Image

TREN BISNIS: Go-Jek Disuntik Triliunan Rupiah hingga Kuatnya Perbankan RI

Keduari Rahmatana Kholiqa, Jurnalis · Rabu 14 Februari 2018 06:42 WIB
https: img-k.okeinfo.net content 2018 02 13 320 1859067 tren-bisnis-go-jek-disuntik-triliunan-rupiah-hingga-kuatnya-perbankan-ri-lNkl2Ekkda.jpg Ilustrasi: (Foto: Okezone)

JAKARTA – Grup Astra dan kelompok usaha Djarum kemarin dalam waktu hampir bersamaan mengumumkan investasi triliunan rupiah di Go-Jek. Perusahaan yang berawal dari layanan ojek online itu bertekad memanfaatkan sebagian dana untuk mendukung usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) yang menjadi mitranya.

Sementara itu, Perum Bulog telah melakuan impor beras untuk menstabilkan lonjakan harga beras beberapa waktu lalu. Saat ini, sudah ada 57 ribu ton beras asal Vietnam yang masuk ke Indonesia.

Lalu, ada Bank Indonesia (BI) yang menilai ketahanan industri perbankan tetap kuat. Hal ini tercermin pada rasio kecukupan modal (Capital Adequacy Ratio/CAR) perbankan tercatat sebesar 23,2% pada November 2017 dan rasio likuiditas (DPK) berada pada level 22,3%.

Ketiga berita tersebut menjadi berita yang banyak menarik minat para pembaca di kanal Okezone Finance. Untuk itu, berita-berita tersebut kembali disajikan secara lengkap.

Disuntik Rp2 Triliun, Go-Jek Siap Kembangkan UMKM

Grup Astra dan kelompok usaha Djarum menjawab tantangan yang sebelumnya menyebut investor lokal cenderung enggan menyuntikkan modal di perusahaan start up dalam negeri. Namun, Astra dan Djarum membuktikan bahwa dua perusahaan konglomerasi itu sanggup menggelontorkan investasi ke Go-Jek. Astra menanamkan modal sebesar USD150 juta atau sekitar Rp2 triliun dalam kesepakatan tersebut. Sedangkan Djarum yang berinvestasi melalui anak usahanya, PT Global Digital Niaga (GDN), kendati tidak menyebutkan angkanya, meyakini kerja sama tersebut akan dapat membantu dua pihak dalam mengembangkan ekonomi digital.

Dalam beberapa tahun terakhir, Go-Jek menjadi incaran investor besar untuk membenamkan investasinya. Tak tanggung-tanggung, daya tarik perusahaan yang didirikan oleh Nadiem Makarim itu berhasil mendatangkan Tencent, JD.com, KKR, Warburg Pincus, Sequoia Capital, Northstar Group, DST Global, dan NSI Ventures. Raksasa internet global Alphabet, induk usaha Google, bahkan belum lama ini mengumumkan komitmennya untuk mendanai Go-Jek senilai hampir Rp16 triliun.

Dengan begitu, total nilai perusahaan Go-Jek diperkirakan telah mencapai USD4 miliar atau lebih dari Rp54 triliun. Setelah Astra dan Djarum berinvestasi, nilai perusahaan Go-Jek yang kini merambah bisnis pembayaran diperkirakan terus bertambah. Apalagi, pihak Astra terang-terangan menyatakan bahwa Go-Jek merupakan pemain utama dalam bidang ekonomi digital di Indonesia. ”Semua ini (kerja sama dengan Go-Jek) dilakukan guna mendorong pertumbuhan ekonomi lndonesia,” kata Presi den Direktur PT Astra International Tbk Prijono Sugiarto di Jakarta.

Astra pun berharap kolaborasi dengan Go-Jek dapat memberikan nilai tambah bagi bisnis perseroan serta mengakselerasi inisiatif di bidang digital. Hal ini sejalan dengan komitmen Astra untuk mendukung pengembangan usaha mikro, kecil, dan menengah di Indonesia. Sekadar diketahui, Astra merupakan pemain utama di pasar mobil nasional dengan menguasai 56% penjualan. Demikian juga di sektor kendaraan roda dua, Grup Astra merajai penjualan sepeda motor dengan pangsa pasar mencapai 75%. Sementara itu, kelompok usaha Djarum yang menyuntikkan dana ke Go-Jek melalui Global Digital Niaga (GDN), anak usaha Global Digital Prima (GDP), menilai Go-Jek memiliki kemampuan menghadirkan layanan online solution yang inovatif dan aplikatif sehingga menjangkau konsumen secara luas.

”Ada banyak kesamaan antara GDN dan Go-Jek yang bisa di kolaborasikan dalam hal membuka akses yang semakin luas bagi para pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) untuk berpartisipasi dalam pengembangan ekonomi digital, pengembangan jasa logistik, merchandising,” ungkap CEO PT Global Digital Niaga Kusumo Martanto. Dia menambahkan, GDN berharap kolaborasi dan sinergi yang terjadi dapat membawa dua perusahaan menjadi local champions yang maju dalam membangun ekosistem digital jadi semakin besar. GDN bukanlah nama asing di industri digital. Perusahaan tersebut mengelola toko online Blibli.com sejak 2011.

Belum lama ini GDN juga melakukan ekspansi dengan membeli saham perusahaan aplikasi tiket online yakni Tiket.com. Sementara itu, Chief Executive Officer dan Founder Go- Jek Nadiem Makarim menyebutkan, kerja sama dengan Astra merupakan awal untuk membangun ekosistem digital bersama perusahaan terbesar baik dari perusahaan digital mau pun tradisional. Dengan kolaborasi itu, dia berharap dapat membangun ekosistem digital di Indonesia yang nanti bisa berkembang menjadi superpower di sektor digital.

Terkait kerja sama dengan GDN, ujar Nadiem, sebagai sesama pemain lokal di sektor konsumer, keduanya memiliki visi yang sama untuk mendorong produktivitas dan kesejahteraan masyarakat Indonesia. GDN dan Go-Jek meyakini teknologi dapat menjadi kunci pendorong pertumbuhan ekonomi Indonesia. Saat ini jumlah pengemudi Go-Jek yang terdaftar mencapai lebih dari 1 juta pengemudi dengan lebih dari 125.000 mitra usaha, dan 30.000 penyedia jasa di platform Go-Jek, yang menyediakan berbagai jenis jasa seperti transportasi, pengantaran makanan, kurir barang, jasa kebersihan, hingga keperluan pembayaran.

”Kami memfasilitasi lebih dari 100 juta transaksi setiap bulannya,” ujar Nadiem. Kolaborasi antara Astra dan Go-Jek mendapat dukungan penuh dari Menteri Komunikasi dan Informatika Rudiantara. Menurutnya, kerja sama antar perusahaan atau organisasi yang berbasis teknologi digital dapat memberikan keuntungan untuk meningkatkan perekonomian bangsa Indonesia. ”Dengan terus meningkatkan kerja sama, kita akan mendorong penguatan ekonomi di ASEAN dan dunia. Kita adalah leadernya,” kata Rudiantara saat menyaksikan penandatanganan kerja sama Astra Go-Jek di Jakarta.

Dia menganggap, saat ini pola pikir bisnis sudah perlu beralih ke arah pemanfaatan teknologi digital. Hal tersebut di sebabkan perkembangan teknologi yang semakin cepat sehingga perlu menyesuaikan. Pengamat media industri digital dari Indonesia In formation and Communication Technology Institute (IICTI) Heru Sutadi mengatakan, kerja sama antara PT Astra Internasional Tbk dan Go-Jek Indonesia sangat tepat dan akan menguntungkan dua belah pihak. Astra sebagai perusahaan produsen kendaraan bisa menawarkan kemudahan bagi para mitra Go-Jek untuk memiliki sepeda motor maupun mobil. ”Banyak yang memperkirakan, investasi Astra ke Go-Jek tidak secara langsung, lebih ke penempatan kendaraan, karena Go-Jek bertindak sebagai penyedia platform aplikasi yang membutuhkan unit kendaraan,” urainya.

Heru mengungkapkan, strategi bisnis ini sebenarnya sudah dijalankan oleh start up lain yakni Grab Indonesia. Para mitra Grab bisa memperoleh dan memiliki unit kendaraan dengan cara mengangsur setiap bulan. Dia menjelaskan, ke depan Go-Jek akan tetap fokus pada bisnis layanan antar jemput orang mau pun barang. Di sisi lain, perlahan-lahan Go-Jek juga mu lai mengembangkan bisnis financial technology (fintech). Saat ini pengelolaan layanan keuangan Go-Jek secara digital cukup besar, di dukung mitra pengemudi yang tembus di angka 1 juta.

”Misalnya saja satu orang mitra meraih pendapatan melalui Go-Pay Rp100.000. Jika dikali 1 juta driver, itu per hari mencapai Rp100 miliar, sebulan sudah mencapai Rp3 triliun, belum lagi untuk layanan lain, jumlahnya pasti lebih banyak,” paparnya. Untuk itu, katanya, Go- Jek harus bisa mengatur secara tepat pengelolaan dana yang telah diraihnya. Di sisi lain, kepercayaan masyarakat terhadap layanan pembayaran Go-Jek secara digital juga harus di jaga. Dengan pengembangan bisnis fintech yang tepat, ke depan Go-Jek bisa menjadi perusahaan start up yang lebih besar lagi. Di sisi lain, ujar Heru, saat ini belum banyak perusahaan dari Tanah Air yang berani menyuntikkan modal ke perusahaan rintisan atau startup. Hal ini karena para investor masih mencari bentuk kerja sama model bisnis yang pas dengan pelaku usaha.

”Pemikiran investor di Indonesia, jika menanamkan investasi triliunan harus cepat untungnya, pada hal start up tidak seperti itu,” kata Heru di Jakarta kemarin.

6.000 Ton Beras Impor di Pelabuhan Merak Belum Dibongkar

Sekertaris Perusahaan Perum Bulog Siti Kuwati mengatakan, rencananya ada 281 ribu ton beras yang akan diimpor, dari rencana sebelumnya 500 ribu ton. Beras tersebut akan didatangkan dari dua negara Thailand dan Vietnam.

"Yang baru datang (57 ribu ton) itu dari Vietnam. Thailand belum sampai," tuturnya kepada Okezone.

Dia menerangkan, beras impor yang sudah datang itu merapat di beberapa pelabuhan. Seperti di Pelabuhan Tenau, Kupang, Nusa Tenggara Timur, sudah dibongkar sebanyak 10 ribu ton.

"Kemudian di Pelabuhan Merak sebanyak 6 ribu ton dengan posisi belum bongkar dan di Pelabuhan Tanjung Priok masih menunggu dok bongkar lengkap sebanyak Rp41 ribu ton," tuturnya.

Sebagai informasi, kedatangan beras impor asal Vietnam ini berbarengan dengan musim panen. Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman mengatakan, sudah mulai terjadi panen di sejumlah daerah Indonesia. Mulai dari Jawa Barat, Jawa Tengah dan Jawa Timur.

Bahkan panen pada saat ini dikhawatirkan akan membuat harga gabah kering panen di petani menurun hingga pemerintah akan membuat tim khusus agar harga tidak jatuh terlalu jauh dari Harga Pokok Penjualan (HPP).

"Kami membentuk tim sergab (serap gabah) di daerah sentral produksi, 7 provinsi. Langsung kami gerakan seluruh tim. Jangan sampai ada petani mengeluh karena harga di bawah HPP," tuturnya.

Sebelumnya, Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita menjamin padi petani di tengah panen raya sekarang hingga April 2018 akan diserap pemerintah. Walaupun sekarang impor beras melalui Perum Bulog sebanyak 500 ribu ton sudah dimulai.

Enggar mengklaim, sampai saat ini tidak ada protes dari petani soal rencana impor beras. Menurutnya, banyak petani yang setuju.

Beras impor 20.000 ton dari Thailand segera masuk ke Sumatera Utara melalui Pelabuhan Belawan pada 17 Februari 2018. Dari rencana 34.000 ton jatah Sumut, yang akan segera masuk masih 20.000 ton.

Direktur Utama Perum Bulog Djarot Kusumayakti mengatakan, untuk mengimpor beras diperkirakan butuh dana sebesar Rp 3,6 triliun. Dana tersebut setelah menghitung dari mulai harga beras, bea masuk, asuransi dan beberapa hal lainya yang diperkirakan Rp7.300.

Jumlah tersebut langsung dikalikan jumlah beras yang diimpor. Artinya Rp7.300 dikalikan 500.000 ton beras hasilnya sekitar Rp3,6 triliun.

Menurut Djarot, dana sebesar Rp3,6 triliun nantinya berasal dari kas perseroan. Adapun posisi keuangan kas Bulog saat ini sebesar Rp9,8 triliun.

Jumlah tersebut merupakan akumulasi dari kas Bulog dan juga kreditor. Dimana kreditor yang dimaksud merupakan kreditor resmi dan bukanlah suplayer.

Lebih lanjut Djarot mengatakan, nantinya proses impor tersebut dilakukan secara profesional atau business to business (B to B). Peserta yang mengikuti lelang diharuskan terdaftar sebagai asosiasi pengekspor beras di negara-negara yang telah ditunjuk.

BI: Ketahanan Perbankan Tetap Kuat

Bank Indonesia (BI) menilai ketahanan industri perbankan tetap kuat. Hal ini tercermin pada rasio kecukupan modal (Capital Adequacy Ratio/CAR) perbankan tercatat sebesar 23,2% pada November 2017 dan rasio likuiditas (DPK) berada pada level 22,3%.

Sementara per Desember 2017 rasio kredit bermasalah (Non Performing Loan/NPL) tercatat sebesar 2,6% (gross) dan NPL nett sebesar 1,2% lebih rendah dibandingkan dengan Oktober 2017, yaitu sebesar2,96% (gross) atau 1,29% (net). Deputi Gubernur Senior BI Mirza Adityaswara mengatakan, transmisi pelonggaran kebijakan moneter melalui jalur suku bunga terus berlangsung.

”Transmisi moneter dari suku bunga terus berlanjut tercermin pada penurunan suku bunga kredit dan deposito, meski belum dalam besaran yang diharapkan,” ujar Mirza.

Dia mengungkapkan, bunga deposito turun sebesar 187 bps atau turun sebesar 6,07% mulai dari Januari 2016 hingga Desember 2017. Sedangkan bunga kredit juga turun pada Januari 2016 hingga Desember 2017 sebesar 153 bps atau sekitar 11,3%.

Menurut Mirza, transmisi melalui jalur kredit pada tahun 2017 masih terbatas, sejalan dengan permintaan kredit belum tinggi dan perilaku bank yang masih selektif dalam memberikan kredit baru. Hal ini tercermin pada pertumbuhan kredit sebesar 8,15% (yoy) atau naik sebesar Rp357 triliun per Desember 2017. Adapun Dana Pihak Ketiga (DPK) per Desember 2017 naik sekitar Rp449 triliun atau naik 9,28% (yoy).

Menurut dia, sejalan dengan perkiraan perbaikan ekonomi dan penerapan kebijakan makro prudensial terkait intermediasi dan pengelolaan likuiditas. Selain itu, progres program konsolidasi korporasi dan perbankan yang ditempuh, Bank Indonesia memperkirakan pertumbuhan DPK dan kredit akan lebih baik pada 2018 masing-masing dalam kisaran 9,0-11,0% (yoy) dan 10,0-12,0% (yoy).

Mirza mengatakan, di tengah pertumbuhan kredit perbankan yang terbatas, pembiayaan ekonomi melalui pasar keuangan, seperti penerbitan saham, obligasi, dan medium term notes (MTN) terus tumbuh. Direktur Riset Center of Reform on Economics (Core) Indonesia Pieter Abdullah Redjalam menilai, kecukupan modal dan berlimpahnya likuiditas di industri perbankan Indonesia menunjukkan dua hal.

”Pertama, hal ini berarti industri perbankan kita memiliki ketahanan yang kuat. Kita bisa meyakini industri perbankan tidak akan mudah terguncang oleh krisis seperti yang terjadi pada tahun 1997/98,” katanya saat dihubungi kemarin.

Menurut dia, ini sudah dibuktikan bagaimana industri perbankan Indonesia tidak goyah meski diterpa krisis keuangan global pada tahun 2008 dan rangkaian guncangan finansial sesudahnya. Namun, selain mengindikasikan ketahanan, rasio modal dan likuiditas yang tinggi tersebut juga menyiratkan industri perbankan Indonesia belum optimal menjalankan fungsinya sebagai lembaga intermediasi.

”Rasio modal yang jauh di atas batas minimum yang ditetapkan basel, demikian juga dengan rasio likuiditas yang begitu tinggi, mengindikasikan penyaluran kredit perbankan yang tidak maksimal,” ujarnya.

Lebih lanjut dia menjelaskan, rendahnya penyaluran kredit pada tahun 2017 berarti juga rendahnya investasi sekaligus menyiratkan terbatasnya kontribusi perbankan terhadap pertumbuhan ekonomi. Meski demikian, kondisi rasio kredit bermasalah terus menunjukkan perbaikan setelah mengalami pun caknya pada tahun 2015- 2016. Upaya restrukturisasi kredit perbankan diikuti perbaikan harga komoditas secara simultan mempercepat perbaikan kondisi kredit bermasalah.

”Tahun ini harga komoditas masih menunjukkan tren kenaikan. Oleh karena itu, kita bisa berharap kondisi kredit bermasalah di industri perbankan akan lebih baik lagi,” kata dia.

Menurut Pieter, semakin membaiknya rasio kredit bermasalah sementara rasio modal likuiditas begitu tinggi seharusnya bisa dimanfaatkan perbankan untuk meningkatkan penyaluran kredit tahun ini.

”Target per tumbuhan kredit 10-12% selama 2018 sesungguhnya terlalu kecil, apabila kita mengharapkan pertumbuhan ekonomi 5,4%,” katanya.

Menurut dia, perbankan harus dipacu untuk lebih berperan mendorong pertumbuhan ekonomi. ”Jangan dibiarkan perbankan terus menjadi makhluk malas menikmati keuntungan berlimpah, sementara rakyat dan pemerintah berupaya keras mengerjakan PR yang sudah terlalu lama tidak dikerjakan, yaitu membangun berbagai infrastruktur yang sangat kita butuhkan,” katanya.

1 / 4

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini