelas adalah ikut sertanya Fox International Pictures (FIP) dalam pendanaan bersama Lifelike Pictures untuk pembuatan film Wiro Sableng 212 . FIP adalah bagian dari studio besar Hollywood 20th Century Fox.

Pengamat film nasional, Yan Widjaya, menyebut, FIP membenamkan uang senilai USD1 juta (Rp13,6 miliar) untuk film ini. Nilai yang sama juga diberikan LifeLike Pictures untuk film yang kabarnya akan dibuat dalam bentuk trilogi ini. Sebelumnya CJ E&M yang dulu bernama CJ Entertainment sudah lebih dulu menjadi investor beberapa film Indonesia, meski jumlahnya tidak semasif FIP.

Terakhir, perusahaan raksasa Korea Selatan yang fokus di bidang media dan hiburan ini ikut serta dalam film horor Indonesia terlaris sepanjang masa garapan Joko Anwar, Pengabdi Setan . Menurut Yan, dari tiga subsektor perfilman, produksi memang yang akan paling menarik minat pihak asing untuk berinvestasi. “Ini sudah banyak terjadi di luar negeri. Amerika Serikat banyak mem biayai film Bollywood, sementara China juga sering melakukan produksi bersama Hollywood,” ujarnya.

Sebenarnya sejak lama film Indonesia juga sudah bersentuhan dengan bantuan pihak asing dalam memproduksi film. Hanya, karena saat itu masih terikat DNI, sistem bantuan hanya berupa hibah yang nilainya tentu sangat terbatas.

Film Joko Anwar lainnya, A Copy of My Mind , adalah salah satu yang mendapat hibah dari CJ Entertainment senilai USD10.000 (kurang dari Rp150 juta). “Pembukaan sektor produksi (bagi asing) memungkinkan investasi dana yang lebih besar, sehingga tidak hanya memberikan kesempatan untuk memproduksi film dengan biaya lebih besar dan berkesinambungan, tetapi juga transfer ilmu dan sumbangan pendapatan negara,” ungkap Sheila Timothy, produser Wiro Sableng 212 sekaligus Ketua Asosiasi Produser Film Indonesia (Aprofi) dalam sebuah kesempatan saat mengomentari revisi DNI.

Baca Juga: Dapat Hibah USD5,5 Juta, Kepala Bekraf Ingin Film Indonesia Go-Korea

Untuk melancarkan sistem pendanaan bersama ini, Bekraf untuk pertama kalinya juga mengadakan program Akatara Indonesia Film Financing Forum pada 15-16 November lalu. Menurut Kepala Bekraf Triawan Munaf, program ini ibarat biro jodoh bagi pemilik ide cerita dengan calon investor dari dalam maupun luar negeri. Bekraf merencanakan menggelar program ini dua kali dalam setahun.

Tawarkan waralaba bioskop

Sementara itu bidang ekshibisi atau pertunjukan film boleh jadi adalah domain yang paling bergairah dalam lima tahun terakhir. Dalam kurun waktu tersebut, tumbuh lima jaringan bioskop baru, yaitu Cinemaxx, Platinum Cineplex, New Star Cineplex, Flix Cinema, dan yang terbaru Kota Cinema Mall. Sebelum itu, hanya ada jaringan raksasa Cinema 21 yang dibangun sejak 1987. Diikuti Blitzmegaplex tahun 2006, yang namanya berubah dari CGV Blitz, lalu kini menjadi CGV Cinemas setelah dimiliki oleh perusahaan Korea Selatan CJ CGV.

Selain kedua jaringan besar ini, ada pula pemain lainnya yang datang dari beragam latar belakang. Awalnya memang baru taipan industri perfilman Raam Punjabi, lewat perusahaannya, Tripar Multivision Plus, yang mendirikan Platinum Cineplex pada 2012. Namun, sejak 2014, raksasa properti seperti Lippo Group dan Agung Sedayu Group pun tertarik terjun ke bisnis bioskop. Lippo Group yang membangun Cinemaxx cukup masif dalam berekspansi. Data dari situs web filmindonesia.or.id , baru tiga tahun, mereka sudah memiliki 142 layar yang tersebar di 28 bioskop di 21 kota.

Target mereka ambisius, yaitu membangun 2.000 layar di 85 kota dalam waktu 10 tahun ke depan. Sementara Agung Sedayu Group membangun bioskop di bawah nama Flix Cinema sejak Mei 2017. Seperti Cinemaxx yang membangun jaringan bioskopnya di gedung-gedung milik Lippo, Flix Cinema pun mendirikan bioskopnya di properti milik Agung Sedayu Group. Sementara, pemain terbaru yaitu Kota Cinema Mall yang baru dibuka pada Juni lalu di Jatiasih, Bekasi.

Pemainnya adalah Yoenka dan Sudiadi yang lama berkecimpung di rumah produksi Maxima Pictures. Bagi perusahaan properti seperti Lippo Group dan Agung Sedayu Group, ekspansi lebih mudah karena bisa memanfaatkan properti milik sendiri yang tersebar di banyak kota besar di seluruh Indonesia. Sementara Cinema 21 yang berada di bawah naungan PT Nusantara Sejahtera Raya pun tak mau kalah. Demi mengimbangi para pesaingnya yang semakin membesar, tahun lalu jaringan bioskop terbesar di Indonesia ini menerima suntikan dana dari lembaga pengelola dana investasi milik pemerintah Singapura, GIC, senilai USD265 juta (Rp3,5 triliun).

Sementara, bagi jaringan bioskop lainnya, dengan cerdik memilih second city atau kota kedua yang belum banyak disentuh pemain besar. Contohnya Platinum Cineplex yang membangun bioskopnya di Batu Raja Kabupaten Ogan Komering Ulu dan Lahat (Sumatera Selatan), Palopo (Sulawesi Selatan), Bitung (Sulawesi Utara), Magelang dan Sukoharjo (Jawa Tengah), Sidoarjo (Jawa Timur), dan Cibinong (Jawa Barat). New Star Cineplex juga konsisten menyasar pasar di kota kedua di Jawa Timur, di antaranya Bo jonegoro, Banyuwangi, dan Jember.

Baca Juga: Investor China dan Korea Sudah Minati Industri Perfilman RI

“Dulu orang harus jalan delapan jam terlebih dahulu untuk menonton, karena bioskop hanya di kota besar. Sekarang tidak lagi,” ujar Raam Punjabi. Diakui Raam, nilai investasi di kota kedua bisa lebih besar hingga 25% dibanding di kota besar. “Tapi di sini kesempatannya masih luas,” kata Raam yang juga memelopori konsep sinepleks (kompleks sinema) di Indonesia, dengan membangun bioskop Kartika Chandra yang kini menjadi bioskop Hollywood XXI. Konsentrasi menyasar kota kedua untuk kelas menengah ke bawah juga dilakukan Kota Cinema Mall. Menurut COO Kota Cinema Mall Sudiadi, pihaknya segera merencanakan membangun bioskop di Madura, Jember, Banjarnegara, Malang, Pontianak, Batam, dan Makassar.

“Kota Cinema Mall hanya sebagai operator bioskop, sementara investasinya terbuka dengan konsep waralaba. Nilai investasinya tergantung lokasi, tapi kurang lebih 16-20 miliar rupiah untuk tiga studio,” urainya.

1
3

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini