Image

Harga Komoditas Naik, Pemulihan Ekonomi Domestik Berlanjut

Koran SINDO, Jurnalis · Senin 12 Februari 2018 10:37 WIB
https: img-k.okeinfo.net content 2018 02 12 320 1858164 harga-komoditas-naik-pemulihan-ekonomi-domestik-berlanjut-KWbAcJOVBt.jpg Ilustrasi: (Foto: Okezone)

JAKARTA – Momentum pemulihan ekonomi Indonesia diperkirakan berlanjut. Pertumbuhan ekonomi hingga kuartal IV/2017 tidak hanya lebih tinggi dari kuartal sebelumnya, tapi juga mempunyai struktur membaik dengan investasi dan ekspor yang tumbuh tinggi.

Deputi Gubernur Senior BI Mirza Adityaswara mengatakan, daerah penghasil komoditas juga tumbuh tinggi, seperti di Sumatera, Kalimantan, dan Sulawesi. ”Ketiganya sebagai daerah penghasil komoditas yang mencatat pertumbuhan relatif tinggi sejalan dengan peningkatan harga komoditas,” ujar Mirza di Jakarta. Sementara itu, inflasi tahun 2017 juga tercatat terkendali pada level rendah di ki saran 4 plus minus 1%. Secara keseluruhan tahun, inflasi 2017 mencapai 3,61% (yoy).

Baca Juga: Fakta Ekonomi Indonesia 2017, dari BPS, IMF hingga Morgan Stanley

Dengan perkembangan ini, inflasi dalam tiga tahun berturut turut berhasil dikendalikan dalam kisaran sasaran. Sedangkan pada Januari 2018, IHK berada dalam level 3,25% (yoy) dan sebesar 0,62% (mtm). Adapun neraca pembayaran Indonesia kuartal IV/2017 tercatat surplus sebesar USD1,0 miliar. Deputi Direktur Departemen Komunikasi BI Junanto Herdiawan mengatakan, hal tersebut ditopang oleh transaksi modal dan finansial yang mencatat surplus cukup besar, terutama bersumber dari investasi langsung dan investasi portofolio. Sementara defisit transaksi berjalan tetap terkendali dalam batas aman.

Baca Juga: Wapres JK Ingatkan Penguatan Ekonomi di Tahun Politik

”Dengan perkembangan tersebut, posisi cadangan devisa pada akhir Desember 2017 meningkat menjadi USD130,2 miliar atau tertinggi dalam sejarah,” ujarnya. Menurut dia, cadangan devisa tersebut cukup untuk membiayai kebutuhan pembayaran impor dan utang luar negeri pemerintah selama 8,3 bulan serta berada di atas standar kecukupan internasional. Surplus transaksi modal dan finansial ditopang oleh optimisme terhadap prospek ekonomi domestik dan menariknya imbal hasil keuangan domestik. Sementara surplus transaksi modal dan finansial pada kuartal IV/2017 tercatat sebesar USD6,5 miliar, terutama bersumber dari surplus investasi langsung dan investasi portofolio.

Baca Juga: Industri Pengolahan Nonmigas Tumbuh 5,14%, Berperan ke Ekonomi RI

Namun, surplus transaksi modal dan finansial tersebut lebih rendah dibandingkan dengan surplus pada kuartal sebelumnya. Dia menuturkan, lebih rendahnya surplus pada kuartal IV/2017 disebabkan menurunnya surplus investasi langsung seiring dengan out-flow investasi langsung di sektor migas. Selain itu, menurunnya surplus investasi portofolio sebagai dampak keluarnya dana asing dari instrumen surat berharga berdenominasi rupiah sehubungan dengan adanya ketidakpastian dari sektor eksternal pada awal kuartal IV/2017. Adapun defisit transaksi berjalan masih terkendali dalam batas aman meski mengalami peningkatan dibanding kuartal sebelumnya. Defisit transaksi berjalan kuartal IV/2017 tercatat sebesar USD5,8 miliar (2,2% dari PDB) atau lebih tinggi dibandingkan kuartal sebelumnya sebesar USD4,6 miliar (1,7% dari PDB).

”Peningkatan defisit tersebut disebabkan oleh penurunan surplus neraca perdagangan barang yang disertai peningkatan defisit neraca jasa,” katanya. Lebih rendahnya surplus neraca perdagangan barang bersumber dari kenaikan impor seiring menguatnya kebutuhan domestik untuk investasi dan kegiatan produksi yang melampaui kenaikan ekspor. Sementara kenaikan defisit neraca jasa, terutama disebabkan meningkatnya defisit jasa transportasi sejalan dengan kenaikan impor barang. Untuk keseluruhan tahun, kata dia, NPI 2017 mencatat surplus relatif besar dengan defisit transaksi berjalan yang terus membaik dan terkendali di bawah 2,0% dari PDB.

Surplus NPI 2017 tercatat sebesar USD11,6 miliar ditopang oleh surplus transaksi modal dan finansial yang meningkat dibandingkan dengan tahun sebelumnya, terutama dalam bentuk investasi langsung dan investasi portofolio, sejalan dengan membaiknya persepsi investor terhadap prospek perekonomian domestik. ”Sementara defisit transaksi berjalan tahun 2017 tercatat sebesar USD17,3 miliar atau 1,7% dari PDB, lebih rendah dibandingkan defisit tahun sebelumnya yang sebesar 1,8% dari PDB,”ungkap Junanto. Direktur Eksekutif Center of Reform on Economics (CORE) Mohammad Faisal mengatakan, kondisi global sepanjang tahun 2017 sebenarnya cukup kondusif untuk mendorong pertumbuhan ekonomi lebih tinggi lagi. Namun sayangnya, tidak diikuti dengan kondisi ekonomi domestik.

”Artinya kondisi global yang kondusif tidak dimanfaatkan dengan perbaikan dari sisi domestik dalam negeri. Konsumsi rumah tangga masih di bawah 5% dan dari belanja pemerintah juga paling rendah,”ujarnya. Menurut dia, target pertumbuhan ekonomi 2018 yang sebesar 5,4% diperkirakan sulit tercapai. Meski diperkirakan akan ada peningkatan dari konsumsi rumah tangga, tapi tidak terlalu signifikan. ”Terutama didorong oleh konsumsi di golongan menengah ke bawah yang kami perkirakan akan terbantu dengan program-program pemerintah. Tapi untuk kelas menengah ke atas belum ada tanda-tanda pulih,” ungkapnya.

Direktur Eksekutif Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) Eny Sri Hartati mengungkapkan, ekonomi Indonesia mengalami stunting atau pertumbuhannya lamban akibat kekurangan gizi dan lingkungan yang tidak sehat. ”Gizi kurang karena insentif untuk industri tidak berkecukupan, sedangkan lingkungan tercermin oleh semakin dibanjirinya pasar dalam negeri oleh produk-produk impor,”katanya. Dalam berbagai situasi, kata dia, pemerintah pun sering kali menempuh strategi impor untuk memenuhi kebutuhan mendasar, seperti beras, bawang, bahkan garam. Kondisi demikian menggambarkan buruknya tata kelola ekonomi domestik sehingga pada gilirannya berdampak terhadap kebijakan jangka pendek.

Selain itu, berbagai keperluan untuk menunjang pembangunan infrastruktur dan pengadaan barang pemerintah juga lebih kental aroma impor ketimbang memprioritaskan industri dalam negeri. ”Terlebih, dependensi impor Indonesia sangat tinggi. Hal ini menggambarkan lemahnya kemandirian ekonomi nasional,”ujarnya.

Menurut dia, Indonesia mengimpor berbagai jenis produk, baik untuk kebutuhan produksi maupun konsumsi. Sebagian besar industri masih memasok bahan baku maupun penolong dari impor. ”Padahal bahan-bahan tersebut sebagian besar berasal dari komoditas ekspor Indonesia yang telah diolah di negara lain,”ujarnya.

(Kunthi Fahmar Sandy)

1 / 2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini