nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Mobil Sedan Tak Kena Pajak Barang Mewah, Sri Mulyani: Automotif Banyak Ciptakan Lapangan Kerja

Yohana Artha Uly, Jurnalis · Rabu 21 Februari 2018 19:09 WIB
https: img-k.okeinfo.net content 2018 02 21 20 1862791 mobil-sedan-tak-kena-pajak-barang-mewah-sri-mulyani-automotif-banyak-ciptakan-lapangan-kerja-BY7AVaSzL3.jpg Menteri Keuangan Sri Mulyani. (Foto: Okezone)

JAKARTA - Menteri Keuangan Sri Mulyani mewacanakan untuk mengeluarkan mobil sedang dari barang mewah. Dengan demikian, nantinya mobil sedan tidak lagi terkena Pajak Penjualan Atas Barang Mewah (PPnBm).

Sri Mulyani menjelaskan, mobil mewah tidak lagi kena kena pajak lantaran pemerintah tengah mengembankan industri di Indonesia, terutama di bidang automotif. Menurut dia, Kementerian Keuangan (Kemenkeu) akan memberikan dukungan dari sisi fiskalnya.

"Industri automotif termasuk paling banyak mencipatakan lapangan kerja dan juga memberikan nilai tambah dalam negeri," kata dia di Hotel Mulia, Jakarta, Selasa (21/2/2018).

Baca Juga: Mobil Sedan Tak Lagi Kena Pajak Barang Mewah

Menurutnya, skema pajak tersebut akan disesuaikan dengan pengembangan industri automotiflebih lanjut, sesuai dengan template yang diberikan oleh Kementerian Perindustrian (Kemenperin). Tidak hanya mobil sedan, mobil listrik juga akan mendapatkan perlakuan khusus.

"Mobil listrik yang akan menjadi tren masa depan bukan hanya sebagai alat transportasi, tapi juga untuk mengadress isu mengenai perubahan iklim," jelasnya.

Dia melanjutkan, PPnBM adalah salah satu faktor yang bisa menjadi penghambat dari pengembangan tersebut. Meski demikian, ada faktor-faktor lainnya yang berpotensi menghambat, namun bukan ranah Kemenkeu. "Faktor lain seperti developtmennya, nanti kita liat dari Kemenperin," tukas dia.

Baca Juga: Pengusaha Mobil Minta Jokowi Pangkas Pajak Barang Mewah

Sekadar informasi, revisi struktur perpajakan industri automotif ini diyakini dapat mendorong utilitisasi dari produksi otomotif mencapai 2 juta unit per tahun. Saat ini, utilisasi produksi otomotif berada di angka 1,4 juta unit hingga 1,5 juta unit per tahun.

Apalagi, pabrik otomotif di Australia banyak yang gulung tikar sehingga menjadi pangsa pasar yang potensial bagi Indonesia. Padahal, pasar Australia mampu menyerap hingga 2 juta unit per tahun, di mana saat ini supply terbesar dari Thailand dan Jepang.

Saat ini sedan dengan kapasitas 1.500 cc dibebankan pajak PPnBm sebesar 30%.

Sebelumnya, Ketua I Gaikindo Jongkie D Sugiarto, hal ini dikarenakan pasar mobil jenis MVP terbukti dapat kuasai pasar dalam negeri, namun tarif PPnBM jenis MVP hanya 10%. Sedangkan tarif PPnBM jenis sedan dan SUV kecil masih 30%.

Selain meminta restrukturisasi masalah pajak, Gaikindo lanjut Jongkie memohon agar bea masuk anti dumping dapat ditinjau kembali. Pasalnya, ada beberapa komponen bahan baku yang masih dikenakan bea masuk anti damping, antara lain automotif steel yang belum diproduksi di Indonesia.

Tidak hanya itu, pihaknya juga meminta agar diberikan insentif bagi investor baru di industri komponen, seperti tax holiday, sehingga industri komponen dalam negeri dapat berkembang dan menguatkan struktur industri. Industri komponen, saat ini baru ada 600 perusahaan, sedangkan di negara tetangga itu di atas 2.500 misalnya Thailand itu mencapai 2.500 perusahaan.

(mrt)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini