Surat Terbuka Akhyar untuk Sri Mulyani, Ini Penjelasan Kemenkeu

Fakhri Rezy, Jurnalis · Rabu 14 Maret 2018 21:38 WIB
https: img-o.okeinfo.net content 2018 03 14 20 1872897 surat-terbuka-akhyar-untuk-sri-mulyani-utang-harus-secara-menyeluruh-PTBm65NNuR.jpg Ilustrasi (Foto: Okezone)

JAKARTA - Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani mendapat surat terbuka dari salah seorang sarjana teknik Institut Teknologi Bandung (ITB) Ahmad Akhyar. Surat yang diposting melalui sosial media tersebut membahas mengenai utang Indonesia yang sempat dibahas Sri Mulyani dalam sebuah acara.

Akhyar merasa sedih dalam pembahasan tersebut utang Indonesia dibandingkan dengan utang Jepang. Menurutnya, utang Indonesia tidak pantas dibandingkan dengan Negara Sakura tersebut.

Baca Surat Terbuka Ahmad Akhyar: Surat Terbuka Akhyar untuk Sri Mulyani soal Utang, Ini Isinya

Menanggapi hal ini, Kepala Biro Komunikasi dan Informasi Kementerian Keuangan Nufransa Wira Sakti mengatakan, pernyataan yang disampaikan oleh Sri Mulyani dengan membandingkan rasio utang Indonesia dengan Jepang lebih melihat kepada kemampuan perekonomian Indonesia (yang diukur dengan PDB) untuk meng-cover utang yang dimiliki.

"Jika dihitung, saat ini kemampuan ekonomi kita masih lebih dari 3 kalinya dibandingkan jumlah utang yang dimiliki," ujarnya di Jakarta, Rabu (14/3/2018).

Sementara itu, lanjutnya, Pemerintah berkomitmen bahwa setiap Rupiah utang yang dilakukan harus dimanfaatkan untuk membiayai kegiatan yang sifatnya produktif dan investasi dalam jangka panjang yang tidak dapat ditunda pelaksanaannya agar tidak menimbulkan kerugian lebih besar lagi di masa depan.

Baca juga: Utang RI Dijaga Tak Lebih dari 60% PDB

Berdasarkan berbagai penelitian, diyakini bahwa investasi di bidang pendidikan akan menghasilkan return sekitar 22%, sementara itu di bidang infrastruktur akan menghasilkan return 20%, jauh lebih tinggi dibandingkan biaya utang kita saat ini sekitar 6%.

"Intinya, melihat utang jangan hanya sepotong2; tapi harus secara utuh dalam konteks dan konstelasi makro ekonomi secara keseluruhan," ujarnya.

Dirinya pun sempat menjelaskan, negara-negara dengan kategori pendapatan menengah bawah, memang untuk memacu pertumbuhan ekonomi dan mengejar ketertinggalan memerlukan capital atau modal baik dari dan luar negeri.

Selama modal masuk ke negara berkembang digunakan untuk membangun yang produktif dan dengan tata kelola yang baik, maka modal tersebut berguna untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat dan mengejar ketertinggalan dari negara maju.

Oleh sebab itu, pemerintah selalu menyatakan bahwa utang dan keuangan negara harus terus dikelola dengan baik dan dengan tata kelola yang bersih. Ini bentuk pertanggungjawaban pemerintah terhadap rakyatnya.

Indonesia memang negara debitur, namun level utangnya tergolong sehat dan hingga saat ini Pemerintah tidak pernah gagal bayar, karena kita mengelolanya secara hati-hati dan terukur. Dalam hal ini Pemerintah memperhitungkan kemampuan membayar kita jauh lebih tinggi dibandingkan kewajiban di setiap jatuh tempo.

(rzy)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini