Image

Impor Beras Diperlukan untuk Jaga Keseimbangan Harga dan Pasokan

Anisa Anindita, Jurnalis · Minggu 14 Januari 2018 15:08 WIB
https: img-z.okeinfo.net content 2018 01 14 320 1844728 impor-beras-diperlukan-untuk-jaga-keseimbangan-harga-dan-pasokan-7kA3Mi9Jpr.jpg Ilustrasi (Foto: Okezone)

JAKARTA - Harga beras medium terus melonjak hingga melampaui Harga Eceran Tertinggi (HET) senilai Rp9.450 per kilogram (kg).Tingginya harga beras yang kini mencapai kisaran Rp12.000 per kg disebabkan pasokan beras yang terus berkurang di pasaran.

Peneliti Senior Center for Strategic and International Studies (CSIS) Yose Rizal Damuri menyatakan, ada yang tidak tepat dalam kebijakan pemerintah mengenai perberasan sehingga berdampak pada tingginya harga beras saat ini. Pasalnya pemerintah mengambil dua peran, yang menurut Yose tak mungkin dapat dilakukan, yakni mengontrol harga dan volume beras.

 Baca juga: Kementan: Impor Beras Khusus 500.000 Ton Hanya untuk 5 Hari

Seperti diketahui, pemerintah telah menetapkan HET Beras yang diberlakukan sejak 1 September 2017 lalu. Pemberlakuan tersebut tertuang dalam Peraturan Menteri Perdagangan Nomor 57 Tahun 2017 tentang Penetapan Harga Eceran Tertinggi Beras. Aturan tersebut turut menjangkau pasar tradisional setelah pasar modern menerapkannya.

Dia menjelaskan pemerintah hanya bisa mengambil satu peran, yakni memilih antara mengontrol harga atau mengontrol volume beras.

 Baca juga: Impor Beras 500.000 Ton Mendag Pastikan Tak Pakai APBN

"Kita hanya bisa mengontrol satu faktor saja. Kalau pemerintah melakukan kontrol atas harga maka pasokan pasti akan terbatas, jadi akan perlu impor. Kalau pemerintah melakukan HET, impor akan diperlukan," ungkap Yose saat dihubungi Okezone, Minggu (14/1/2018).

Sebaliknya, kata Yose, jika impor dilarang maka akan berdampak pada kenaikan harga beras. Maka kebijakan melalui HET yang dilaksanakan pada September lalu pasti takkan bisa terlaksana.

 Baca juga: Soal Beras Impor, Mentan: Tanya ke Mendag!

"Jadi ini bukan masalah nawacita ataupun kampanye. Tapi masalah kebijakan yang mustahil untuk dilaksanakan. Kalau mau harga rendah maka pasokan harus tersedia, yang tidak dapat hanya dari domestik. Kalau sebaliknya pilihannya adalah tidak melakukan impor, maka harga harus naik dan banyak orang yang dikorbankan, terutama bagi penduduk miskin," paparnya.

Maka kata dia, yang paling tepat adalah mencabut kebijakan HET pada beras. Selain itu menjaga pasokan beras tetap terjaga dengan keakuratan data.

"Ini tentu saja harus diback-up dengan data perberasan yang baik," jelas dia.

(rzy)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini