nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Kementerian PUPR Nyatakan Insiden Girder Jatuh Pada Proyek Tol Desari karena Human Error

Giri Hartomo, Jurnalis · Kamis 04 Januari 2018 20:43 WIB
https: img-z.okeinfo.net content 2018 01 04 320 1840250 kementerian-pupr-nyatakan-insiden-girder-jatuh-pada-proyek-tol-desari-karena-human-error-e7FWXUgl0X.jpg Ilustrasi (Foto: Okezone)

JAKARTA - Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) tengah mengevaluasi peristiwa ambruknya enam batang girder pada proyek Jalan Tol Depok-Antasari. Pasalnya, peristiwa tersebut menjadi isu yang masih terus berkembang dalam beberapa hari belakangan ini.

Direktur Jenderal (Dirjen) Bina Konstruksi Kementerian PUPR Syarif Burhanuddin mengatakan berdasarkan pengamatannya sejauh ini dengan mendengarkan penjelasan dari berbagai sumber, pihaknya menyimpulkan jika kecelakaan tersebut bukanlah kesalahan konstruksi. Menurutnya kejadian tersebut murni merupakan human error dan kecelakaan kerja.

 Baca juga: Kementerian PUPR Nyatakan Insiden Girder Jatuh Pada Proyek Tol Desari karena {Human Error}

Pasalnya, selama pengerjaan semua proses sudah sesuai dengan Standar Operasional (SOP) yang berlaku. Selain itu, dalam kejadian juga, pihaknya mendapatkan laporan jika ambruknya jembatan tersebut dikarenakan girder tersebut tertabrak oleh eskavator.

"Dalam waktu dua bulan ada beberapa kejadian utamanya masalah girder. Yang terakhir sekali karena alat berat yang melewati girder sehingga tersangkut jadi buka karena strukturnya, hanya karena operatornya saja jadi ini hanya human eror. Karena kalau kejadian kemarin sudah dilakukan secara SOP," ujarnya saat ditemui di Kementerian PUPR, Jakarta, Kamis (4/1/2017).

Lebih lanjut Syarif menambahkan, insiden tersebut juga tidak terlepas dari teknologi konstruksi yang masih kurang memadai. Oleh karena itu pihaknya tengah memikirkan agar teknologi tersebut bisa terus ditingkatkan agar tidak ada lagi kejadian seperti itu.

"Yang menjadi masalah di lapangan juga adalah persoalan teknologi. Artinya tahapan sudah diikuti tapi teknologi yang perlu ditingkatkan sehingga kerawanan kecelakaan tidak terjadi lagi," jelasnya.

Selain itu, insiden ini juga tidak terlepas dari masih minimnya tenaga ahli dan terampil yang telah memiliki sertifikasi. Pasalnya dari hampir 7,4 juta tenaga ahli dan terampil di bidang konstruksi, baru sekitar 10% yang sudah disertifikasi.

"Program sertifikasi juga terus kita lakukan karena itu menjadi poin penting dan program untama bina konstruksi. Tenaga kerja konstruksi wajib bersertifikat. Sehingga kekhawatiran kita terhadap keselamatan kerja semakin berkurang.

Sementara itu, Direktur Penyelenggaraan Jasa Konstruksi Kementerian PUPR juga mencurigai jika kecelakaan tersebut merupakan human eror. Pasalnya saat menggunakan eskavator justru orang tersebut tidak bisa mengendalikannya.

"Kami curiga operator eskavator ya memang KW. Sebab saat dia menjalankan dia tidak bisa mengendalikannya," jelasnya.

(rzy)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini