nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Adaro Bagikan Deviden Interim Sebesar Rp1,35 Triliun

Agregasi Kamis 04 Januari 2018 11:49 WIB
https: img-z.okeinfo.net content 2018 01 04 278 1839864 adaro-bagikan-deviden-interim-sebesar-rp1-35-triliun-V3yy8KJ6Ri.jpg Ilustrasi pekerja

JAKARTA - PT Adaro Energy Tbk (ADRO) menetapkan kurs konversi pembagian dividen interim pada 2017. Pembagian deviden ini akan mengacu pada kurs tengah Bank Indonesia per 3 Januari 2017 sebesar Rp13.498 per dollar Amerika Serikat (AS) sesuai dengan surat perusahaan per 21 Desember 2017.

Maka dengan demikian, kata Mahardika Putranto, Sekretaris Perusahaan ADRO dalam siaran persnya di Jakarta, kemarin, jumlah keseluruhan dividen tunai yang akan dibagikan perusahaan dalam mata uang rupiah adalah sebesar Rp1,35 triliun. Nantinya, ADRO akan membagikan dividen untuk 31,98 miliar saham dengan masing-masing saham akan memperoleh dividen sebesar Rp42,25 untuk setiap saham.

Apabila mengacu pada harga saham ADRO pada pertengahan perdagangan Rabu 3 Januari kemarin sebesar Rp1.835, maka dividen yield dari aksi korporasi perusahaan berada di kisaran sekitar 2,3%.

Sebagai informasi, perseroan telah menuai hasil mengakuisisi 75% saham IndoMet Coal Project dari BHP Billiton dengan nilai US$ 120 juta pada Juni 2016. Sebelumnya Adaro sudah memiliki saham 25% di perusahaan tambang asal Australia itu sejak tahun 2010. Alhasil, 100% saham tujuh tambang BHP Billiton itu kini dikuasai oleh Adaro.

Setelah aksi tersebut, aset yang sebelumnya bernama IndoMet Coal Project, kini berubah nama menjadi Adaro MetCoal Companies. Ada tujuh usaha pertambangan dengan kontrak Perjanjian Karya Pengusahaan Pertambangan Batubara (PKP2B) Generasi III di bawah Adaro MetCoal itu, yakni PT Lahai Coal, PT Ratah Coal, PT Juloi Coal, PT Pari Coal, PT Sumber Barito Coal, PT Kalteng Coal dan PT Maruwai Coal. Total sumber daya batubara dari ketujuh tambang itu sebesar 1,27 miliar ton.

Febriati Nadira, Head of Corporate Communication Adaro Energy pernah mengatakan, Adaro Metcoal Companies sudah bisa memproduksi cooking coal alias batubara kokas semi lunak dan thermal peringkat tinggi. Hingga akhir September 2017 lalu, Adaro MetCoal sudah memproduksi batubara kokas sebanyak 670.000 ton.

Disebutkan, batubara kokas ini tidak hanya dijual di Indonesia, melainkan juga dijual ke luar negeri. Kokas ini digunakan untuk keperluan industri besi dan baja, pengecoran, dan industri lain. Sayang, perseroan tidak bersedia menyebutkan harga jual batubara kokas tersebut, baik harga jual di dalam negeri maupun harga impor. Namun berdasarkan catatan The Steel Index, harga batubara kokas sekitar USD176 per ton. Bahkan di pasar spot harga batubara kokas bisa mencapai USD300 per ton. Harga ini jauh lebih mahal dibandingkan harga batubara thermal yang hanya USD90 per ton.

(rhs)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini