Lebih Pilih Tenggelamkan Kapal, KKP Akhirnya Buka Rahasia soal Nelayan Indonesia

Ulfa Arieza, Jurnalis · Kamis 11 Januari 2018 20:33 WIB
https: img.okeinfo.net content 2018 01 11 320 1843700 lebih-pilih-tenggelamkan-kapal-kkp-akhirnya-buka-rahasia-soal-nelayan-indonesia-dZYHVtKnCK.jpg Ilustrasi Nelayan. (Foto: ANT)

JAKARTA - Menteri Koordinator Bidang kemaritiman Luhut Panjaitan meminta agar kapal asing yang tertangkap mencuri di perairan Indonesia tidak ditenggelamkan namun dimanfaatkan nelayan. Dengan demikian, maka nelayan Indonesia akan mendapatkan kapal baru tanpa perlu mengeluarkan biaya.

Direktur Jenderal Perikanan Tangkap , Sjarief Widjaja mengungkapkan, karakter kapal asing dengan kapal yang biasa digunakan oleh nelayan Indonesia berbeda. Sehingga, memberikan kapal asing kepada nelayan bukan solusi yang tepat.

"Kapal itu karakternya berbeda antara kapal-kapal. Nelayan kita tumbuh dari kehidupan tradisional, dia berangkat dari nenek moyang pelaut, dan dia dari lahir sudah mengenai bentuk kapal seperti itu, kalau anda beri kapal lain dan enggak cocok sama bayangan dia di masa kecil dia enggak mau make," ujarnya di gedung Mina Bahari IV, Jakarta, Kamis (11/1/2018).

Baca Juga: Ada 62 Kapal Siap Ditenggelamkan, Bagaimana Nasibnya?

Sjarief menyebutkan, kapal nelayan Indonesia tidak hanya sekadar kapal untuk alat menangkap ikan. Lebih dari itu, kapal-kapal itu mengusung identitas daerah masing-masing yang melambangkan kekayaan budaya Indonesia.

"Jadi nelayan kita sangat spesifik. Nelayan Madura kapalnya beda dengan kapal di Bagan Si Api-Api, Maluku jadi beda semua. Jadi kalau anda memaksakan kapal itu masuk itu perlu waktu untuk mentranformasi itu," ujarnya.

Baca Juga: Ada Penenggelaman Kapal Saja Masih Banyak Pencuri Ikan, Bagaimana kalau Tidak?

Di samping itu, ukuran kapal asing juga menjadi pertimbangan tersendiri. Pasalnya, kebanyakan kapal asing yang ditangkap bukan kapal kecil, tapi kapal besar, dengan ukuran rata-rata 60GT,80GT,100GT, bahkan ada yang 300 GT. Padahal nelayan kecil Indonesia biasanya menggunakan kapal 3GT.

Sehingga untuk operasional kapal sebesar itu memerlukan modal yang tidak kecil. "Mengoperasikan kapal sebesar itu bukan nelayan. Jadi itu harus korporasi yang memiliki kekuatan modal," kata dia.

Meskipun pengelolaannya diberikan kepada koperasi nelayan, Sjarief juga tidak yakin pengelolaanya akan berjalan lancar. Sehingga usulan pemberian kapal asing kepada nelayan Indonesia perlu ditinjau ulang "Jadi kalau nelayan kasih itu, meskipun dari koperasi kumpul itu enggak bisa, karena model pengelolaan beda," tandas dia.

(mrt)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini