Polemik Beras Awal 2018, dari Kenaikan Harga hingga Keran Impor Dibuka

Yohana Artha Uly, Jurnalis · Jum'at 12 Januari 2018 11:35 WIB
https: img.okeinfo.net content 2018 01 12 320 1843928 polemik-beras-awal-2018-dari-kenaikan-harga-hingga-keran-impor-dibuka-m7WWAhASby.jpg Ilustrasi: (Foto: Okezone)

JAKARTA - Harga beras kelas medium terus melambung melewati batas Harga Eceran Tertinggi (HET) Rp9.450 per kilogram (kg). Hal ini terjadi karena pasokan beras yang terus berkurang di pasaran.

Namun hal berbeda dikatakan oleh Menteri Pertanian (Mentan) Amran Sulaiman yang menilai pasokan beras cukup, terlebih sekarang sudah memasuki masa panen puncak. Hal ini bahkan membuat dirinya heran dengan pasokan yang cukup, bahkan data Kementan menunjukkan surplus, kendati harga beras terus melambung.

"Oktober kita sudah mulai tanam. Umur padi itu 3 bulan, berarti sampai Desember. Di Januari ini sampai April nanti kita sudah panen puncak," ujar Amran di Kementerian Pertanian, Jakarta, Kamis, 11 Januari 2018.

Baca juga: Mendag: Jangan Tahan Beras, Keluarkan dari Gudang!

Berdasarkan data produksi dan konsumsi beras Kementerian Pertanian untuk Januari-April 2018, di Januari produksi beras mencapai 4,5 juta ton gabah kering giling (GKG) dengan ketersedian beras sebanyak 2,8 juta ton dan konsumsi beras 2,5 juta ton. Artinya ada surplus beras sebanyak 329,320 ton.

Pada Febuari 2018, produksi meningkat menjadi 8,6 juta ton GKG dengan ketersediaan beras sebanyak 5,4 juta dan konsumsi beras 2,5 juta ton. Dengan surplus beras 2,9 juta ton. Pada Maret produksi berat kembali meningkat 11,9 juta ton GKG , dengan ketersedian beras sebanyak 7,47 juta ton dan konsumsi 2,5 juta ton. Artinya surplus 4,971 ton.

Bertentangan dengan data Kementan, pasokan beras ternyata mengalami kelangkaan. Fakta ini membuat Wakil Presiden Jusuf Kalla (JK) angkat suara. JK meminta untuk mengkaji opsi impor beras kelas medium guna menstabilkan harga di pasar-pasar yang kini terus merangkak naik.

"Opsi impor tidak dilarang, tapi kita minta jajaki tadi, 'incase' ada sesuatu perlu, incase, kalau memang makin naik itu harus impor segera," katanya di Kantor Presiden, Selasa, 9 Januari 2018.

Baca juga: Kemendag Impor Beras Thailand Akibat Harga yang Terus Naik

Asosiasi Pedagang Pasar Indonesia (APPI) di Pasar Induk Beras Cipinang pun merespon pernyataan JK untuk bisa segera melakukan impor beras guna menyelamatkan harga beras medium yang kini mencapai Rp11.000 per kg.

"Menurut saya kalau ngomong Wakil Presiden ikutin lah. Katanya dibilang surplus, Mentan barangnya mana," ujar Sekertaris Jenderal APPI Ngadiran kepada Okezone.

Ketua Umum Koperasi Pasar Induk Beras Cipinang Zulkifly Rasyid juga mengatakan, adanya inkonsisten terhadap kata-kata Mentan yang selalu menyampaikan Indonesia surplus beras. Padahal faktanya harga beras kelas medium naik karena pasokan beras ke Pasar Induk Beras Cipinang kian berkurang.

"Jadi sekarang kita mau berpengang mana yang katanya Mentan surplus mana. Datanya mana, kalau datanya benar kan barang ada. Kalau data enggak benar, kan gitu," ujarnya kepada Okezone.

Opsi impor pun langsung ditanggapi oleh Kementerian Perdagangan (Kemendag). Keran impor kembali dibuka pada Januari ini dengan 500.000 ton beras khusus dikirimkan dari Thailand dan Vietnam.

"Saya akan mengisi pasokan yang kosong ini dengan impor beras. Pasokan ini akan masuk akhir Januari. Harganya (beras khusus) kita tidak peduli berapa, tapi kita akan jual dengan harga beras medium. Kategori beras khusus tapi kita jual medium," ujar Enggar di Kemendag, Jakarta, Kamis 11 Januari 2018.

Enggar mengatakan impor tersebut sesuai ketentuan Permendag No.1 Tahun 2018 yakni beras yang di impor memang harus beras khusus. Sehingga hal ini, kata dia, takkan mematikan petani dalam negeri.

Mengenai, pernyataan pasokan yang cukup oleh Mentan, Enggar enggan berkomentar. Dia mengatakan mengenai produksi bukanlah bagiannya.

"Analisa situasi produksi segala macem bukan wilayah saya. Saya lebih terkonsentrasi di ketersedian dan pasokannya," ujar dia.

Enggar menyatakan tak ingin dipertentangkan antara dirinya dengan Mentan. Kata dia, yang terjadi adalah kelangkaan pasokan dan hal tersebut merupakan bagian dia untuk memenuhinya.

"Saya tidak mau dipertentangkan dengan apakah itu di hulu atau hilir. Jangan dipertentangkan antara saya dengan Mentan. Poinnya ada kekurangan, kelangkaan pasokan, masalah gudang dan distribusi urusan kami," tandasnya.

Enggar mengatakan lebih memilih untuk berbicara solusi ketimbang menanggapi pertentangan mengenai kelangkaan beras.

"Penyebabnya mana? Kita jangan cari penyebabnya, kita isi aja dulu (pasokan beras). Kalau kita berdebat, kita asik disitu tapi kita lupa kebutuhan rakyat dan ini urusan perut," ucap dia.

Enggar meyakini, solusi dengan membuat ketersediaan beras semakin melimpah dipasaran maka akan menekan harga beras medium. Pasalnya dengan banyaknya ketersedian beras yang sesuai HET, kata dia, akan membuat pedagang enggan melakukan penimbunan beras terlebih bermain harga.

"Harganya (beras medium) akan kita kendalikan, dan jangan pernah berpikir kepada para pedagang beras untuk bisa memainkan harga. Kami intervensi. Sekarang yang pasti dipasaran kekurangan pasokan beras medium," pungkasnya

1 / 2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini