Menko Luhut Panggil Sofyan Djalil dan Investor Bahas Percepatan Produksi Garam

Yohana Artha Uly, Jurnalis · Jum'at 12 Januari 2018 19:24 WIB
https: img-k.okeinfo.net content 2018 01 12 320 1844270 menko-luhut-panggil-sofyan-djalil-dan-investor-bahas-percepatan-produksi-garam-vMHHIqsRdl.jpg Ilustrasi: (Foto: Okezone)

JAKARTA - Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman mengadakan rapat koordinasi pengelolaan penggaraman nasional sore ini.

Menteri Agraria dan Tata Ruang/Kepala BPN (ATR/BPN) Sofyan Djalil yang turut hadir dalam rapat ini mengatakan, rapat ini juga dihadiri sejumlah investor komoditas garam dari Nusa Tenggara Timur (NTT).

"Tentang garam saja. Jadi Pak Menko, kan ada program percepatan produksi garam bagaimana kita bisa swasembada garam. Oleh karena itu pak menko manggil semua investor dan semua pihak untuk melihat update kemajuan terhadap pengembangan industri garam," jelas Sofyan di Kantor Kemenko Maritim, Jakarta, Jumat (12/1/2018).

Baca Juga: Produksi Garam Industri, BPPT-PT Garam Kerjasama Bangun Pabrik di Kupang

Untuk diketahui pemerintah saat ini tengah mengembangkan lahan penggaraman terintegrasi di kawasan lahan penggaraman di Kupang, NTT. Di mana sejumlah investor diberikan lahan dengan kontrak selama 35 tahun untuk dapat memproduksi garam.

Sehingga diharapkan dari proyek ini industri garam nasional mampu meningkatkan nilai tambahnya secara keseluruhan dan sekaligus membuktikan bahwa garam kualitas industri dapat diproduksi di dalam negeri.

Sofyan menjelaskan dalam rapat ini semua investor diminta memberikan laporan perkembangan terkait produksi garam. Dia mengatakan laporan tersebut menunjukkan perkembangan yang baik dari proyek ini.

Baca Juga: Saingi Australia, China Siap Banjiri Garam ke Indonesia

"Kelihatannya cukup menggembirakan dari berbagai perusahaan yang sudah investasi di Malaka, di Timor Tengah Utara, Timur Tengah Selatan kemudian yang di Rote kelihatannya cukup meyakinkan. Sehingga kita yakin kalau diikuti terus begini mudah-mudahan bisa tercapai targetnya," jelas dia.

Dia mengatakan hingga saat ini yang masih terkendala mengenai lahan adalah di wilayah Kupang. Menurutnya hal ini akan segera diselesaikan.

"Kita akan selesaikan dengan pendekatan saja dengan masyarakat aja. Untuk lahan NTT mereka sudah maju mereka sudah bikin pabrik," jelas.

Baca Juga: Manfaatkan 225 Ha Lahan Terlantar, Ternyata Bisa Tekan Impor Garam

Sekedar diketahui, NTT dipilih menjadi pilot project produksi penggaraman karena daerah tersebut berpotensi untuk dikembangkan menjadi kawasan lahan penggaraman modern antara lain di Teluk Kupang, Sabu Raijua, Negekeo, Ende dan Waingapu.

Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) memperkirakan NTT memiliki lahan potensial sebesar 15 ribu hektare, dengan pembangunan lahan pergaraman secara modern maka potensi produksi garam industri dari provinsi itu diperkirakan mencapai 1,5 juta ton per tahun. Saat ini Indonesia masih harus mengimpor garam industri terutama dari Australia sebanyak 1,8 ton per tahun.

(kmj)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini