Dana Segar dari Luar Negeri untuk Industri Film

Koran SINDO, Jurnalis · Senin 18 Desember 2017 12:12 WIB
https: img.okezone.com content 2017 12 18 320 1832031 dana-segar-dari-luar-negeri-untuk-industri-film-5VRmwpMlg9.jpg Foto: Koran SINDO

Film Joko Anwar lainnya, A Copy of My Mind , adalah salah satu yang mendapat hibah dari CJ Entertainment senilai USD10.000 (kurang dari Rp150 juta). “Pembukaan sektor produksi (bagi asing) memungkinkan investasi dana yang lebih besar, sehingga tidak hanya memberikan kesempatan untuk memproduksi film dengan biaya lebih besar dan berkesinambungan, tetapi juga transfer ilmu dan sumbangan pendapatan negara,” ungkap Sheila Timothy, produser Wiro Sableng 212 sekaligus Ketua Asosiasi Produser Film Indonesia (Aprofi) dalam sebuah kesempatan saat mengomentari revisi DNI.

Baca Juga: Dapat Hibah USD5,5 Juta, Kepala Bekraf Ingin Film Indonesia Go-Korea

Untuk melancarkan sistem pendanaan bersama ini, Bekraf untuk pertama kalinya juga mengadakan program Akatara Indonesia Film Financing Forum pada 15-16 November lalu. Menurut Kepala Bekraf Triawan Munaf, program ini ibarat biro jodoh bagi pemilik ide cerita dengan calon investor dari dalam maupun luar negeri. Bekraf merencanakan menggelar program ini dua kali dalam setahun.

Tawarkan waralaba bioskop

Sementara itu bidang ekshibisi atau pertunjukan film boleh jadi adalah domain yang paling bergairah dalam lima tahun terakhir. Dalam kurun waktu tersebut, tumbuh lima jaringan bioskop baru, yaitu Cinemaxx, Platinum Cineplex, New Star Cineplex, Flix Cinema, dan yang terbaru Kota Cinema Mall. Sebelum itu, hanya ada jaringan raksasa Cinema 21 yang dibangun sejak 1987. Diikuti Blitzmegaplex tahun 2006, yang namanya berubah dari CGV Blitz, lalu kini menjadi CGV Cinemas setelah dimiliki oleh perusahaan Korea Selatan CJ CGV.

Selain kedua jaringan besar ini, ada pula pemain lainnya yang datang dari beragam latar belakang. Awalnya memang baru taipan industri perfilman Raam Punjabi, lewat perusahaannya, Tripar Multivision Plus, yang mendirikan Platinum Cineplex pada 2012. Namun, sejak 2014, raksasa properti seperti Lippo Group dan Agung Sedayu Group pun tertarik terjun ke bisnis bioskop. Lippo Group yang membangun Cinemaxx cukup masif dalam berekspansi. Data dari situs web filmindonesia.or.id , baru tiga tahun, mereka sudah memiliki 142 layar yang tersebar di 28 bioskop di 21 kota.

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini