Investasi Sektor Perikanan Harus Dorong Aspek Ekologis dan Ekonomis

Giri Hartomo, Jurnalis · Rabu 10 Januari 2018 15:57 WIB
https: img.okeinfo.net content 2018 01 10 320 1842950 investasi-sektor-perikanan-harus-dorong-aspek-ekologis-dan-ekonomis-htsCdkQJqC.jpg Wakil Ketua Umum Kadin Yugi Prayanto. (Foto: Okezone)

JAKARTA - Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia meminta pemerintah untuk lebih memperhatikan aspek produksi, penyerapan dan pemasaran, industrialisasi hingga peningkatan investasi di sektor perikanan.

Wakil Ketua Umum Kadin Bidang Kelautan dan Perikanan Yugi Prayanto mengatakan, berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) ekspor produk perikanan mengalami penurunan setiap tahunya. Adapun ekspor produk perikanan di 2016 dan 2017, relatif sama yakni 1,07 juta ton. Jumlah tersebut lebih rendah dibandingkan dengan tahun sebelumnya yang mencapai 1,1 juta.

"Pemerintah dapat memberikan kemudahan dalam proses penangkapan dan produksi komoditas perikanan. Pasalnya, sekarang ini kondisi di lapangan kurang begitu kondusif. Masih banyak nelayan yang mengeluhkan tentang kebijakan pemerintah. Ini tentu menghambat proses produksi,” ujarnya dalam acara bincang santai di Menara BTPN, Jakarta, Rabu (10/1/2018).

Baca Juga: Menko Luhut: Sudah Waktunya Kita Melihat Laut sebagai Poros Dunia 

Lebih lanjut, Yugi menyarankan agar pemerintah dapat memetakan kebijakan yang proporsional. Tentunya, kebijakan tersebut harus memperhatikan aspek ekologis dan ekonomis untuk keberlanjutan sektor kelautan dan perikanan nasional.

“Ekspor produk perikanan Indonesia belum banyak mengalami perubahan, jumlahnya juga ternyata semakin turun dan ini merupakan dampak dari turunnya produksi," jelasnya.

Oleh karenanya, Kadin mengingatkan pemerintah untuk terus mendorong sektor budidaya. Pasalnya potensi yang dimiliki dari budidaya tidak kalah besar. Dirinya memperkirakan, Indonesia berpotensi menguasai 25% pasar seafood dunia di 2024 dengan capaian 240 juta ton per tahun sesuai dengan data yang diperoleh dari FAO.

Baca Juga: Menteri Susi: Kalau Ada Calo Program, Laporkan ke Saya!

Dengan asumsi sebesar 60 juta ton per tahun dapat menjadi yang terbesar di dunia, senilai USD240 miliar per tahun dan dapat membuka lapangan kerja langsung untuk 30 juta kepala keluarga.

“Perkembangan budidaya kita masih harus ditingkatkan lagi. Dalam hal ini kita masih banyak ketinggalan sehingga pertumbuhan dan kontribusinya juga belum optimal," tutur dia.

(mrt)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini