Image

Wall Street Anjlok Gara-Gara Rumor China Stop Beli Obligasi AS

Dani Jumadil Akhir, Jurnalis · Kamis 11 Januari 2018, 07:38 WIB
https: img.okeinfo.net content 2018 01 11 278 1843283 wall-street-anjlok-gara-gara-rumor-china-stop-beli-obligasi-as-mS3ijsC53e.jpg Ilustrasi: Shutterstock

NEW YORK - Wall Street anjlok pada penutupan perdagangan Rabu waktu setempat (Kamis pagi WIB), tertekan kekhwatiran investor seiring laporan dari China yang akan memperlambat pembelian obligasi pemerintah Amerika Serikat (AS).

Sentimen lainnya yang membawa Wall Street anjlok karena Presiden AS Donald Trump akan mengakhiri sebuah kesepakatan perdagangan AS.

Melansir Reuters, Kamis (11/1/2018), indeks Dow Jones Industrial Average turun 16,67 poin atau 0,07% menjadi 25.369.13, indeks S&P 500 turun 3,06 poin atau 0,11% menjadi 2.748,23 dan indeks Nasdaq Composite turun 10,01 poin atau 0,14% menjadi 7.153,57.

 Baca juga: Wall Street Terancam Alami Penurunan Pertama di 2018

Dalam laporan, China sebagai pemegang saham terbesar obligasi pemerintah AS akan memperlambat bahkan siap menghentikan pembelian obligasi pemerintah AS.

Investor gelisah tentang laporan China, lantaran mereka khawatir pasar telah terlambat untuk mengoreksi.

"Ini adalah cerminan keletihan dan kesadaran investor bahwa pasar telah meningkat selama empat bulan berturut-turut tanpa melihat kemunduran besar," kata Kepala strategi Investasi SlateStone Wealth Robert Pavlik di New York.

 Baca juga: Wall Street Menguat Didukung Laporan Keuangan Emiten Kuartal IV-2017

Sementara itu, indeks saham S&P 500 juga turun karena Kanada semakin yakin bahwa Trump akan segera menarik diri dari perjanjian perdagangan Amerika Utara.

"Ini adalah minggu yang cukup cerah untuk data ekonomi dan keuangan. Dalam seminggu seperti ini, headline politik bisa memiliki dampak yang lebih besar dari biasanya, "kata Ahli Strategi Investasi di Schroders Investment Management Jon Mackay di New York.

Sementara Mackay mengatakan bahwa aksi jual itu berlebihan, dia mencatat bahwa perubahan pada perjanjian NAFTA dapat merugikan pendapatan perusahaan.

"Jika berita itu benar, Anda akan mengharapkan harga dolar lebih tinggi dan dampak negatif terhadap pendapatan," kata Mackay.

(dni)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini