Data Pangan Kementan dan BPS Sering Tak Cocok, Harus Segera Diperbaiki

Koran SINDO, Jurnalis · Jum'at 12 Januari 2018 09:54 WIB
https: img-o.okeinfo.net content 2018 01 12 320 1843899 data-pangan-kementan-dan-bps-sering-tak-cocok-harus-segera-diperbaiki-82sqkZR2y7.jpg Ilustrasi: (Foto: Okezone)

JAKARTA – Kementerian Pertanian (Kementan) dan Badan Pusat Statistik (BPS) harus segera memperbaiki data pangan khususnya beras agar bisa menjadi acuan yang tepat dalam mengambil kebijakan soal pangan. Data pangan yang dipublikasikan selama ini diragukan keakuratannya.

”Pemerintah harus perbaiki data pangan yang selalu bermasalah setiap tahun sehingga membuat pemerintah kurang mampu antisipasi gejolak harga beras. Pemerintah juga harus perbaiki kebijakan yang dapat memicu kenaikan harga dan gejolak stok beras nasional,” kata Anggota Komisi IV DPR dari Fraksi Partai Golkar Ichsan Firdaus melalui keterangan tertulisnya, kemarin.

 Baca juga: Kemendag Impor Beras Thailand Akibat Harga yang Terus Naik

Menurutnya, kenaikan harga beras per Januari 2018, khususnya harga beras medium, setidaknya disebabkan beberapa hal, mulai dari keraguan akan data naiknya produksi beras hingga adanya kebijakan Menteri Pertanian (Mentan) Amran Sulaiman yang mengatur harga beras medium (broken 15%) dihargai premium yang menyebabkan kelangkaan beras medium di pasaran.

”Dalam siklus tanam, biasanya bulan Desember sampai Februari itu merupakan masa tanam sehingga pada jangka waktu bulan tersebut memang merupakan musim paceklik. Tetapi, jika ada pihak yang mengatakan pekan ketiga Januari 2018 itu adalah masa panen, perlu dipertanyakan akurasinya,” katanya.

Baca juga: Kemendag Impor Beras Thailand Akibat Harga yang Terus Naik

Begitu pun dengan Wakil Ketua Komisi IV DPR Michael Watimena yang memberi catatan kritis terhadap kinerja Mentan Amran Sulaiman. Pasalnya, sebelum reses DPR pada Desember lalu, sempat diinformasikan Bulog memiliki stok beras yang cukup, yakni di atas 2 juta ton.

Namun kenyataannya, hingga awal Januari tahun ini stok beras di Bulog tidak lebih dari 1 juta ton.

”Waktu Komisi IV melakukan reses terakhir pada akhir Desember lalu, informasi dari Bulog tersedia stok beras di atas 2 juta ton. Ternyata kon disi akhir-akhir ini menun juk kan stok beras di Bulog tidak lebih dari 1 juta ton, bahkan dikatakan di bawah 1 juta ton. Kondisi ini membuat suplai beras ke pengecer menjadi relatif terbatas,” ucapnya.

Sementara itu, kendati pemerintah melalui Perum Bulog sudah mengintervensi harga beras di pasaran, tapi harga beras di sejumlah daerah belum juga turun.

Di Kendal, Jawa Tengah (Jateng), harga beras di sejumlah pasar tradisional naik hingga Rp2.500 per kilo gram (kg). Demikian juga di Salatiga, Jateng. Karena itu, untuk meredam gejolak harga beras di daerah ini, pemkot setempat siap melakukan operasi pasar (OP) beras.

”Tadi pagi saya melakukan survei di pasar, memang benar harga semua jenis beras naik antara Rp500 hing ga Rp2.000 per kg,” tutur Kepala Dinas Perdagangan Kota Salatiga Muthoin, kemarin.

Dari informasi sejumlah distributor beras di Salatiga, kata Muthoin, saat ini daerah produsen beras di Jawa Timur sedang mengalami gagal panen akibat cuaca buruk. Karena itu, produksi menurun dan stok sudahmenipis. Imbasnya, beras yang dipasok ke Salatiga pun jumlahnya menurun drastis.

Berdasarkan data Kementerian Perdagangan (Kemendag), harga beras medium pada Juli 2017 berada di level Rp10.574perkgdanmening kat menjadi Rp10.794 per kg pada November di tahun yang sama. Pada Januari 2018, angka ini merangkak naik menjadi Rp11.041 per kg.

Sudarsono/Sindonews

1 / 2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini