nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Rupiah Terus Menguat, BI: Karena Ada "Masalah" di Amerika

Yohana Artha Uly, Jurnalis · Rabu 14 Maret 2018 17:01 WIB
https: img-z.okeinfo.net content 2018 03 14 278 1872718 rupiah-terus-menguat-bi-karena-ada-masalah-di-amerika-hFzoXAJZOS.jpg Ilustrasi: Foto Shutterstock

JAKARTA - Bank Indonesia menilai penguatan nilai tukar Rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) dalam sepekan ini akan terus berlanjut. Sebelumnya Rupiah terus mengalami tren terdepresiasi hingga sempat mencapai level Rp13.800 per USD

Pada Kamis 8 Maret 2018 lalu, Rupiah tercatat di level Rp13.816 per USD. Hari ini, berdasarkan Jisdor BI, Rupiah berada di level Rp13.739 per USD, menunjukkan penguatan 18 poin dibandingkan hari sebelumnya di Rp 13.757 per USD.

"Kami melihat bahwa pergerakan Rupiah yang dua hari terakhir positif dan mudah-mudahan bisa terus kita pertahankan hingga kembali ke level fundamental," ujar Kepala Departemen Pengelolaan Moneter BI Doddy Zulverdi di Gedung BI, Jakarta, Rabu (14/3/2018).

 Baca Juga: Agus Marto: Penguatan Dolar terhadap Rupiah Tak Akan Berlanjut

Dia menyatakan, fluktuasi nilai tukar Rupiah yang terjadi belakangan ini lebih dipengaruhi oleh faktor eksternal, terlebih oleh negara adidaya AS, di mana munculnya data-data pertumbuhan ekonomi AS terkait inflasi dan upah buruh, serta perombakan kabinet.

Namun, situasi politik pejabat The Fed, serta berita mengenai perkembangan negosiasi Brexit menjadi sentimen positif yang mendorong penguatan Rupiah.

Kemudian, faktor geopolitik mengenai pertemuan Presiden Donald Trump dengan Pemimpin Korea Utara Kim Jong-Un menekan nilai dolar AS.

 Baca Juga: Rupiah Dibuka Menguat Lagi ke Rp13.763/USD

Di sisi lain, perkiraan pasar terkait The Fed yang akan menaikkan suku bunga sebanyak tiga hingga empat kali di tahun ini, juga akan berimbas secara langsung pada nilai mata uang negara-negara di dunia. Ini akan menjadi ruang pergerakan Rupiah yang mengarah pada pelemahan. Namun, usai pertemuan The Federal Open Market (FOMC) pada 21 Maret 2018, dinilai Doddy, nilai tukar Rupiah akan lebih stabil.

"Namun, karena ini sudah mendekati pertemuan FOMC, diharapkan tren penguatan Rupiah di dua hari terkahir mengkonfirmasi ekspetasi pasar (tidak melemah lagi)," tutur Dody.

Dia pun mengatakan, BI akan terus berada di pasar sebab Rupiah belum mencerminkan fundamental perekonomian Indonesia.

 Baca Juga: BI Proyeksikan Rupiah Tidak Akan Sampai Rp15.000

Pada Februari lalu, cadangan devisa turun dari USD131,98 miliar menjadi USD128,06 miliar. Hal itu, kata Doddy sebagai bukti bahwa BI melakukan stabilisasi Rupiah dan penyediaan valuta asing untuk pembayaran utang luar negeri pemerintah.

(dni)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini