Image

Impor Beras Harusnya Dilakukan Sejak Juli 2017

Yohana Artha Uly, Jurnalis · Minggu 14 Januari 2018, 20:24 WIB
https: img.okeinfo.net content 2018 01 14 320 1844798 impor-beras-harusnya-dilakukan-sejak-juli-2017-9hMaCX4b3Z.jpg Ilustrasi (Foto: Okezone)

JAKARTA - Pemerintah melalui Kementerian Perdagangan memutuskan untuk membuka keran impor beras sebanyak 500.000 ton yang berasal dari Thailand dan Vietnam. Melalui perantaraan PT Perusahaan Perdagangan Indonesia (PPI), beras berjenis khusus ini dikatakan akan tiba pada akhir Januari 2018.

Pengamat Pertanian Institut Pertanian Bogor (IPB) Dwi Andreas Santoso menilai adalah keputusan yang tepat pemerintah melakukan impor beras. Menurutnya, hal ini dengan melihat pergerakkan harga beras yang sejak awal Januari terpantau merangkak naik.

 Baca juga: Impor Beras Disarankan untuk Cadangan Pemerintah

"Kalau dari sisi pergerakkan harga, ini sudah terlalu tinggi yah. Sejak awal Januari itu pergerakkan (harga) bahkan secara harian, sekitar Rp50. Di Jakarta Rp50 sampai Rp200. Cukup cepat kenaikannya, sehingga dari sisi itu maka kebijakan dibilang tepat," jelas Andreas kepada Okezone, Minggu (14/1/2018).

Kendati demikian, dia menilai keputusan ini sangat terlambat mengingat harga beras medium sudah melonjak tinggi terlebih sudah hampir mendekati musim panen raya yakni pada Maret-April mendatang.

 Baca juga: Impor Beras Diperlukan untuk Jaga Keseimbangan Harga dan Pasokan

"Beras impor saya khawatirkan mendekati panen raya, akhir Februari, padahal Maret itu sudah panen raya, keefektifan kebijakan ini justru saya pertanyakan," tukasnya.

Andreas menyatakan, harusnya pemerintah mempertimbangkan impor beras pada kisaran bulan Juli-Agustus 2017. Pasalnya, kata dia, stok beras pada masa itu sudah mulai mengalami pengurangan. Hal itu terlihat dari stok gabah yang dipegang petani semakin berkurang, terlebih penggilingan-penggilingan beras kecil juga sudah tak mendapatkan gabah pada saat itu.

 Baca juga: Kementan: Impor Beras Khusus 500.000 Ton Hanya untuk 5 Hari

"Harusnya diputuskan jauh sebelumnya, di 2017 pada bulan April harga beras sudah turun, tetapi hanya bulan April, bulan Mei-Juni naik walaupun kecil. Lalu bulan Juli turun tapi kecil," sebut dia.

Penurunan pada bulan Juli ini, kata Andreas, disebabkan adanya penertiban oleh Satuan Petugas (Satgas) Pangan pada gudang-gudang penyimpanan beras guna mengeluarkan seluruh berasnya. Hal ini dimaksudkan menekan harga beras yang saat itu mencapai Rp10.700 per kg ke level Rp9.000 per kg.

"Sehingga pedagang-pedagang kelakuan, tapi di sisi lainnya di bulan Juli. Pada saat itu teman-teman petani juga sudah ada masalah, karena stok-stok yang dipegang petani mulai berkurang, penggilingan-penggilingan beras kecil sudah enggak mendapatkan barang pada saat itu, mulai Juli - Agustus," paparnya.

Dia menjelaskan, penertiban yang dilakukan Satgas Pangan pada gudang-gudang juga membuat pedagang tak bisa melakukan manajemen stok karena harus mengeluarkan semua pasokannya untuk di jual.

"Karena tidak lagi ada manajemen stok, kalau ada itu bisa gampang mengelola. Maka, saya sudah kira pada satu titik tertentu akan meledak. Tanda-tandanya sudah mulai Oktober, naiknya mulai tinggi ke November, Desember, dan meledak di Januari," ucapnya.

Oleh sebab itu, kata dia, penting untuk pemerintah segera menindaklanjuti kenaikan harga. Pasalnya beras merupakan komoditas yang menjadi bahan pangan pokok bagi masyarakat Indonesia.

"Tentu lonjakan terlalu tinggi harus diantisipasi baik, salah mengelola beras itu dampak sosial dan politiknya terlalu berat," jelasnya.

(rzy)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini