nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Pertamina Akan Garap Kilang Bontang Bersama Perusahaan Minyak Oman

Ulfa Arieza, Jurnalis · Selasa 30 Januari 2018 16:29 WIB
https: img-o.okeinfo.net content 2018 01 30 320 1852237 pertamina-akan-garap-kilang-bontang-bersama-perusahaan-minyak-oman-Y3hstjl9aS.jpg Ilustrasi. (Foto: Shutterstock)

JAKARTA - PT Pertamina (Persero) akhirnya menetapkan mitra untuk pembangunan kilang baru atau Grass Root Refinery (GRR) Bontang, Kalimantan Timur. Mitra tersebut adalah perusahaan minyak asal Oman, yakni Overseas Oil and Gas LLC (OOG).

Namun, OOG tidak sendiri mengerjakan kilang tersebut. Perusahaan tersebut akan menggandeng perusahaan perdagangan Cosmo Oil International Pte Ltd (COI), yang merupakan trading arm dari Cosmo Energy Group, salah satu perusahaan pengolahan minyak ternama di Jepang.

Direktur Megaproyek Pengolahan dan Petrokimia Pertamina, Ardhy N Mokobombang, penunjukan konsorsium dilakukan dengan pertimbangan antara lain OOG mendapatkan dukungan penuh dari pemerintah Oman untuk pendanaan proyek, dan penyediaan pasokan minyak mentah. Selain itu, mereka juga memiliki kemitraan strategis dengan COI dalam hal dukungan teknis dan pemasaran produk.

Proses pemilihan ini dilaksanakan berdasarkan skema penugasan pemerintah melalui Keputusan Menteri ESDM 7935 K/10/MEM/2016 tanggal 9 Desember 2016.

"Bahwa konsorsium nantinya di-backup Oman, demikian juga crude supply dari Oman. Kemudian nanti untuk technical support marketing dari Cosmo Oil International, baik crude maupun trading arm," ujarnya di Kantor Pusat Pertamina, Jakarta, Selasa (30/1/2018).

Baca juga: Mega-Proyek Kilang Pertamina Delay, Arcandra Tahar: Masih Terkendala

Ardhy melanjutkan, nilai proyek pembangunan ini diperkirakan akan mencapai USD10 miliar atau sekira Rp130 triliun. Rencananya, melalui kolaborasi ini akan dibangun kilang di Bontang dengan kapasitas 300 ribu barel per hari (bph).

Kerjasama Pertamina dengan konsorsium akan berbentuk Joint Venture (JV). Nantinya, Pertamina dari sisi finansial Pertamina tidak ikut mendanai proyek.

Meski demikian, Pertamina akan mendapatkan jatah saham sebesar 10% sebelum Final Investment Decision (FID). Namun setelah FID, Pertamina akan melakukan review kembali terkait dengan porsi saham untuk ditingkatkan atau tetap sebesar 10%.

Baca Juga: Mega Proyek Kilang Pertamina Delay, Menko Luhut : Dulu Hitungnya Kurang Hati-Hati!

"Kerjasama ini nanti fully funded oleh konsorsium. Pertamina dalam hal ini tidak sertakan permodalan namun dapatkan minimum 10% share sebagai keikutsertaan di konsorsium," jelas dia.

Ardhy menambahkan, kerjasama ini tidak memiliki batas waktu. Namun, biasanya skema yang dilakukan adalah kerjasama 30 tahun dengan peluang tambahan waktu 20 tahun berdasarkan kondisi lahan.

Dia melanjutkan, Pertamina juga berhak memasok hingga 20% dari minyak mentah GRR Bontang. Sedangkan dari sisi product offtake, Pertamina tidak memberikan jaminan offtake serta Pertamina bersedia bekerjasama untuk joint marketing.

"Jadi, kalau ada excess produk dan butuh marketing ekspor, nanti konsorsium yang akan melakukan ekspor. Kalau dalam negeri ada demand Pertamina akan ambil sesuai porsi secara marketing business to business konsorsium untuk dipasarkan di dalam negeri," kata dia.

Rencananya, setelah beroperasi Kilang Bontang nantinya akan memproduksi gasoline dan avtur, dengan fokus utama untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri.

Untuk tahapan selanjutnya, Pertamina dan mitra terpilih akan menandatangani Frame Work Agreement yang dilanjutkan dengan Feasibility Study (FS), yang akan diselesaikan pada pertengahan 2019, dan dilanjutkan dengan penyusunan engineering package (FEED) hingga akhir 2020. Ditargetkan kilang Bontang beroperasi pada 2025. (mrt)

1 / 2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini