Image

RAHASIA SUKSES: Tugas Berat Jeff Clarke Hindarkan Kodak dari Kebangkrutan

Martin Bagya Kertiyasa, Jurnalis · Minggu 14 Januari 2018, 18:05 WIB
https: img-k.okeinfo.net content 2018 01 14 320 1844727 rahasia-sukses-tugas-berat-jeff-clarke-hindarkan-kodak-dari-kebangkrutan-omoNjx8X2z.jpg Ilustrasi (Foto: Lemonde)

JAKARTA - Era digital memang menghasilkan banyak peluang bagi para entrepeneur untuk menghasilkan bisnis-bisnis baru. Namun, layaknya pedang bermata dua, era digital juga membuat beberapa industri dipaksa berevolusi atau mati.

Salah satunya adalah Kodak, yang mengajukan perlindungan kebangkrutan pada 2012 setelah pergeseran ke gambar digital. Kini, perusahaan ini memperjuangkan masa depannya pada mata uang digital dengan penawaran koin awal yang dimaksudkan untuk membantu fotografer menjual pekerjaan mereka. 

Kodak, yang berbasis di Rochester, New York, berhasil bangkit dari kebangkrutan pada 2013, setelah sebagian besar utang dan hak patennya dijual. Bisnis merka, percetakan digital, kemasan dan bisnis film hanya menjadi bayangan kejayaan masa lalu, yang sekarang tidak lagi memberikan hasil.

Penjualan turun 30% dalam tiga tahun pertama setelah perlindungan kebangkrutan. Penjualan kembali turun 8% lagi dalam tiga kuartal pertama tahun 2017, menjadi USD1,1 miliar. Sementara kapitalisasi pasar perusahaan, yang mencapai USD30 miliar pada puncaknya di akhir 1990-an, turun menjadi hanya USD135 juta.

 Baca Juga: RAHASIA SUKSES: Evan Williams, Inovator Pendiri Twitter yang Kantongi USD1,72 Miliar

Kodak pun beralih pada platform blockchain dan menawarkan koin digital, setelah Bitcoin melonjak 14 kali lipat pada 2017. Pada Desember, saham Little Longed Itced Tea tiga kali lipat setelah mengubah nam amereka menjadi Long Blockchain.

Adalah Jeffrey J. Clarke, CEO Kodak yang telah mengubah core bisnis mereka dan akan mengambil apapun yang dia bisa dapatkan. Namun, dia masih harus menjual aset untuk membayar utang sebesar USD845 juta. Lewat platform blockchain ini, dia bisa memberi fotografer cara yang lebih baik untuk memberi lisensi gambar mereka dan menerima pembayaran. 

Dia meraih gelar sarjana ekonomi dari Universitas Negeri New York di Geneseo pada tahun 1983 dan gelar master dalam administrasi bisnis dari Northeastern University pada tahun 1985. 

Clarke sendiri lahir di Ithaca dan dibesarkan di Hamilton, sebuah desa dan kota di Madison County sebelah timur Syracuse. Di masa kecilnya, Clarke seperti banyak anak laki-laki yang tumbuh dewasa. Berasal dari kota kecil Hamilton, New York, dia menjadi penggemar baseball. Dia adalah penggemar setia Cincinnati Reds dan tim Triple-A. Dia pun secara telaten menyimpan catatan tentang segala hal yang berkaitan dengan tim, seperti rata-rata pukulan di sebuah folder dan folder statistik. 

Baca Juga: RAHASIA SUKSES: Evan Williams, Inovator Pendiri Twitter yang Kantongi USD1,72 Miliar

Setelah masuk di Hamilton Central High School, Jeff pun mengikuti tim bisbol dan tim bola basket, meskipun dia agak pendek. Jeff pun kerap terlibat banyak aktivitaas di sekolah, sebagai pemimpin kelas hingga sebagai atlet. 

Saat kuliah, dia pergi ke barat tapi tidak terlalu jauh ke barat - ke State University College di Geneseo, sebelah selatan Rochester di Livingston County. Dia belajar ekonomi dan lulus pada tahun 1983.

Tidak heran, ketika memimpin Kodak dia digambarkan sebagai pebisnis cerdas dan analitis, yang tahu bagaimana berhubungan dengan orang-orang di semua tingkat. Clarke digambarkan sebagai pemimpin bisnis yang ramah, tidak seperti kebanyakan mereka yang telah memimpin Kodak belakangan ini, namun tetap pendidikan dan peka.

Meski tengah mengurusi bisnis Kodak, tapi Clarke terus mencari cara untuk tetap terlibat dengan almamaternya, bergabung dengan dewan direktur Geneseo Foundation. Yayasan ini memberikan beasiswa kepada mahasiswa sarjana dan pada umumnya membantu sekolah tersebut mencapai misi pendidikannya.

Lewat pengalaman bisnis Clarke yang luas, dimulai dengan bisnis tradisional (Hewlett-Packard) dan perusahaan-perusahaan lebih menyukai dunia online (Travelport and Orbitz). Clarke pun dianggap sesuai memimpin Kodak, karena dianggap mampu menjalin bisnis tradisional di era digital.

Baca Juga: RAHASIA SUKSES: Evan Williams, Inovator Pendiri Twitter yang Kantongi USD1,72 Miliar

Pasalnya, Clarke berbicara tentang gelombang teknologi dan globalisasi dalam bisnis dan mengatakan kepada lulusan bahwa "penghancuran kreatif" adalah kunci keberhasilan ekonomi di masa depan. Clarke menggambarkan penghancuran kreatif sebagai cara ekonomi pasar yang terbaik karena perubahan teknologi.

Menurutnya, industri, perusahaan dan pekerjaan digantikan oleh teknologi baru. Proses penghancuran kreatif menghasilkan pemenang dan pecundang. Dampaknya bukan hanya masalah bisnis atau ekonomi, tapi juga mempengaruhi kehidupan, individu, keluarga, serikat pekerja, masyarakat. 

Clarke sendiri mengambil pekerjaan di Kodak sebagian karena dia menyukai tantangan. Dia pun dianggap sebagai tipe pengusaha yang ingin membalikkan keadaan pada perusahaan yang tengah jatuh seperti Kodak. Clarke bukanlah orang yang tertarik pada keuntungan jangka pendek, dia berusaha melihat ke masa depan dan mendapatkanya. (yau)

(rhs)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini