Image

Menikah dengan Teman Sekantor Bisa Mempermulus Rencana Keuangan Keluarga

Anisa Anindita, Jurnalis · Senin 18 Desember 2017, 14:04 WIB
https: img-o.okeinfo.net content 2017 12 18 320 1832099 menikah-dengan-teman-sekantor-bisa-mempermulus-rencana-keuangan-keluarga-ViLCcivsA0.jpg Ilustrasi:

JAKARTA - Meski sebelumnya pemerintah melarang pernikahan dengan rekan sekantor, kini Mahkamah Konstitusi (MK) telah melegalkan pernikahan dengan teman sekantor yang terdapat dalam Undang-Undang Nomor 13 Tahun 203 pasal 153 ayat (1) huruf F tentang pelarangan pernikahan sesama pegawai.

Menurut pandangan Perencana Keuangan Andi Nugroho, hal tersebut sah saja. Bahkan dengan menikahi teman sekantor dapat lebih memeperlancar perencanaan keuangan keluarga karena sudah mengetahui berapa pemasukan yang akan didapat.

“Menurut saya dengan pasangan kita tahu berapa gaji yang kita dapat karena mereka teman sekantor malah lebih baik untuk memuluskan perencanaan keuangan keluarga,” ungkap Andi kepada Okezone.

 Baca Juga: Bursa Efek Persilahkan Karyawan Nikahi Teman Sekantor

Selain itu, Andi menambahkan, pada hakikatnya hubungan suami istri harus saling keterbukaan dalam berbagai hal, termasuk masalah pendapatan, dan penggunaan uang.

Andi memberikan pandangan buruk jika terjadi perselisihan karena saling menutupi maka dapat menghancurkan hubungan suami istri.

“Karena bila terjadi perselisihan ataupun saling menutupi malah justru bisa berefek retaknya perkawinan,” tambahnya.

 Baca Juga: Sikapi Langkah MK, Apindo: Kalau Suami Istri Satu Kantor Rawan Konflik Kepentingan

Akan tetapi, Andi memberikan tips bagi pasangan yang menikah dengan teman sekantor, yaitu harus melalui kesepakatan bersama dari segala hal. Misalnya, pendapatan suami untuk kebutuhan sehari-hari, sedangkan pendapatan istri untuk ditabung atau kebutuhan penting lainnya.

“Cara mengelola pastinya harus melalui kesepakatan bersama. Semisal gaji suami untuk kebutuhan sehari-hari sementara gaji istri untuk ditabung atau kebutuhan lainnya,” lanjut Andi.

Sementara itu, bila pasangan suami istri memiliki tanggungan keuangan di luar dari keluarga inti, misalnya suami yang membantu keuangan orangtuanya, dan istri yang membantu biaya pendidikan adiknya. Maka dari itu, pasangan suami istri harus terbuka untuk menginformasikan semuanya, agar tidak terjadi perselisihan.

 Baca Juga: Izinkan 130.000 Pegawainya Menikah dengan Teman Sekantor, Bos BRI: Harus Beda Divisi

Di samping itu, Andi memberikan solusi bagi pasangan suami istri yang ingin tetap mempunyai dana pribadi, yaitu dengan menyisihkan penghasilannya untuk melakukan hobi tersebut. Jadi, tidak menggunakan uang bersama karena sebaiknya uang bersama dilakukan untuk kebutuhan bersama.

“Kalau untuk hobi misalnya hobi itu hanya disukai oleh salah satu saja antara suami atau istri. Maka sebaiknya mereka yang punya hobi tersebut yang menyisihkan penghasilannya untuk melakukan hobi tersebut. Jadi tidak mengganggu keuangan bersama,” pungkasnya.

(dni)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini