nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Rawan Gempa Bumi, Pembangunan Gedung Harus Berlebel SNI

Giri Hartomo, Jurnalis · Jum'at 26 Januari 2018 16:15 WIB
https: img-z.okeinfo.net content 2018 01 26 470 1850700 rawan-gempa-bumi-pembangunan-gedung-harus-berlebel-sni-PVnx5MGstI.jpeg Foto: Giri/Okezone

JAKARTA - Pemerintah melalui Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) menyebut Indonesia merupakan salah satu negara yang rawan akan gempa. Bahkan berdasarkan data, jumlah titik gempa di Indonesia meningkat dari 85 pada tahun 2010 menjadi 295 pada tahun 2017.

Dari 295 titik tersebut, Indonesia bagian timur menjadi daerah yang paling rawan gempa, lalu menyusul daerah utara pulau Jawa (Pantura). Sementara pulau yang paling aman dari gempa disematkan kepada Kalimantan.

Menanggap hal tersebut, Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Kementerian PUPR Danis Sumadilaga mengatakan pihaknya akan menerapkan standar konstruksi gedung sesuai Standar Nasional Indonesia (SNI). Nantinya, para kontraktor harus membangun sesuai SNI tersebut guna mengantisipasi gedung-gedung rusak akibat gempa.

Baca Juga: Kementerian PUPR: Kalimantan Jadi Daerah Paling Aman Gempa

"Tapi yang pasti kondisi yang ada meningkatkan awareness terhadap gempa yang bisa terjadi kapan saja bukan hanya di Jakarta," ujarnya saat ditemui di Kantor Kementerian PUPR, Jakarta, Jumat (26/1/2018).

Lebih lanjut, Danis mengatakan dengan penerapan SNI, kontraktor harus memenuhi beban minimum untuk perencanaan bangunan gedung. Selain itu, bahan baku konstruksi seperti beton juga harus benar-benar diperhatikan karena harus sesuai dengan SNI 1726 2012.

"Jakarta yang harus melalui tim ahli bangunan gedung yang diatas 8 lantai, yang harus melalui pengujian pada saat perencanaan melalui uji dari tim ahli gedung. Kalau jumlah gedung banyak sekali yang bisa kita lakukan pengecekan kembali," jelasnya.

Selain gedung-gedung bertingkat, nantinya pihaknya juga akan melakukan pengecekan dan sosialisasi kepada gedung-gedung dibawah 8 lantai agar kuat menahan guncangan gempa. Pasalnya, guncangan gempa tak hanya merobohkan gedung bertingkat melainkan juga gedung, rumah hingga ruko yang hanya memiliki dua lantai.

Baca Juga: Gempa 6,4 SR, Pegawai Kementerian BUMN Berhamburan Keluar Gedung

"Gempa jangan bicara gedung yang tinggi rumah rumah juga sebagainya. Contohnya pengalaman saya terakhir di Aceh itu rumah rumah masyarakat dan ruko yang dua lantai juga rubuh. Tapi ini kesadaran masyarakat semua memahami resiko," jelasnya.

Flyover Surapati Bandung Anti Gempa

Direktur Jembatan Direktorat Jenderal Bina Marga Kementerian PUPR Iwan Zarkasih mengatakan salah satu jembatan yang menurut dirinya untuk mengantisipasi gempa adalah flyover Suropati di Bandung. Menurutnya, jembatan tersebut memiliki peredam seperti lockup device yang bisa mendeteksi guncangan yang kencang.

"Ada satu jembatan di Bandung di Pasopati itu kita gunakan sistem peredam seperti lockup device," jelasnya.

Baca Juga: Pasca-Gempa, Rehab Kantor Gubernur Sumbar Ditargetkan Selesai September

Menurutnya, ada kemungkinan teknologi tersebut akan diterapkan di jembatan lainnya. Khususnya pada jembatan-jembatan di daerah rawan gempa seperti Yogyakarta.

"Kita sudah melakukan beberapa perbaikan dengan melakukan flexibilitas sehingga dia bisa bercompability dengan gempa. Nah bagaimana menciptakan teknologi yang ikut bergoyang adalah dengan teknologi mengadopsi," jelasnya.

(ulf)

(rhs)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini