Hunian Transit Oriented Development Maksimalkan Kawasan Padat Properti

Giri Hartomo, Jurnalis · Rabu 14 Februari 2018 12:39 WIB
https: img-z.okeinfo.net content 2018 02 14 470 1859405 hunian-transit-oriented-development-maksimalkan-kawasan-padat-properti-TVTq0RdexH.jpg Hunian TOD. (Foto: Okezone)

JAKARTA - Hunian berkonsep Transit Oriented Development (TOD) belakangan menjadi trend tersendiri dalam industri properti dalam negeri. Bahkan para pengembang swasta maupun Badan Usaha Milik Negara (BUMN) berlomba lomba untuk menyediakan hunian berkonsep TOD.

Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi mengatakan, menjadi trendnya hunian berkonsep TOD menjadi tantangan tersendiri bagi dirinya untuk menyediakan transportasi umum yang nyaman dan aman. Pasalnya, basic dari hunian berkonsep TOD adalah letaknya yang sangat dekat dengan transportasi masal.

"Skema ini memberikan waktu tempuh yang lebih pendek dengan memusatkan simpul aktivitas dan mengintegrasikan transportasi umum berbasis rel dan atau jalan," ujarnya dalam acara Pembangunan Infrastruktur Untuk TOD, Kota Baru dan Rumah Murah di Hotel Rafless, Jakarta, Rabu (14/2/2018).

"TOD biasanya merupakan penggunaan lahan campuran dengan kepadatan pengembangan properti yang tinggi," tambah dia.

Baca juga: Atasi Macet, TOD Dekatkan Hunian Masyarakat dengan Transportasi Massal

Oleh karenanya, lanjut Budi, saat ini pihaknya tengah membangun beberapa proyek infrastruktur transportasi. Sebagai contohnya adalah pembangunan Masa Rapid Transit (MRT) hingga Light Rail Transportasion (LRT) di Jakarta.

"Di Jakarta, saat ini kami telah mengembangkan banyak infrastruktur transportasi utama. Ada MRT, dua jalur LRT yaitu LRT Jabodebek dan LRT di dalam Jakarta. Untuk jalur khusus BRT ditinggikan sekarang beroperasi," ucapnya.

Selain itu, pihaknya juga tengah mengembangkan beberapa jalur kereta baru yang memiliki potensi untuk pengembangan kawasan TOD. Selain itu lanjut Budi, pihaknya juga mendorong fasilitas transportasi darat lainya untuk bisa menjangkau masyarakat saat menuju dan meninggalkan stasiun.

"Di beberapa stasiun di jalur baru ini dan juga di jalur yang ada, beberapa memiliki potensi untuk mengembangkan kawasan TOD seperti Stasiun Dukuh Atas, Stasiun Cibubur, dan Stasiun Tanah Abang. Salah satu contoh pengembangan TOD di stasiun bis ada di Terminal Poris Plawad di Kota Tangerang.

Baca Juga: Tak Tertarik Buat Hunian TOD, Jababeka Bidik Kawasan Pelosok Indonesia

Untuk mempercepat pelaksanaannya, saya sudah memberikan tugas kepada Direktur Jenderal Perkeretaapian dan Kepala Badan Pengelola Transportasi Jabodetabek (BPTJ) untuk mempercepat proses pengembangan TOD di wilayah Jabodetabek. Tentunya prosesnya harus sesuai dengan peraturan dan juga lebih di dept-koordinasi kepada pemerintah daerah dan daerah," jelasnya.

Akan tetapi, lanjut Budi, pembangunan tersebut tidak akan dilaksanakan tanpa dukungan banyak pemangku kepentingan. Oleh karenanya dirinya mengajak kepada semua stekhokser untuk terus memberi dukungan kepada Kementerian Perhubungan dalam melaksanakan pengembangan transportasi yang akan memberi kenyamanan lebih kepada pengguna transportasi.

"Tantangannya dimulai dari tahap perencanaan hingga operasi. Konsep berkelanjutan dan komitmen kuat dari para pemangku kepentingan sangat dibutuhkan. Mekanisme yang adil dalam memilih operator TOD sangat penting agar partisipasi swasta lebih lanjut," ucapnya.

(mrt)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini