nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Maybank Sekuritas Targetkan Penjaminan Emisi Rp3 Triliun

Agregasi Rabu 14 Maret 2018 13:12 WIB
https: img.okeinfo.net content 2018 03 14 278 1872559 maybank-sekuritas-targetkan-penjaminan-emisi-rp3-triliun-RO9OV2dvgr.jpg Ilustrasi (shutterstock)

JAKARTA - Besarnya minat perusahaan untuk mencari pendanaan di pasar modal baik itu mencatatkan sahamnya di pasar modal tahun atau penerbitan obligasi, memacu PT Maybank Kim Eng Sekuritas atau Maybank Sekuritas untuk menargetkan penjaminan emisi tahun ini sebanyak 10 hingga 15 obligasi dengan nilai mencapai sebesar Rp3 triliun.

Presiden Direktur Maybank Kim Eng Sekuritas, Wilianto Le mengungkapkan bahwa saat ini makin banyak perusahaan yang tertarik untuk menerbitkan obligasi guna memenuhi kebutuhan pendanaannya meski pasar obligasi terkadang masih kerap terjadi fluktuatif. ”Ya risikonya itu bunga yang akan didaftarkan itu lebih tinggi meski ada tekanan eksternal. Cuma saya tidak melihat bahwa tekanan obligasi di Indonesia itu akan sekuat di AS. Kalau di AS kan diprediksi Fed akan menaikkan suku bunga 3-4 kali jadi konsensusnya sekitar 3," ucapnya di Jakarta, kemarin.

Selain penerbitan obligasi di pipeline perusahaan, ada juga 3 hingga 4 perusahaan kelas menengah yang akan ditangani oleh perseroan dalam melaksanakan penawaran umum perdana saham (initial public offering/IPO). "Tapi kan begini ini prosesnya bisa panjang, jadi kadang ada kendala waktu, ada hal lain sehingga walaupun kita ada pipeline di tempat kita. Kadang itu belum tentu semuanya akan tereksekusi tahun ini," jelasnya.

Disamping itu, kata Wilianto Lee, kepercayaan investor terhadap industri pasar modal Indonesia masih baik seiring dengan harapan positif terhadap ekonomi nasional. ”Kalau kita lihat, koreksi di pasar modal Indonesia, tidak setajam seperti bursa saham di Amerika Serikat dan negara-negara Asia. Itu menunjukkan cofindence investor masih terjaga," ujarnya.

Dia menambahkan bahwa kinerja industri pasar modal Indonesia yang cukup baik juga didukung dari investor lokal yang dapat mengimbangi aksi lepas saham oleh investor asing. Sepanjang tahun ini, kinerja indeks harga saham gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI) masih mencatatkan pertumbuhan 2,28%.

”Investor domestik banyak yang berinvestasi di pasar modal, sehingga saat asing menjual kondisi indeks kita turunnya tidak banyak. Itu menunjukkan confidence tetap tinggi. Kita harus percaya Indonesia memiliki pertumbuhan yang tetap bagus," tandasnya.

Selain faktor kepercayaan, Wilianto Lee juga mengatakan, harga komoditas yang meningkat turut menjadi faktor positif bagi perekonomian Indonesia. Harga komoditas yang naik itu membuat pendapatan masyarakat Indonesia membaik yang akhirnya menjaga daya beli.”Harga komoditas saat ini cukup ideal bagi Indonesia, batubara USD100 per ton, minyak USD60 per barel, palm oil sekitar USD700-800 per metrik ton. Jadi, selama harga komoditas itu terjaga dengan baik, kita di posisi yang bagus," paparnya.

Terkait tahun politik, dia menyampaikan, sebagian investor mungkin merasa khawatir situasi politik di dalam negeri bakal menghangat. Namun, saat ini masyarakat sudah tidak akan terpengaruh dengan gejolak politik. ”Pelaksanan Pilkada akan sehat, sehingga risikonya pelan-pelan akan terkikis. Dengan begitu, kepercayaan investor asing yang awalnya menjual bisa kembali masuk ke pasar saham kita lagi, sehingga IHSG masih akan kuat. Siapa yang menang atau kalah biasa saja, tidak eprlu berlebihan," katanya.

(ris)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini